Minggu, 06 September 2026

JANGAN JADIKAN GELAR SEBAGAI DALIL

 JANGAN JADIKAN GELAR SEBAGAI DALIL



Oleh: Aya Syophia Miza, M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Gelar bukan jaminan keilmuan. Jabatan bukan bukti kebenaran. Popularitas bukan ukuran ketakwaan.


Di zaman ketika gelar akademik semakin mudah dipajang di belakang nama, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai umat lebih mudah tunduk kepada gelar daripada kepada dalil.


Seseorang bergelar doktor belum tentu memahami seluruh persoalan agama. Seseorang yang bergelar profesor tidak otomatis benar dalam setiap pendapatnya. Demikian pula seseorang yang populer di media sosial tidak otomatis lebih alim daripada mereka yang hidupnya jauh dari sorotan kamera.


Islam tidak mengajarkan kita mengukur kebenaran dari siapa yang berbicara, tetapi dari apa yang dibicarakan.


Allah berfirman:


«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»


“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)


Perhatikan: Al-Qur’an menyebut ahludz-dzikr, orang yang memiliki ilmu dan kapasitas, bukan sekadar orang yang memiliki gelar.


Karena itu, jangan bertanya hanya, “Siapa yang mengatakan?”


Tetapi tanyakan juga:


“Apa dalilnya?”

“Dari mana sumbernya?”

“Bagaimana pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah?”

“Bagaimana para ulama memahami dalil tersebut?”


Gelar adalah identitas akademik. Ia penting dan patut dihargai. Tetapi gelar bukan sertifikat bahwa pemiliknya selalu benar.


Begitu pula jubah, sorban, keturunan, jabatan, organisasi, jumlah pengikut, dan popularitas—semuanya bukan standar mutlak kebenaran.


Kebenaran tetap harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman ilmu yang benar.


Nabi ﷺ bersabda:


«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»


“Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”


Maka umat harus dididik menjadi cerdas dalam menerima pendapat.


Jangan karena seseorang bergelar tinggi, semua ucapannya langsung dianggap benar.


Jangan karena seseorang tidak memiliki gelar akademik, semua perkataannya langsung dianggap tidak bernilai.


Hormati ulama, tetapi jangan mengultuskan manusia. Hargai gelar, tetapi jangan menyembah gelar. Dengarkan pendapat, tetapi timbang dengan dalil.


Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan panjangnya gelar di belakang nama, tetapi benarnya iman, luasnya ilmu, baiknya amal, dan ketundukan kepada kebenaran.


Mari kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.


Bukan kembali kepada fanatisme terhadap tokoh.


Bukan kembali kepada kebanggaan terhadap gelar.


Bukan pula kembali kepada popularitas.


Kembali kepada dalil. Kembali kepada ilmu. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.


Karena gelar bisa dicantumkan di kartu nama, tetapi ilmu harus dibuktikan dengan hujjah dan amal.


Ketika Iman Membutuhkan Tempat Berlindung

 Ketika Iman Membutuhkan Tempat Berlindung



"



Oleh: 

Angga Fernando Gustian,Lc.,M.A

-Anggota Komisi Fatwa Metodologi MUI Sumatera Barat

-Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

-Sekretaris PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 10 dan Pelajaran tentang Menjaga Iman


Di tengah dunia yang semakin bising oleh berbagai pengaruh, mempertahankan iman terkadang membutuhkan keberanian untuk berbeda. Tidak semua lingkungan selalu ramah terhadap prinsip agama, dan tidak setiap jalan yang ramai merupakan jalan yang benar.


Al-Qur'an mengabadikan kisah sekelompok pemuda beriman yang memilih mempertahankan keyakinan mereka ketika berhadapan dengan tekanan masyarakat. Mereka tidak memilih popularitas, kenyamanan, atau keselamatan dunia sebagai prioritas utama. Mereka memilih Allah.


Allah سبحانه وتعالى berfirman:


«إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


«“(Ingatlah) ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.’”

(QS. Al-Kahfi: 10)»


Ayat ini singkat, tetapi menyimpan pesan yang sangat dalam: ketika seseorang memilih mempertahankan iman, ia harus menggabungkan ikhtiar, doa, tawakal, dan keberanian mengambil keputusan.


---


Pemuda yang Memilih Iman daripada Kenyamanan


Allah menggunakan kata الْفِتْيَةُ (al-fityah) yang berarti para pemuda.


Mereka adalah sekelompok anak muda yang beriman kepada Allah, sementara masyarakat di sekitar mereka berada dalam kesyirikan. Mereka menghadapi tekanan untuk meninggalkan tauhid dan mengikuti keyakinan masyarakatnya.


Menurut penjelasan Ibnu Katsir, mereka adalah para pemuda yang melarikan diri demi mempertahankan agama mereka agar tidak dipalingkan oleh kaumnya.


Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:


«يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ أُولَئِكَ الْفِتْيَةِ، الَّذِينَ فَرُّوا بِدِينِهِمْ مِنْ قَوْمِهِمْ لِئَلَّا يَفْتِنُوهُمْ عَنْهُ»


Artinya:


«“Allah Ta'ala mengabarkan tentang para pemuda tersebut, yaitu mereka yang melarikan diri dengan membawa agama mereka dari kaumnya agar mereka tidak memalingkan mereka dari agama tersebut.”»


Ini adalah pelajaran penting bagi generasi muda.


Kualitas seorang pemuda tidak hanya diukur dari kecerdasan, keberanian, prestasi, atau popularitasnya, tetapi juga dari apa yang sanggup ia pertahankan ketika prinsipnya diuji.


---


Ketika Gua Menjadi Lebih Mulia daripada Istana


Ayat tersebut menggunakan kata:


«أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ»


“Para pemuda itu berlindung ke dalam gua.”


Gua bukan tempat yang nyaman. Gelap, sempit, jauh dari kehidupan kota dan tidak menjanjikan kemewahan.


Namun bagi mereka, gua menjadi tempat untuk menyelamatkan iman.


Di sinilah kita belajar bahwa nilai sebuah tempat tidak selalu ditentukan oleh kemewahan yang ada di dalamnya, tetapi oleh keselamatan iman yang dapat dijaga di sana.


Sebuah tempat yang sederhana dapat menjadi lebih mulia daripada tempat yang megah apabila di sana seseorang dapat menjaga hubungannya dengan Allah.


Dalam konteks kehidupan modern, “gua” bisa bermakna simbolis: kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari lingkungan yang merusak iman, pergaulan yang menghancurkan akhlak, konten yang menormalisasi kemaksiatan, atau tekanan sosial yang membuat seseorang malu menjalankan agamanya.


Tidak semua lingkungan harus diikuti.


Tidak semua tren harus diikuti.


Tidak semua suara mayoritas harus dipercaya.


Terkadang, menyelamatkan iman membutuhkan keberanian untuk mengatakan: “Aku memilih berbeda karena aku ingin tetap bersama Allah.”


---


Doa yang Mengajarkan Cara Menghadapi Krisis


Menariknya, setelah mereka mengambil langkah nyata dengan berlindung di dalam gua, mereka tidak hanya mengandalkan usaha.


Mereka berdoa:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً»


“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.”


Kemudian mereka melanjutkan:


«وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


“Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”


Doa tersebut memperlihatkan keseimbangan yang luar biasa.


Mereka berusaha menyelamatkan diri, tetapi tidak mengandalkan usaha mereka.


Mereka mengambil keputusan, tetapi tetap memohon pertolongan Allah.


Mereka mencari tempat perlindungan, tetapi meyakini bahwa perlindungan sejati hanya berasal dari Allah.


---


Makna “Rahmah” Menurut Para Ulama


Ibnu Katsir menjelaskan:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً أَيْ هَبْ لَنَا مِنْ عِنْدِكَ رَحْمَةً تَرْحَمُنَا بِهَا وَتَسْتُرَنَا عَنْ قَوْمِنَا»


Artinya:


«“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, yaitu anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau merahmati kami dan menutupi kami dari kaum kami.”»


Rahmat yang mereka minta bukan sekadar kenyamanan hidup.


Mereka meminta rahmat yang dapat menjaga mereka dari fitnah, melindungi agama mereka, dan mengantarkan mereka kepada keselamatan.


Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah terkadang hadir dalam bentuk sesuatu yang tidak kita sukai.


Bisa berupa dijauhkan dari sebuah lingkungan.


Bisa berupa gagalnya sebuah rencana.


Bisa berupa tertutupnya sebuah kesempatan.


Bahkan bisa berupa seseorang harus meninggalkan sesuatu yang sangat ia cintai demi mempertahankan agamanya.


Tidak semua kehilangan adalah musibah.


Kadang-kadang, Allah mengambil sesuatu dari kita agar iman kita tetap utuh.


---


“Rasyada”: Memohon Agar Allah Mengarahkan Akhir Perjalanan


Bagian kedua dari doa mereka sangat menarik:


«وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa mereka memohon kepada Allah agar dimudahkan menuju apa yang mereka cari, yaitu keridaan Allah dan menjauh dari kekufuran.


Beliau menjelaskan:


«يَسِّرْ لَنَا بِمَا نَبْتَغِي وَمَا نَلْتَمِسُ مِنْ رِضَاكَ وَالْهَرَبِ مِنَ الْكُفْرِ بِكَ ... رَشَدًا، يَعْنِي سَدَادًا إِلَى الْعَمَلِ بِالَّذِي تُحِبُّ»


Artinya:


«“Mudahkanlah bagi kami apa yang kami cari dan kami harapkan berupa keridaan-Mu serta menjauh dari kekufuran kepada-Mu... yaitu petunjuk dan ketepatan untuk melakukan apa yang Engkau cintai.”»


Jadi, rasyad bukan sekadar “keberuntungan”.


Rasyad adalah ketepatan arah.


Seseorang bisa memiliki banyak pilihan, tetapi belum tentu mendapatkan rasyad.


Seseorang bisa memiliki ilmu yang luas, tetapi belum tentu mendapatkan rasyad.


Seseorang bisa memiliki jabatan, kekayaan, pengaruh, dan popularitas, tetapi belum tentu mendapatkan rasyad.


Karena itu, doa yang sangat penting bukan hanya:


“Ya Allah, berikan aku apa yang aku inginkan.”


Tetapi:


“Ya Allah, arahkan aku kepada apa yang Engkau ridai.”


Sebab terkadang yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita, sedangkan apa yang Allah pilihkan bisa jadi jauh lebih baik daripada apa yang kita rencanakan.


---


Ikhtiar Dahulu, Kemudian Tawakal


Ayat ini juga memberikan prinsip penting dalam kehidupan.


Para pemuda Ashabul Kahfi tidak hanya berdoa.


Mereka bergerak.


Mereka meninggalkan lingkungan yang membahayakan iman dan mencari tempat perlindungan.


Setelah itu mereka berdoa kepada Allah.


Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.


Syaikh Abdurrahman As-Sa'di رحمه الله menjelaskan:


«فَجَمَعُوا بَيْنَ السَّعْيِ وَالْفِرَارِ مِنَ الْفِتْنَةِ ... وَبَيْنَ تَضَرُّعِهِمْ وَسُؤَالِ اللَّهِ تَيْسِيرَ أُمُورِهِمْ»


Artinya:


«“Mereka menggabungkan antara usaha untuk menjauh dari fitnah... dengan merendahkan diri dan memohon kepada Allah agar Dia memudahkan urusan mereka.”»


Inilah mentalitas seorang mukmin.


Berusaha seolah-olah semuanya bergantung kepada ikhtiar, tetapi berdoa dan bertawakal seolah-olah semuanya berada di tangan Allah.


---


Pelajaran Dakwah dari Surat Al-Kahfi Ayat 10


Dari ayat ini setidaknya terdapat beberapa pelajaran penting.


1. Masa muda bukan alasan untuk menunda kebaikan


Allah mengabadikan para pemuda Ashabul Kahfi dalam Al-Qur'an.


Mereka bukan sekadar anak muda yang memiliki semangat, tetapi pemuda yang memiliki iman dan keberanian mempertahankan prinsip.


Karena itu, masa muda seharusnya tidak hanya dihabiskan untuk mengejar popularitas, tetapi juga membangun ilmu, ibadah, karakter, dan kontribusi.


2. Menjaga iman terkadang membutuhkan keberanian mengambil jarak


Tidak semua lingkungan baik bagi iman.


Ada kalanya seorang muslim perlu meninggalkan pergaulan, kebiasaan, tontonan, atau lingkungan yang terus-menerus menyeretnya kepada kemaksiatan.


Menjauh bukan berarti kalah.


Kadang-kadang menjauh adalah cara untuk menyelamatkan diri agar suatu hari dapat kembali dengan keadaan yang lebih kuat.


3. Jangan hanya mengandalkan kemampuan diri


Ashabul Kahfi telah melakukan ikhtiar, tetapi mereka tetap berkata:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً»


Mereka menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan.


Sebanyak apa pun ilmu kita, tetap membutuhkan hidayah.


Sebesar apa pun usaha kita, tetap membutuhkan pertolongan Allah.


4. Mintalah bukan sekadar kemudahan, tetapi petunjuk


Mereka tidak hanya meminta agar masalah mereka selesai.


Mereka meminta:


«رَشَدًا»


Petunjuk yang benar.


Sebab hidup bukan sekadar tentang keluar dari masalah, tetapi tentang keluar dari masalah dengan tetap berada di jalan yang Allah ridai.


5. Rahmat Allah adalah kebutuhan terbesar manusia


Manusia membutuhkan kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu, pekerjaan, dan keamanan.


Namun di atas semuanya, manusia membutuhkan rahmat Allah.


Sebab tanpa rahmat-Nya, nikmat yang banyak pun tidak menjamin keselamatan.


---


Relevansi Ayat di Zaman Digital


Hari ini manusia mungkin tidak menghadapi penguasa yang memaksa mereka menyembah berhala sebagaimana kisah yang disebutkan dalam penjelasan para mufasir.


Namun bentuk fitnah berubah.


Ada fitnah syahwat.


Ada fitnah syubhat.


Ada tekanan sosial.


Ada budaya yang menjadikan maksiat sebagai hiburan.


Ada algoritma yang terus menyajikan apa yang kita sukai sampai kita lupa mempertanyakan apakah yang kita sukai itu benar.


Dalam kondisi seperti ini, seorang muslim membutuhkan “gua” dalam bentuk yang berbeda: ruang untuk menjaga hati, membatasi diri, memperbanyak ilmu, memperbaiki pergaulan, dan kembali kepada Allah.


Bukan berarti seorang muslim harus mengasingkan diri dari masyarakat.


Justru seorang muslim harus tetap hadir di tengah masyarakat dengan membawa kebaikan.


Namun ia harus memiliki kemampuan untuk berkata:


“Tidak semua yang viral layak diikuti.”


“Tidak semua yang populer layak dibenarkan.”


“Tidak semua yang dilakukan banyak orang harus saya lakukan.”


Sebab ukuran kebenaran bukan jumlah pengikut, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.


---


Ketika Dunia Memaksa Kita Memilih


Kisah Ashabul Kahfi memberikan sebuah pesan yang sangat relevan:


Ada saatnya kehidupan memaksa manusia memilih antara kenyamanan dan prinsip.


Ketika itu terjadi, seorang mukmin harus bertanya:


«Apa yang paling ingin saya selamatkan?»


Harta?


Popularitas?


Jabatan?


Relasi?


Atau iman?


Para pemuda Ashabul Kahfi telah memberikan jawabannya.


Mereka rela kehilangan kenyamanan demi mempertahankan iman.


Dan Allah membalas pilihan mereka dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang mereka tinggalkan.


Allah berfirman setelah ayat tersebut:


«فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا»


«“Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun.”

(QS. Al-Kahfi: 11)»


Allah menjaga mereka ketika mereka memilih menjaga agama.


Ini bukan berarti setiap orang yang meninggalkan sesuatu akan mendapatkan mukjizat sebagaimana Ashabul Kahfi. Namun kisah mereka menunjukkan sebuah prinsip besar: Allah tidak menyia-nyiakan orang yang bersungguh-sungguh menjaga iman dan mencari pertolongan-Nya.


---


Penutup: Doa untuk Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah


Surat Al-Kahfi ayat 10 mengajarkan bahwa perjalanan mempertahankan iman tidak selalu mudah.


Kadang kita harus meninggalkan sesuatu.


Kadang kita harus berbeda dengan lingkungan.


Kadang kita harus berjalan sendirian.


Kadang kita harus memilih jalan yang tidak populer.


Namun seorang mukmin tidak pernah benar-benar sendirian selama ia memiliki Allah.


Karena itu, doa Ashabul Kahfi layak menjadi doa yang selalu kita renungkan:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


«“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”»


Boleh jadi hari ini kita sedang berada dalam fase kehidupan yang penuh tekanan.


Boleh jadi kita sedang menghadapi pilihan yang sulit.


Boleh jadi kita sedang berada di persimpangan antara apa yang kita inginkan dan apa yang Allah cintai.


Maka jangan hanya meminta agar Allah menghilangkan kesulitan.


Mintalah agar Allah memberikan rahmat di tengah kesulitan dan memberikan rasyad dalam setiap keputusan.


Sebab tujuan seorang mukmin bukan sekadar sampai di suatu tempat.


Tujuannya adalah sampai kepada Allah dengan iman yang tetap terjaga.


«اللهم آتنا من لدنك رحمة وهيئ لنا من أمرنا رشدا.»


«“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan arahkanlah seluruh urusan kami menuju petunjuk dan kebaikan.”»

DI MUHAMMADIYAH, NASAB BUKAN TIKET KEILMUAN

 *DI MUHAMMADIYAH, NASAB BUKAN TIKET KEILMUAN*





Oleh: Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat


Ada satu hal yang harus dipahami sejak awal:


Muhammadiyah tidak dibangun di atas kebanggaan nasab. Muhammadiyah dibangun di atas ilmu, amal, tajdid, dan pengabdian.


Di Muhammadiyah, seseorang tidak menjadi mulia hanya karena memiliki garis keturunan tertentu. Tidak ada gelar yang otomatis menjadikan seseorang ulama.


Kalau pertanyaannya, “Di mana habib di Muhammadiyah?”


Jawabannya sederhana:


Muhammadiyah tidak menjadikan gelar habib sebagai ukuran kepemimpinan keilmuan.


Bukan berarti Muhammadiyah memusuhi keturunan Rasulullah ﷺ. Sama sekali bukan.


Justru kita wajib menghormati Ahlul Bait dan mencintai Rasulullah ﷺ.


Tetapi cinta kepada Rasulullah tidak boleh membuat kita mematikan akal sehat dalam menilai ilmu.


Nasab adalah kemuliaan yang harus dihormati.


Tetapi ilmu harus tetap dipelajari.

Akhlak harus tetap dibuktikan.

Dalil harus tetap diperiksa.

Pendapat harus tetap diuji.


Di Muhammadiyah, pertanyaan utamanya bukan:


«“Keturunan siapa Anda?”»


Tetapi:


«“Apa ilmu Anda?”

“Apa dalil Anda?”

“Apa kontribusi Anda?”»


Inilah salah satu karakter penting tradisi Muhammadiyah.


Ulama tidak lahir karena gelar. Ulama lahir karena proses.


Ia belajar bertahun-tahun.

Membaca kitab.

Menguasai bahasa Arab.

Memahami Al-Qur'an dan Sunnah.

Menguasai ushul fikih.

Memahami maqashid syariah.

Mengenal khazanah turats.

Berani berdiskusi.

Dan yang paling penting: memiliki integritas moral.


Karena itu, jangan berharap seseorang dihormati sebagai ulama hanya karena masyarakat memanggilnya dengan gelar tertentu.


Gelar boleh diberikan manusia.

Tetapi kapasitas keilmuan harus dibuktikan.


Muhammadiyah tidak membutuhkan kultus terhadap tokoh.


Muhammadiyah membutuhkan ulama yang berilmu, kader yang kritis, dan pemimpin yang bekerja.


Kita harus berani mengatakan:


Nasab tidak boleh menggantikan ilmu.


Sebagaimana jabatan tidak boleh menggantikan kerja.


Sebagaimana popularitas tidak boleh menggantikan integritas.


Sebagaimana gelar tidak boleh menggantikan kapasitas.


Maka kalau ada yang bertanya mengapa di Muhammadiyah tidak menjadikan gelar habib sebagai ukuran utama?


Karena Muhammadiyah memiliki prinsip yang sederhana:


Yang dihormati adalah ilmunya.

Yang dinilai adalah amalnya.

Yang diikuti adalah kebenarannya.

Bukan sekadar siapa leluhurnya.


Dan justru di sinilah tantangan kader Muhammadiyah hari ini.


Jangan hanya mencetak kader yang pandai berorganisasi. Cetaklah kader yang mampu menjadi ulama.


Ulama yang kuat nasab keilmuannya.

Kuat tradisi belajarnya.

Kuat metodologinya.

Kuat akhlaknya.

Dan kuat keberaniannya dalam mempertahankan kebenaran.


Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan umat bukan gelar yang melekat di depan nama.


Tetapi ilmu yang diamalkan dan kebenaran yang diperjuangkan.


Muhammadiyah tidak anti-nasab.

Muhammadiyah anti-kultus.

Muhammadiyah tidak merendahkan keturunan.

Muhammadiyah menolak menjadikan keturunan sebagai pengganti ilmu.


Karena dalam tradisi keilmuan, kemuliaan nasab harus berjalan bersama kemuliaan ilmu dan akhlak.


— Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat

Jumat, 04 September 2026

Korelasi Bahasa Arab dan Muballigh dalam Dakwah

 Korelasi Bahasa Arab dan Muballigh dalam Dakwah



Bahasa Arab bukan sekadar bahasa komunikasi, tetapi salah satu kunci untuk memahami sumber utama ajaran Islam. Bagi seorang muballigh, kemampuan berbahasa Arab memiliki korelasi yang erat dengan kualitas dakwah: semakin baik penguasaan bahasa Arab, semakin luas pula peluang untuk memahami Al-Qur’an, Sunnah, serta khazanah keilmuan Islam secara langsung dan mendalam.


Allah ﷻ berfirman:


«إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون


“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya.”

(QS. Yusuf: 2)»


Ayat ini menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki posisi penting dalam proses memahami wahyu. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, demikian pula sebagian besar hadis dan karya-karya ulama Islam ditulis dalam bahasa tersebut.


Karena itu, seorang muballigh tidak cukup hanya mampu menyampaikan pesan agama, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, menelaah, dan menyampaikan ajaran Islam berdasarkan sumbernya.


Imam Asy-Syafi’i رحمه الله memberikan perhatian besar terhadap bahasa Arab. Beliau menegaskan bahwa mempelajari bahasa Arab merupakan bagian penting dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, beliau menyatakan:


«فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده


“Setiap Muslim hendaknya mempelajari bahasa Arab sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.”»


Sementara itu, Umar bin Khattab رضي الله عنه dikenal memberikan dorongan kepada kaum Muslimin untuk mempelajari bahasa Arab karena ia berkaitan erat dengan pemahaman agama.


Bahasa Arab juga membantu muballigh menghindari kesalahan dalam memahami teks-teks syariat. Perbedaan harakat, struktur kalimat, bentuk kata, atau kedudukan gramatikal terkadang dapat memengaruhi makna sebuah teks. Di sinilah ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan penguasaan mufradat menjadi instrumen penting bagi seorang dai.


Namun demikian, bahasa Arab bukanlah tujuan akhir. Ia adalah wasilah menuju pemahaman agama yang lebih benar dan mendalam. Seorang muballigh yang menguasai bahasa Arab diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca kitab, tetapi mampu menghadirkan pesan Islam dengan bahasa yang relevan, argumentasi yang kuat, dan pendekatan yang bijaksana.


Dakwah membutuhkan ilmu, dan ilmu membutuhkan pemahaman terhadap sumbernya. Maka, membekali muballigh dengan kemampuan bahasa Arab sejatinya adalah membangun fondasi intelektual dakwah.


Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, muballigh tidak hanya dituntut pandai berbicara, tetapi juga mampu membaca khazanah keislaman secara kritis dan bertanggung jawab. Karena itu, menguatkan bahasa Arab berarti menguatkan kualitas kader dakwah dan memperluas akses terhadap warisan keilmuan Islam.


«اللغة العربية مفتاح لفهم الكتاب والسنة


“Bahasa Arab adalah kunci untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah.”»


Dengan demikian, hubungan antara bahasa Arab dan muballigh bukan sekadar hubungan antara bahasa dan profesi, melainkan hubungan antara alat, ilmu, dan amanah dakwah. Semakin kokoh alatnya, semakin kuat pula bekal seorang muballigh dalam membawa risalah Islam kepada umat.


Kamis, 03 September 2026

TIDAK SEMUA YANG PANDAI CERAMAH LAYAK DISEBUT ULAMA

 TIDAK SEMUA YANG CERAMAH LAYAK DISEBUT ULAMA



Mengukur Keulamaan dengan Syurūṭ ‘Ilmiyyah dan Syurūṭ Syakhṣiyyah


Oleh: Aya Syophia Miza, M.A

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat


Di zaman media sosial, seseorang bisa menjadi terkenal hanya karena pandai berbicara. Ribuan pengikut dapat diperoleh dalam waktu singkat. Video ceramah dapat ditonton jutaan kali. Nama seseorang dapat viral dan kemudian dianggap sebagai tokoh agama.


Tetapi ada satu pertanyaan penting yang sering kita lupakan:


Apakah popularitas otomatis menjadikan seseorang ulama?


Jawabannya: tidak.


Pandai berbicara agama tidak otomatis berarti mendalam dalam ilmu agama. Banyak pengikut tidak otomatis menunjukkan kapasitas keilmuan. Gelar akademik tidak otomatis menjadikan seseorang faqih. Bahkan sering tampil di mimbar tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki kapasitas untuk memberikan fatwa.


Keulamaan memiliki standar.


Setidaknya ada dua syarat besar yang harus diperhatikan: syurūṭ ‘ilmiyyah dan syurūṭ syakhṣiyyah.


---


1. SYURŪṬ ‘ILMIYYAH: JANGAN BERBICARA SEBELUM BERILMU


Ulama bukan sekadar orang yang mempunyai keberanian berbicara tentang agama.


Ulama harus memiliki perangkat ilmu.


Ia harus memahami Al-Qur'an, hadis, bahasa Arab, fikih, ushul fikih, qawa'id fiqhiyyah, maqashid al-syari'ah, turats, serta metodologi istinbath hukum.


Lebih dari itu, ia harus mampu memahami realitas persoalan yang sedang dihadapi umat.


Sebab persoalan kontemporer tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mencari satu ayat atau satu hadis.


Ada proses panjang:


Tasawwur → Takyif Fiqhi → Dalil → Istinbath → Maqashid → Analisis Dampak → Kesimpulan Hukum.


Di sinilah letak perbedaan antara orang yang menyampaikan agama dengan orang yang memiliki otoritas keilmuan untuk melakukan kajian hukum agama.


Tidak semua penceramah adalah mufti.


Tidak semua ustadz adalah faqih.


Tidak semua lulusan perguruan tinggi agama adalah ahli fatwa.


Dan tidak semua orang yang menggunakan istilah Arab dalam ceramahnya memahami metodologi istinbath.


Agama terlalu besar untuk dijadikan wilayah coba-coba.


---


2. SYURŪṬ SYAKHṢIYYAH: ILMU TANPA AKHLAK BISA MENJADI FITNAH


Ada orang yang ilmunya tinggi, tetapi rendah akhlaknya.


Ada yang pandai berargumentasi, tetapi tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya.


Ada yang menguasai kitab, tetapi mudah merendahkan orang lain.


Ada yang berbicara tentang sunnah, tetapi lisannya tidak mencerminkan akhlak sunnah.


Padahal ulama bukan hanya dinilai dari apa yang keluar dari mulutnya, tetapi juga dari bagaimana ia menjalani kehidupannya.


Ilmu seharusnya melahirkan khasyyah kepada Allah:


«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»


"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."

(QS. Fathir: 28)


Karena itu, seorang ulama harus memiliki:


Ikhlas.

Tidak menjadikan agama sebagai kendaraan popularitas.


Tawadhu'.

Tidak merasa dirinya paling benar dan paling tahu.


Wara'.

Berhati-hati dalam berbicara tentang halal dan haram.


Amanah.

Tidak menggunakan dalil untuk membenarkan kepentingan pribadi atau kelompok.


Sabar.

Tidak mudah terpancing oleh kritik dan perbedaan.


Akhlak.

Karena umat membutuhkan teladan, bukan hanya retorika.


---


JANGAN MENUKAR KEILMUAN DENGAN POPULARITAS


Inilah tantangan besar kaderisasi ulama hari ini.


Kita hidup dalam zaman ketika algoritma media sosial dapat menentukan siapa yang terkenal, tetapi algoritma tidak dapat menentukan siapa yang paling alim.


Viral bukan berarti benar.


Banyak penonton bukan berarti banyak ilmu.


Banyak undangan ceramah bukan berarti memiliki kapasitas untuk berijtihad.


Jumlah pengikut bukan ukuran keulamaan.


Keulamaan dibangun melalui proses panjang yang tidak selalu terlihat kamera.


Duduk bertahun-tahun di hadapan guru.


Membaca kitab.


Menghafal.


Meneliti.


Berdiskusi.


Mengoreksi kesalahan.


Belajar bahasa Arab.


Memahami ushul fikih.


Mengenal khilaf ulama.


Memahami realitas umat.


Dan yang paling penting: mengamalkan ilmu serta menjaga ketakwaan.


---


ULAMA BUKAN STATUS, TETAPI AMANAH


Menjadi ulama bukan sekadar mendapatkan pengakuan sosial.


Ia adalah amanah.


Ketika seseorang berbicara atas nama agama, ada konsekuensi besar di balik perkataannya.


Karena itu, seorang calon ulama harus memiliki keberanian untuk mengatakan:


«لَا أَعْلَمُ»


"Saya tidak tahu."


Kalimat tersebut bukan tanda kebodohan.


Justru terkadang itulah tanda kedewasaan ilmiah.


Orang yang belum matang secara keilmuan sering merasa harus menjawab semua pertanyaan.


Sedangkan orang yang benar-benar berilmu mengetahui batas pengetahuannya.


Tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan segera.


Terkadang jawaban paling ilmiah adalah:


"Saya perlu meneliti terlebih dahulu."


---


KADER ULAMA HARUS DIBENTUK, BUKAN DICETAK INSTAN


Jika umat ingin memiliki ulama yang berkualitas, maka proses kaderisasi tidak boleh instan.


Kita membutuhkan lembaga yang serius membangun:


العِلْمُ + المَنْهَجُ + الأَخْلَاقُ + العَمَلُ


Ilmu + metodologi + akhlak + pengamalan.


Kader ulama harus memiliki kemampuan membaca turāts, tetapi juga memahami persoalan zaman.


Menguasai khazanah klasik, tetapi mampu membaca perkembangan teknologi.


Menguasai fikih, tetapi memahami realitas masyarakat.


Menguasai dalil, tetapi memahami maqashid.


Mampu berijtihad, tetapi tetap rendah hati.


Inilah ulama yang dibutuhkan umat.


---


PENUTUP: SIAPA YANG LAYAK DISEBUT ULAMA?


Maka jangan terlalu mudah memberikan gelar ulama kepada seseorang hanya karena ia sering berada di atas mimbar.


Jangan ukur keulamaan dari jumlah pengikut.


Jangan ukur keulamaan dari popularitas.


Jangan ukur keulamaan dari banyaknya undangan.


Jangan ukur keulamaan hanya dari gelar akademik.


Ukur dengan dua hal:


SYURŪṬ ‘ILMIYYAH


Apakah ia memiliki ilmu dan metodologi yang memadai?


SYURŪṬ SYAKHṢIYYAH


Apakah ilmu tersebut melahirkan ketakwaan, integritas, amanah, dan akhlak?


Karena umat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang Islam.


Umat membutuhkan orang yang benar-benar berilmu, memahami metodologi, mengamalkan ilmunya, menjaga amanah, dan mampu menjadi teladan.


Sebab menjadi ulama bukan tentang seberapa banyak orang mengenal nama kita.


Menjadi ulama adalah tentang seberapa besar kita mampu menjaga amanah ilmu di hadapan Allah.


«العَالِمُ لَيْسَ مَنْ يَعْرِفُ كَثِيرًا فَقَطْ، بَلْ مَنْ يَعْرِفُ الْحَقَّ وَيَعْمَلُ بِهِ وَيَدْعُو إِلَيْهِ بِالْحِكْمَةِ.»


Ulama bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal, tetapi orang yang mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajak kepadanya dengan hikmah.

Selasa, 24 Desember 2024

Masa 2001 -2024

                            

Kota yang bergerak tertidur

Mengangkat kepala seperti mengucapkan tidak ada kegelisahan


Setelah aku ingin menangkap mimpi juga keinginan

Aku percaya semakin mengejarnya semakin jauh jaraknya


Waktu ini tidak akan ada lagi, jangan lari

Menghentikannya dan menangis , hal seperti itu

Dapat dilakukan kapanpun


Ketika aku berhenti memikirkan hal itu, aku takut

Aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas kehidupan sehari-hari


Saat saling terluka karena menginginkan sesuatu

Selama masa yang tidak menentu

Kita waktu itu...



"Bagaimana kabarmu?" penerima telepon yang tak berfungsi

Suara yang selalu memberiku keberanian


Menerima seluruh senyuman juga tangisan

pada masa depan di mana kita bisa hidup,


Suatu hari, entah kapan, pasti

Keinginan kita akan sampai

Karena aku percaya

Senin, 18 Maret 2024

Jadwal Ramadhan Taqwa 1446 H/2025

 Jadwal Ramadhan Taqwa 1446 H/2025

28/2/25 T : KiJal Atri Tanjung, SH.MH

01/3/25 T : Drs.Marhadi Efendi,M.Si

02/3/25 T : Prof.Dr.Rusydi AM,Lc,M.Ag

03/3/25 T : Drs.H.Nurman Agus

04/3/25 T : Dr.Firdaus,M.H.I

05/3/25 T : Dr.Buchari M.,M.Ag

06/3/25 T : Dr.Suhefri, MAg

07/3/25 T : Drs.Zaitul Ikhlas,M.Si

08/3/25 T : Hendri Novigator,S.Psi.I,M.Pd

09/3/25 T : Prof.Dr.Ikhwan, M.Ag

10/3/25 T :  Dr.Riki Saputra, MA

11/3/25 T : Dr.Mursal,M.Ag

12/3/25 T : Drs. H.Hafizurrahman, M.A

13/3/25 T : Buya Muslim Hamid,M.H.I

14/3/25 T : Prof.Dr.H.Sobhan,M.A

15/3/25 T : Jel Fatullah, Lc

16/3/25 T : Drs.Adrian Muis Ch.Saripado

17/3/25 T : Suprizen, M.A

18/3/25 T : Dr.H. Muslim Tawakal, SH,M.Pd

19/3/25 T : Dr.Zaim Rais, MA

 20/3/25 T : Solsafad, S.Pd.I, M.Ag

21/3/25  T : Iskandar, M.H.I

22/3/25 T : 

23/3/25 T : H.Amora Lubis,S.Sos.I

24/3/25 T : M.Rifki, M.Ag

25/3/25 T : Dr. Zulheldi, M.Ag

26/3/25 T :  Sabarudin Herman,S.Sos.,M.M

27/3/25 T : Zainal Akil, S.Pd

28/3/25 T : Drs.Zufrizal 

29/3/25 T : Takbiran 

30/3/25.    : Idul Fitri 1446 (................)


Imam Taraweh

28-4. . : Riwa Putra

5-9       : Syamsurizal

10-14. : Lahmi

15-19  : michael

20-24   : Syaflin Halim

25 - 28 : Iman Harian