Selasa, 14 Januari 2020

"MENGHINDARI RASA BANGGA, KENDATI TERSEMBUNYI"


MENGHINDARI RASA BANGGA, KENDATI TERSEMBUNYI"
(sebuah muhasabah diri)
Oleh: Prof. Dr. Yaswirman, MA

ANGGOTA MAJELIS TARJIH DAN TAJDID
PIMPINAN WILAYAH MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT
PERIODE 2015 – 2020

Ada banyak di antara kita yang sanggup berpuasa Senin dan Kamis, ada pula yang shalat dhuha di pagi hari, bahkan yang ada pula yang sanggup tahajjud malam hari,  tapi ada di antara yang lain mungkin tidak bisa, meskipun sudah berusaha.

Tetapi ada hal lain yang sanggup dilakukan, seperti 

Kemana pun mereka berjalan bersedekah dengan murah hati.
Ada juga di antara kita tidak kuat untuk melakukan ibadah tambahan, tetapi mampu menjaga hati agar tetap bersih dan wajah ceria dan senyum terhadap sesama.
Ada pula yang bisa membuat anak gembira dan tertawa ria jika bertemu dan bercengkrama dengannya. 

Intisarinya adalah:

1. Sekali-kali jangan terbayang dalam pikiran kita bahwa orang-orang yang tidak melakukan seperti yang kita lakukan lebih rendah dari pada kita, atau tidak memiliki apa pun untuk membantu orang lain.
2. Sekali-kali jangan terpikir oleh kita bahwa ibadah kita lebih baik daripada ibadah orang lain. Ada banyak sahabat kita yg menyembunyikan atau tidak menampakkan serta menceritakan ibadahnya kepada orang lain.
3. Sekali-kali jangan biarkan kesalehan kita menumbuhkan kebanggaan tersembunyi dan terselubung dalam hati kita, karena kebanggaan dan kesombongan itu hanya kita dan Allah yang tahu.
4. Sekali-kali jangan biarkan kesalehan kita mengisolasi diri kita dari keluarga dan teman. Bahkan punya perasaan yang membuat kita merasa lebih suci dari orang lain.
Strata sosial, garis keturunan, harta melimpah, kemampuan ilmiah dalam satu atau beberapa bidang bukan kriteria untuk kesalehan kita.
Ada banyak sahabat kita di belahan dunia lain yang mungkin lebih dekat kepada Allah daripada kita karena fakta yang sederhana mereka dapat menanggung kesulitan dan mengatasi cobaan dari waktu ke waktu dibanding kita.

Penampilan dan pakaian kita bukanlah kriteria sebuah  kesalehan. Ada banyak sahabat kita yang lebih dekat dengan Allah SWT meskipun penampilannya tampak biasa-biasa saja.

Bergabungnya kita dengan sebuah jamaah atau kelompok  ilmiah mana pun, harus menjadi sarana untuk memusnahkan ego dan kebanggaan kita, tanpa memandang rendah orang lain. Karena banyak yang hatinya murni meskipun tidak bergabung dengan salah satu di atas.

Semua itu belum lah menjadi jaminan untuk tiket ke surga.

Ada orang yang berpotensi masuk surga hanya dengan memuaskan dahaga seekor binatang. Ada juga yg meluangkan waktu untuk memaafkan kesalahan semua orang setiap hari sebelum tidur.
Jadi ada banyak yang tidak ditampilkan dan disuguhkan ke depan publik, tetapi apa yang tidak disuguhkan itu  sangat berharga bagi Allah.

Ada di antara kita yang mungkin berjalan melalui lorong-lorong kecil menuju surga dengan modal sangat sedikit tetapi tulus, kendati kehadirannya tidak dianggap penting menurut yang lain, sementara yang lain dengan perbuatan yang jauh lebih besar justru menghambatnya ke surga karena ada rasa kesombongan di dalam hati.

Oleh karena itu ada banyak sebenarnya sahabat kita yg menuntun kita menuju lorong-lorong ke surga, salah satunya dengan melihat sesuatu yang baik yang ada pada orang lain dan dengan menjaga silaturahim dengannya. 

Ada banyak kisah dan contoh orang-orang biasa-biasa saja membantu mempermudah orang beraktifitas yang dinilai mulia oleh Allah , seperti menggali got yang tersumbat agar air bisa mengalir, bergabung dengan jamaah lain gotong royong dan membersihkan mesjid, menggelar tikar dan membuang sampah agar jamaah bisa nyaman beribadah, memanggil jamaah melalui adzan untuk menuju mesjid, menjaga keamanan rumah agar majikannya nyenyak tidur, menjual sayur dan kebutuhan harian agar orang kaya bisa meng-konsumsi yang bergizi, merancang dan membangun serta membersihkan  fasilitas untuk orang banyak, menahan diri untuk tidak memakai fasilitas umum untuk kepentingan diri, membuang gangguan di jalan agar orang nyaman lewat, membiayai dan mengasuh orang2 gila dengan biaya sendiri, mendidik anak2 cerdas membaca dengan membawa buku sambil berjualan sayur keliling,  dll......kisah The Heroes yang ditampilkan oleh tv swasta sangat inspiratis buat kita. Semua dilakukan dengan tulus dan berusaha menyembunyikan rasa sombong. 

"Allah tidak melihat rupa seseorang, tetapi yg dinilai oleh Allah adalah siapa yang lebih dekat kepada-Nya" (HR. Muslim).

Sabtu, 11 Januari 2020

Meluruskan Pemahaman Konsep “Khilafah”

Meluruskan Pemahaman Konsep “Khilafah”


Islam Rahmatah lil ‘Alamin ibarat sebuah bangunan yang dibangun di atas 3 (tiga) landasan (tanah bagi bangunan), yaitu: pertama, “Tauhid Rahamutiyah”, maksudnya Allah menjadi Ilah berdasarkan rahmah, menjadi Rabb berdasarkan rahmah, menjadi Maliki Yaumiddin berdasarkan rahmah, dan mengaktualisasikan seluruh asma dan sifat-Nya berdasarkan rahmah).
Kedua, “Kerasulan Rahmat”, bahwa Nabi Muhammad diutus untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan tiga kriteria: sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya dan bahagia sebahagia-bahagianya bagi semua di dunia dan akhirat.
Ketiga, “Kitab Suci Rahmat”, bahwa al-Qur’an diwahyukan untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan tiga kriteria di atas: sejahtera, bahagia dan damai. Ia pun dibangun dengan 4 (empat) fondasi, yaitu: 1) paradigma agama rahmat (agama yang diwahyukan dan didakwahkan untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan tiga kriteria di atas); 2) definisi agama (agama dan keadaan yang baik dalam semua bidang kehidupan); 3) organisasi agama, Islam Kaffah (keberagamaan tri-dimensi, peradaban materiil dan spirituil, dan integrasi sosial-politik); dan 4) fungsi agama (mempersatukan umat manusia, menyelamatkan umat manusia dan memperbaiki kehidupan umat manusia secara terus-menerus).

Asas-Asas Penyelenggaraan Negara dalam Al-Qur’an

Sesuai dengan “landasan” dan “fondasi” Islam di atas, al-Qur’an mengajarkan idealisasi negara dengan asas-asas penyelenggaraan dan kepemimpinan politiknya. Dalam al-Qur’an idealisasi negara dikemukakan dalam ayat-ayat berikut:
  1. Al-Baqarah, 2 (126): negara yang aman dan damai serta kemakmuran untuk seluruh warga negara, baik yang beriman maupun tidak beriman.
  2. Ibrahim, 14 (35): negara yang aman dan damai dengan warga negara yang tidak menganut kepercayaan yang mendegradasikan kehidupan dan sistem politik tiranik (an- na’budal ashnam).
  3. Saba’, 34 (15): baldatun thayyibatun, yakni negara yang adil, makmur dan berwawasan lingkungan hidup (dalam tafsir digambarkan dengan negara tanpa lalat dan nyamuk), wa rabbun ghafur, yaitu negara yang ada kejahatannya, tapi mampu dikendalikan.
  4. At-Tin, 95: 3: negara yang amanah dalam pengertian mampu melindungi hak-hak warga negara, terutama hak-hak dasar mereka.
Adapun asas-asas penyelenggaraan negara dikemukakan dalam an-Nisa’, 4 (58-59) yang memuat 6 asas:
  1. An tuaddul amanati ila ahliha:asas amanah, perlindungan hak-hak warga negara;
  2. An tahkumu bil ‘adl:asas keadilan dalam penyelenggaraan seluruh urusan yang menjadi tanggungjawab negara;
  3. Athi’u Allah:asas ketuhanan, dalam pengertian konstitusionalisme dan negara kesejahteraan;
  4. Athi’ur Rasul:asas kerasulan, dalam pengertian persatuan dan rule of law;
  5. Ulil Amri:asas penyelenggaraan negara oleh orang-orang yang ahli; dan
  6. Fa rudduhu ila Allah war Rasul:asas negara hukum.

Kepemimpinan Politik dalam Al-Qur’an

Kepemimpinan politik ideal untuk mewujudkan negara ideal dengan 6 asas tersebut dikemukakan dalam kisah Nabi Daud yang disebut sebagai khalifah di samping Adam. Adalah Nabi Adam (al-Baqarah, 2: 30-39), manusia pertama yang mewakili seluruh umat manusia,  dijadikan khalifahdalam pengertian sebagai wakil-Nya untuk menyelenggarakan kehidupan di bumi, sehingga menjadi tempat yang makmur. Adapun Nabi Daud dijadikan khalifah,dalam pengertian sebagai  pemimpin politik atau raja yang menggunaan kekuasaan untuk kesejahteraan.
Pengertian kekhalifahan Nabi Daud demikian dapat dipahami dari kisahnya yang disebutkan dalam beberapa surat.  Dalam Shad, 38 (17-30) disebutkan sosok idealnya sebagai raja dengan kapasitas-kapasitas berikut:
  1. Terampil
  2. Melakukan desakralisasi terhadap alam
  3. Membangun kerajaan yang kuat
  4. Bijaksana
  5. Memiliki kecakapan berkomunikasi
  6. Adil
  7. Menyelenggarakan negara dengan kebenaran
  8. Tidak tunduk pada kepentingan pribadi dan kelompok
Kemudian dalam al-Anbiya, 21 (78-79) di samping desakralisasi terhadap alam, disebutkan 2 kapasitas lain, yaitu:
  1. Memiliki legitimasi kekuasaan
  2. Berilmu
Selanjutnya dalam an-Naml, 27 (15-16), di samping beilmu, disebutkan beberapa kapasitasnya yang lain, yakni:
  1. Bersyukur dengan mengaktualisasikan anugerah kelebihan yang dimiliki
  2. Menyiapkan penerus, Nabi Sulaiman 
Terakhir dalam Saba’, 34 (10-13), di samping desakralisasi terhadap alam, disebutkan kemampuannya yang lain, yakni  mengolah baja untuk menjadi peralatan. Dari kesaksian ini diketahui bahwa Nabi Daud berperan dalam pengembangan teknologi pengolahan baja.

Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah: Negara Kesejahteraan

Nabi Daud dengan semua kapasitas itu dan praktek penyelenggaraan negara berbentuk kerajaan sesuai dengan zamannya, menggunakan kekuasaan yang dipegangnya sebagai raja, untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan negaranya. Karena itu kepemimpinan politik atau khilafahnya dijadikan model kepepimpinan politik ideal dalam Islam.
Idealisasi ini dilakukan dengan menyebutnya sebagai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Imam Ahmad dari Hudzaifah (bin al-Yaman)  yang populer pada beberapa waktu terakhir:    

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ  أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ “

Rasulullah bersabda, “Kenabian ada di kalangan kamu selama waktu sesuai kehendak Allah, kemudian Dia mengangkatnya sesuai  kehendak-Nya. Setelahnya ada khilafah menurut jalan kenabian selama waktu sesuai kehendak-Nya, lalu Dia mengangkatnya sesuai  kehendak-Nya. Selanjutnya ada kekuasaan “yang menggigit” selama waktu  sesuai  kehendaak-Nya, lalu Dia mengangkatnya sesuai  kehendak-Nya. Seterusnya ada kekuasaan ‘yang memaksa” selama waktu sesuai kehendak Allah, lalu Dia mengangkatnya sesuai  kehendaknya. Sesudahnya ada khilafah menurut jalan kenabian.”
Pemakanaan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dengan kepemimpinan politik yang menggunakan kekuasaan  untuk kesejahteraan yang diteladankan Nabi Daud di samping sejalan dengan idealisasi negara dan asas-asas penyelenggarannya yang diajarkan al-Qur’an di atas, juga sejalan dengan ajarannya tentang kenabian yang disebutkan mendakwahkan agama sekaligus membangun peradaban. Ini berarti bahwa kekuasaan politik untuk kesejahteraan itu merupakan bagian dari pembangunan peradaban yang dilakukan para nabi dan dalam sejarah mereka adalah Nabi daud yang berperan besar di dalamnya.
Pemaknaan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah secara demikian sesuai dengan nubuat Nabi Muhammad tentang praktek kekuasaan politik dalam sejarah Islam dari zaman Nabi sampai zaman kontemporer sekarang yang disebutkan dalam hadis di atas. Pada Zaman Nabi Muhammad kekuasaan politik untuk kesejahteraan terlaksana dengan kepemimpinan kenabian (nubuwwah) yang diembannya, sehingga melekat padanya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang diteladankan Nabi Daud. Kemudian kekuasaan politik untuk kesejahteraan terlaksana melalui kepemimpinan politik empat Khulafa’ Rasyidin pengganti Nabi Muhammad sehingga dalam hadis tersebut kepemimpinan mereka disebut sebagai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Setelah Khulafa’ Rasyidun

Setelah Khulafa’ Rasyidun, kekuasaan pilitik di kalangan umat Islam secara sistem tidak digunakan untuk kesejahteraan, karena diselenggarakan dengan sistem yang dalam hadis tersebut disebut dengan mulkan ‘adldlan dan mulkan jabariyyan.
Pertama, Mulkan ‘adldlan secara bahasa bisa berarti kekuasaan yang menggigit, menunjuk pada sistem kekuasaan otoritarianisme. Sistem ini diterapkan pada masa kekhalifahan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah serta kesultanan-kesultanan Islam di berbagai belahan dunia Muslim yang doniman dengan praktek kekuasaan untuk kekuasaan dan mengabaikan hak-hak rakyat atau warga negara.
Dengan sistem itu praktek kekuasaan para khalifah dan sultan sama dengan praktek kekuaasaan raja-raja yang berasal dari wangsa-wangsa pendiri kerajaan di berbagai belahan dunia yang lain. Sehingga ketika pada masa pemerintahan khalifah atau sultan tertentu, kekuasaan digunakan untuk kesejejahteraan, maka itu bukan karena kebaikan sistem, tapi karena kebaikan pribadi mereka. 
Kemudian yang kedua, mulkan jabariyyan secara bahasa bisa berarti kekuasaan yang memaksa menunjuk pada sistem totalitarianisme, yakni kekuasaan yang memberlakukan negara sebagai segala-galanya dan rakyat dapat dikorbankan untuk negara. Sistem ini diterapkan dalam negara-negara fasis  seperti Jerman pada masa Hitler dan negara-negara ideologis seperti Uni Soviet dahulu dan Korea Utara sekarang dengan komunismenya dan beberapa negara Timur Tengah dengan Sosialisme Partai Ba’ts yang berkuasa selama beberapa dekade.

Negara Demokrasi Pancasila Manifestasi Khilafah

Dalam sejarah Islam, mulkan jabariyyan, menurut hadis tersebut, kemudian diganti dengan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Dengan pengertiannya sebagai kekuasaan untuk kesejahteraan, maka khilafah ‘ala minhajin nibuwwah pada zaman sekarang identik dengan sistem demokrasi. Karena itu penyelenggaraan kekuasaan negara di Indonesia  berdasarkan Pancasila yang menerapkan demokrasi sebenarnya merupakan praktek penyelenggarakan kekuasaan politik yang menjadi nubuat dalam hadis Nabi di atas.
Dengan pengertian itu pula maka praktek penyelenggaraan kekuasaan negara yang diklaim berdasarkan ajaran khilafah dalam gerakan revivalisme dan fundamentalisme Islam yang tidak digunakan untuk kesejahteraan sebenarnya bukan merupakan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, tapi merupakan mulkan ‘adldlan atau mulkan jabariyyan.
Wallahu a’lam bish shawab. 
.
Editor: Azaki Khoirudin

Ust. Hamim Ilyas | 12 Post Published

Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sumber:  https://ibtimes.id/meluruskan-pemahaman-konsep-khilafah/?fbclid=IwAR0DywSVsX-bb73dtuMGxODtRLwu3dMHY0T3KBs_vhzsnQ3sxLA3bk6MkMQ

Politik dan Siyasat Dakwah Salafi

Politik dan Siyasat Dakwah Salafi

Bukan Islam yang enyah dari Indonesia—tapi bukan tidak mungkin, justru MUHAMMADIYAH yang bakal ‘hilang’ berganti manhaj karena inviltrasi. Kekhawatiran berlebih, karena itu mari jaga Persyarikatan baik-baik.

Dakwah Salafi terbilang baru dan hangat dibincang dalam beberapa tahun terakhir setelah berbagai keluhan dari jamaah akar rumput mengemuka. Salafi mengenalkan model beragama yang puritan, simpel dan tekstual.

Di kalangan elite Muhammadiyah mungkin tak begitu terasa tapi gesekan di akar rumput sudah mulai menghangat, jadi jangan pernah anggap enteng. Jangan abaikan aspirasi bawah, ini soal bersama, kita selesaikan dengan cara seksama.

Beberapa stigma yang kerap dibincangkan sebagai politik atas siyasat da’wah Salafi antara lain:
MASJID MILIK ALLAH
 
Ungkapan masjid milik Allah adalah strategi jitu agar dakwah Salafi bisa masuk di semua masjid tanpa terhalangi. Ini cara ampuh memperluas kawasan da’wah.

Ungkapan bahwa masjid milik Allah bertujuan mendekonstruksi kepemilikan atas nama lembaga atau person. Secara umum benar dan mudah dicarikan pembenar dalam al-Quran dan as-Sunah. Padahal bukan itu substansinya. Ini pernyataan bersayap—halus dan efisien untuk mendapatkan tiket masuk di semua masjid.

Masjid milik Allah. Bukan milik NU, bukan milik Muhammadiyah, apalagi milik person meski dibangun dengan harta pribadi. Dengan begitu para pengurus masjid welcome terhadap Dakwah Salafi, dan Salafi krasan di dalam. Cara cerdik mendapat tiket masuk di semua masjid.
Selain itu, Masjid Muhammadiyah dan lainnya diminta terbuka (welcome dengan Da’wah Salafi), tapi mereka tidak. Masjid Salafi tertutup untuk ulama-ulama MUHAMAMDIYAH dengan berbagai alasan. Salah satunya karena selain dari kalangan mereka dianggap ustadz subhat yang tidak layak didengar dan ditaati. Inilah sebagian kecil siyasat Da’wah Salafi yang harus dipahami warga Persyarikatan.
ORGANISASI ITU BID’AH
 
Politik dan siyasat dakwah Salafi yang kedua, dengan menyebut bahwa organisasi adalah bid’ah. Tidak ada contohnya dari Nabi, para sahabat dan salafus saleh. Puluhan dalil sebagai hujjah dikemukakan untuk memperkokoh pernyataan ini.

Tidak cukup, bahkan kemudian diunggah berbagai akibat buruk berorganisasi, seperti: perpecahan, konflik berkepanjangan dan jauh dari sunah. Cara ini sangat efektif agar medan da’wah meluas, dengan alasan meninggalkan ashabiyah. Akibatnya, yang NU mengendur, yang Muhammadiyah melentur. Bahkan beberapa mulai non-aktif dan mengundurkan diri dengan berbagai alasan.
Setelah yakin bahwa organisasi itu bid’ah. Lantas menganjurkan untuk mendirikan perkumpulan sendiri, sebuah yayasan berbadan hukum sendiri untuk memperkuat dakwah manhaj Salafi. Cara jitu untuk merapatkan shaf dan memperkokoh barisan, setelah di-branstorming meninggalkan Muhammadiyah dan NU.

TIDAK BERMADZHAB
 
Politik dan siyasat dakwah Salafi yang ketiga: menafikkan madzhab dan manhaj selain manhaj Salafi. Majelis Tarjih pun disebut madzab, dianggapnya berpandangan picik dan sempit pikiran. Kitab HPT (Himpunan Putusan Tarjih) pun dianggap kitab suci orang Muhammadiyah—sebagai sumber konflik dan perpecahan.

Lantas beberapa orang MUHAMADIYAH meninggalkan Fatwa Tarjih dan orang NU meninggalkan madzhab. Cara ini ampuh untuk memuluskan ulama Salafi mendoktrinkan manhaj Salafi yang mereka yakini.

Setelah Fatwa Tarjih ditinggalkan, Madzhab Syafi’i dinafikkan, pelan-pelan manhaj Salafi di doktrinkan. Kemudian dikatakan bahwa manhaj Salafi adalah yang paling benar diantara yang ada dan menganggap semua selain dirinya kurang terpuji. Cara efektif untuk melupakan fatwa tarjih dan madzhab tanpa gaduh.

USTADZ SUNNAH VS USTADZ SUBHAT

Kekokohan ideologi atau manhaj Salafi adalah: tidak sah berkawin terkecuali dengan yang semanhaj, mengkafirkan pelaku dosa besar dan tidak wajib menaati imam yang menyalahi sunnah (Al Milal wa Al Nihal, Asy-Syahrastani)

Dalam konteks kekinian, manhaj Salafi membuat garis demarkasi yang sangat ketat, memilah ustdaz atau ulama dalam dua kelompok yang saling berhadapan: ustadz sunnah dan ustadz subhat atau ustadz ahli sunah dan ustadz ahli bid’ah.

Hanya ustadz sunnah yang layak didengar, diikuti, dan ditaati sebab sesuai dalil. Sedang ustadz subhat atau ustadz ahli bid’ah tidak wajib didengar apalagi di taati. Ajaran ini didoktrinkan kepada orang awam yang disanjung dengan sebutan “hijrah” atau “thalabul ilmi” yang berkemampuan membedakan antara ustadz sunnah sesuai dengan Al-Quran-Sunnah dan ustadz subhat yang bercampur. Inilah konsep Hijrah-thalabal ilmi dari ustadz subhad menuju ustdaz sunah.
Tulisan ini sama sekali tidak ada maksud untuk melemahkan apalagi melawan dakwah Salafi. Setiap manhaj punya politik, strategi dan siyasat da’wah masing-masing. Muhammadiyah, NU, LDII, dan lainnya pun juga sama. Setiap kita punya politik atas siyasat dakwah, dan akan diuji seberapa tangguh menghadapi halangan dan seberapa besar menggapai harapan.

Muhammadiyah sudah lebih dari 100 tahun berkhidmad, politik da’wahnya sudah teruji, ratusan universitas dan rumah sakit dibangun, ribuan sekolah dan masjid berdiri, jutaan umat Islam mendapatkan pelayanan dari politik dakwah yang dipraktikkan. Ada kekurangan ada kelebihan harap maklum.
Nasrun minallah wa fat-hun qariib
@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Ust. Nurbani Yusuf

Komunitas Padang Mahsyar, Batu, Jawa Timur

Selasa, 07 Januari 2020

Gara-Gara Ustadz Yun, Saya Sempat Marah

 Gara-Gara Ustadz Yun, Saya Sempat Marah



Oleh: Syakir Jamaluddin

Salah satu pesan Ustadz Yunahar kepada saya, “Kir” (begitu biasa beliau memanggil saya), jadi muballigh itu jangan pernah mengharap bayaran dari orang atau jamaah, tapi lakukan semua karena Allah, karena Allah itu Maha Kaya.”

Ini yang menyebabkan saya dan murid-murid beliau lainnya tidak pernah minta bayaran atau pasang tarif, apalagi sampai tawar-menawar harga kalau diminta ngisi pengajian atau ngajar di manapun.
Saya sempat “marah” ketika ada jamaah yang mau mengundang saya tapi menanyakan tarif. Saya bilang, “Anda jangan menghina saya!”

Gara-gara nasihat Ustadz Yun yang membekas dalam pada diri kami sehingga saya sempat marah dengan jamaah yang menanyakan tarif ngisi pengajian. Kami ditempa Ustadz kami sejak di Mu’allimien Jogja untuk tidak pernah minta bayaran manusia untuk dakwah yang kami lakukan.
Pesan yang sama pernah disampaikan oleh Ustadz M. Suprapto Ibnu Juraimi, Direktur Mu’allimien saat Ustadz Yun jadi guru di sana. Pada saat kami mau diterjunkan sebagai muballigh, “Bagaimana perasaanmu jika kalian datang ngisi pengajian tapi yg hadir hanya sedikit 1-2 orang saja, apakah kamu sedih dan hilang semangat?” Lanjut kata Pak Prapto, “Kalau kamu sedih dan menjadi kurang semangat dalam berdakwah karena jamaah yg menyambut kamu hanya sedikit, kamu belum layak jadi muballigh.”

Saya tersentak dengan nasihat dua guru saya ini. Padahal sangat wajar bila kita bersedih karena jamaah yg datang mengaji hanya sedikit, cuma memang tidak boleh hilang semangat.

Ya Allah dua guru kami ini telah menanamkan “virus kebaikan” pada diri kami dan keduanya telah Engkau panggil ke haribaan-Mu. Doa kami, “Ya Allah, alirkan pahala pada guru2 kami dan keluarga yg mendukungnya atas dakwah dan amal kebaikan yg kami lakukan. Ampuni mereka, sayangi mereka, dan masukkan mereka dalam sorgaMu.” Aamiiin 🤲😢
(Mengenang Ustadz Yun, Awal Januari, 2020)

Sumber:  https://sangpencerah.id/2020/01/gara-gara-ustadz-yun-saya-sempat-marah/

Senin, 06 Januari 2020

Begini Ringkasan Ideologi Muhammadiyah Menurut Yunahar Ilyas -rahimahullah-

Begini Ringkasan Ideologi Muhammadiyah Menurut Yunahar Ilyas -rahimahullah-


YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Tarjih dan Tabligh, Yunahar Ilyas hadir membuka acara Refreshing dan Silaturahim Nasional Peningkatan Kualitas Mubaligh (PKM) Muhammadiyah, di University Hotel, Maguwoharjo, Yogyakarta, Jumat (5/5). Di hadapan peserta, Yunahar memaparkan tentang ideologi Muhammadiyah yang harus dipahami oleh para mubaligh.

Pertama, Muhammadiyah dalam memahami Islam berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak terikat dengan aliran teologis, madzhab fikih, dan tariqat sufiyah apapun. Walaupun secara de facto ahlus sunnah. Muhammadiyah, kata Yunahar, menganut fikih manhaji, mementingkan dalil dibanding pendapat para imam mazhab. Paham agama dalam Muhammadiyah bersifat independen, komprehensif, dan integratif. Namun Yunahar mengingatkan bahwa Muhammadiyah sama sekali tidak anti terhadap alirah theologi, mazhab, dan tasawuf.

Kedua, Muhammadiyah mencirikan diri sebagai gerakan tajdid. “Dalam Anggaran Dasar disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid,” tutur Yunahar. Tajdid yang diusung oleh Muhammadiyah terbagi menjadi purifikasi dan dinamisasi. Keduanya harus berjalan seimbang. Purifikasi dalam hal akidah (pemurnian dari syirik), ibadah (pemurnian dari bid’ah), dan akhlak (pemurnian dari yang menyimpang).

Sementara dinaminasi atau modernisasi dilakukan dalam hal urusan keduniawian. Sehingga ajaran Islam dapat diaplikasikan secara aktual dan fungsional. Oleh karena itu, kata Yunahar, bid’ah hanya ada dalam ibadah mahdhah, dalam wilayah budaya tidak ada bid’ah.

Ketiga, Muhammadiyah memposisikan diri sebagai Islam moderat atau wasatiyah. Muhammadiyah tidak radikal dan tidak liberal. Muhammadiyah memegang teguh prinsip tawasut (tengah-tengah), tawazun, (seimbang) dan ta’adul (adil).

Muhammadiyah itu berkemajuan, dalam artian berorientasi kekinian dan masa depan. Muhammadiyah sedikit bicara banyak bekerja. Walaupun sedikit warganya tapi amal usahanya tumbuh di mana-mana, sehingga mandiri dan tidak bergantung pada kekuasaan. Menurut Yunahar, kemandirian ini menjadi pengokoh sikap independensi Muhammadiyah di hadapan penguasa.
Keempat, Muhammadiyah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik. Muhammadiyah bukan dan tidak berafiliasi kepada salah satu partai mana pun. Muhammadiyah menganut politik etis atau high politic atau politik adiluhung.

Kelima, Muhammadiyah bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah tidak bertujuan untuk mendirikan negara syariah atau khilafah islamiyah. Dalam rangka mencapai tujuannya, Muhammadiyah lebih menggunakan pendekatan kultural dibandingkan dengan pendekatan struktural (kekuasaan). Dalam pendekatan kultural, Muhammadiyah mencerdaskan masyarakat dari bawah dengan dakwahnya yang berkemajuan, mencerahkan, dan membebaskan. (Ribas)

Sumber:  http://www.suaramuhammadiyah.id/2017/05/06/begini-ringkasan-ideologi-muhammadiyah-menurut-yunahar-ilyas/

Sabtu, 04 Januari 2020

10 Karakter Orang Muhammadiyah


10 Karakter Orang Muhammadiyah
Oleh:  Buya Prof. Dr. KH. Yunahar Ilyas, M.Ag (Ketua PP Muhammadiyah / Waketum MUI Pusat)





Sepuluh karakter yang harus dimiliki ialah; 

(1) al-Fahmu, (2) al-Ikhlas (3) al-Amal, (4) al-Jihad, (5) at-Tadhiah, (6) al-Jama’ah, (7) ath-Tho’ah, (8) al-Ukhuwwah, (9) ats-Tsabat, dan (10) at-Tajarrud.

Pertama, yaitu Al-Fahmu yang bermakna paham atau memahami. Yakni paham tentang Islam secara kaffah. Kader Muhammadiyah tidak boleh mempunyai paham Islam yang setengah-setengah.

“Yang harus Kita pahami pertama kali yaitu Islam, karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam, jangan salah paham apalagi gagal paham” ujar Yunahar diiringi gelak tawa para hadirin.

Menurutnya, paham Islam yang dianut oleh Muhammadiyah ialah paham Manhaji bukan paham Mazhabi karena Muhammadiyah tidaklah bermazhab. Pemahaman tentang Islam adalah pondasi dasar kader Muhammadiyah untuk memahami lebih jauh Muhammadiyah.

“Paham tentang agama Islam itu sangat penting, di setiap materi Baitul Arqom itu pasti ada materi tentang Al-Islam. Kalau sudah paham Islam dengan baik, maka otomatis paham Muhammadiyah. Jadi sudah memiliki paham Muhammadiyah, tidak perlu mendaftarkan diri jadi anggota Muhammadiyah pun dengan sendirinya sudah menjadi Muhammadiyah” imbuhnya.

Poin kedua yaitu al-Ikhlash (keikhlasan). Yunahar bersyukur karena keikhlasan sudah menjadi sifat mainstream yang dimiliki oleh mayoritas warga Muhammadiyah. Lantas, Yunahar memaparkan tiga indikator suksesnya seorang kader dalam kehidupan. Pertama yaitu Ikhlasunniyyah (niat yang ikhlas). Kader harus memiliki rasa ikhlas berkorban membantu menghidupi persyarikatan, tidak pamrih dan tidak pelit. Kedua yaitu itqonul ‘amal (profesional dalam bekerja) kader Muhammadiyah harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Jika kader Muhammadiyah bekerja maka dia harus bekerja dengan ikhlas, cerdas, dan tuntas. Sering datang rapat, kata Yunahar, juga termasuk perwujudan dari itqonul amal.  

Yang ketiga itu jaudatul ada’ atau memberikan hasil yang terbaik/maksimal. Setiap periode kepemimpinan haruslah lebih baik dari kepemimpinan  sebelumnya. Jika diberi amanah, harus berusaha memberikan hasil yang memuaskan.

Karakteristik kader yang ketiga yaitu al-Amal. Yakni ulet dan rajin bekerja. Senantiasa mengamalkan Islam untuk pribadi, agama, dan Negara supaya terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (MIYS).
“Alhamdulillah, Muhammadiyah dalam gerakan amalnya sudah cukup menonjol” kata Yunahar diiringi tepuk tangan para hadirin.

Amal Usaha Muhammadiyah itu dimiliki secara resmi oleh organisasi bukan perorangan, oleh karena itu sistem pengelolaannya bisa tertata rapi. Yunahar memisalkan amal usaha Muhammadiyah itu layaknya korporasi, sementara amal usaha yang dimiliki oleh NU layaknya koperasi, karena dimiliki oleh perorangan.
Keempat yaitu Al-Jihad. Kader Muhammadiyah harus mengerahkan segenap kompetensi yang dimiliki untuk melakukan kebaikan. Dalam masalah infaq, misalnya. Kader Muhammadiyah harus mengeluarkan infaq sebaik-baiknya, meniru apa yang sudah dilakukan oleh Khalifah kedua, Abu Bakar Ash-Shiddieq.
Kelima yaitu at-Tadhiah, yang bermakna rela berkorban. Korban waktu, korban harta, serta korban perasaanpun harus dicurahkan oleh kader Muhammadiyah.

“tidak ada ceritanya Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberi uang, yang ada malah PP yang menggalang bantuan dari tingkat bawahnya. Seluruh PTM itu wajib menyumbang 1% untuk Muhammadiyah, tidak ada PP itu bagi-bagi” tandas Yunahar.

Keenam yaitu al-Jama’ah (semangat berjama’ah). Merupakan suatu kensicayaan bahwa Muhammadiyah sebagai jam’iyyah (persyarikatan) harus memiliki sinergitas dan kekompakan dalam berorganisasi. Mulai dari tingkat ranting hingga pusat.

Karakteristik yang ketujuh itu at-Tho’ah (loyalitas/kepatuhan). Warga Muhammadiyah harus patuh dan loyak kepada pimpinan di tingkatnya masing-masing, dari ranting hingga pusat. Namun, pesan Yunahar, Kader Muhammadiyah janganlah terlampau patuh.

“Warga Muhammadiyah harus patuh tapi jangan terlalu patuh”.

“Kalau terlalu patuh biasanya apa-apa ditanyakan, permasalahan kecil-kecil pun akan ditanyakan ke majelis tarjih bagaimana fatwanya, kalau sekiranya sudah jelas atau bisa diputuskan sendiri, ya gak perlu minta  fatwa tarjih, lah” tambah Yunahar.

Tapi, ada juga warga Muhammadiyah yang tidak patuh dan pura-pura bertanya.

Yunahar kemudian menceritakan pengalamannya, “Dulu ada yang tanya kepada saya, “pak, apa warga Muhammadiyah harus patuh putusan tarjih?” lalu saya jawab, “pak, pertanyaan Anda salah, harusnya kenapa Anda tidak ikut putusan tarjih dan alasan apa yang Anda gunakan untuk tidak patuh putusan tarjih?, tarjih memang tidak memaksa untuk dipatuhi tapi jangan sampai tidak mengikuti putusan tarjih tanpa alasan”.
Meskipun patuh terhadap pemimpin tapi semangatnya masih sahabat (egaliter)

Poin kedelapan yaitu al-Ukhuwwah (persaudaraan). Menurut Yunahar, iklim persaudaraan di Muhammadiyah sudah cukup bagus. Meskipun Muhammadiyah itu struktural, namun hubungan sehari-hari antar warganya masih bersifat kultural dan egaliter. Dulu, ketika pak AR Fachruddin antri mau makan, warga NU yang melihatnya menganggap hal itu kurang ajar, padahal hal tersebut sudah sangat biasa di Muhammadiyah. Muhammadiyah sangat egaliter tapi semangatnya itu semangat ukhuwwah, ta’awun dan takaful (saling memberi jaminan).

Kesembilan yaitu ats-Tsabat (konsisten/istiqomah).  Istiqomah mencerminkan suatu sikap teguh pendirian, tidak gampang terbujuk dan tidak takut dari ancaman. Diancam tidak takut, dirayu tidak terbujuk.
“Watak Muhammadiyah sejak zaman penjajahan itu teguh dan fleksibel, tidak berpolitik dan mengambil jalur kultural. Agus salim pernah mengajak Muhammadiyah jadi parpol, tapi ditolak Ahmad Dahlan” ulas Yunahar.
Jika sudah menjadi gerakan Islam (seperti Muhammadiyah yang fokus pada ranah kultural) berarti mencakup seluruh aspek, tinggal strategi kita saja bagaimana mengaturnya tidak harus menempuh jalur politik.
Poin terakhir yaitu at-Tajarrud. Ke manapun dan dimana pun harus bangga bermuhammadiyah dan berdakwah.

“Kalau saya ceramah di orang yang tidak suka Muhammadiyah, maka ya bikin mereka suka, jangan sembunyikan identitas kita. Di mana pun berdakwah perkenalkan diri sebagai warga Muhammadiyah”.

Jumat, 03 Januari 2020

Goresan Dr Anwar Abbas kpd Prof Yunahar




Prof. Yunahar adikku.
Yunahar adikku.
Kini engkau telah pergi
Tidak akan pernah ada lagi kata2 bernas yang akan bisa ku dengar dari dirimu.
Engkau adalah orang bijak yang sering bisa melihat celah di saat banyak orang sudah mengalami rasa buntu.
Engkau adalah ulama yang mumpuni. Ceramah2mu segar dan menyegarkan. Menguatkan iman dan mendekatkan diri yang mendengarnya kepada Tuhan.
Itulah amal dan ibadahmu. Jamaahmu banyak dan telah sering kau sirami dengan ilmu.
Di mataku engkau adalah orang yang beruntung karena sewaktu hidupmu engkau telah menabur ilmu yang bermanfaat.
Mudah2an itu semua nanti akan menjadi penolongmu dalam menghadap Allah swt di alam akhirat sana.
Engkau adalah orang baik. Mungkin saja ada salahmu. Tetapi saya yakin semua orang akan memaafkanmu. Karena engkau lurus dan tulus sehingga kami tidak pernah merasa kecewa terhadap dirimu.
Selamat jalan adikku. Engkau telah pergi terlebih dahulu dan aku pasti akan menyusulmu.
Aku berdoa semoga kita bisa lagi bertemu dalam naungan dan ridhoNya di syurgaNya yang menjadi cita dan harapan kita semua. Aamiin.
Bandara Soekarno Hatta 3 januari 2020. Jam 5.05 pagi.

Sumber:  https://muhammadiyahsumbar.tumblr.com/post/190045257038/goresan-dr-anwar-abbas-kpd-prof-yunahar