KETIKA RETORIKA LEBIH BESAR DARIPADA ILMU
Oleh:
Angga Fernando Gustian,Lc.,M.A
Anggota Komisi Fatwa Metodologi MUI Sumatera Barat
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Sekretaris PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat
Ketika suara di mimbar semakin lantang, tetapi kedalaman ilmu justru semakin dipertanyakan
Ada fenomena yang layak direnungkan dalam dunia dakwah hari ini: semakin mudah seseorang berbicara tentang agama, tetapi tidak selalu semakin mudah menemukan orang yang benar-benar memiliki kapasitas keilmuan untuk berbicara atas nama agama.
Mimbar semakin ramai. Konten semakin banyak. Kamera semakin mudah. Algoritma semakin menentukan siapa yang didengar.
Seseorang yang pandai berbicara dapat dengan mudah memperoleh perhatian. Ia mampu membuat jamaah tertawa, menangis, kagum, bahkan terdiam.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar:
“Seberapa menarik ceramahnya?”
Pertanyaannya adalah:
“Seberapa kuat ilmu yang berada di balik ceramah tersebut?”
Sebab dalam agama, retorika adalah alat untuk menyampaikan ilmu, bukan pengganti ilmu.
Suara yang lantang bukan sanad keilmuan.
Popularitas bukan ijazah.
Jumlah pengikut bukan ukuran kefaqihan.
Dan kemampuan memenangkan perdebatan tidak otomatis menunjukkan seseorang memahami agama.
---
1. AL-QURAN MEMERINTAHKAN BERTANYA KEPADA AHLI ILMU
Allah Ta'ala berfirman:
«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.”
QS. an-Nahl: 43.
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting: ketidaktahuan bukan aib, tetapi berbicara tanpa ilmu adalah persoalan yang serius.
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk menjawab semua pertanyaan hanya karena ia memiliki mikrofon.
Jika tidak mengetahui, maka bertanya.
Jika belum memahami, maka belajar.
Jika belum memiliki kapasitas, maka merujuk kepada ahlinya.
Masalahnya muncul ketika seseorang belum selesai belajar tetapi sudah merasa selesai memahami agama.
Lebih berbahaya lagi ketika ketidaktahuan tersebut ditutupi dengan retorika.
---
2. RASULULLAH ﷺ MEMPERINGATKAN TENTANG “PEMIMPIN-PENGAJAR” YANG JAHIL
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu memberikan fatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan.”
HR. al-Bukhari no. 100.
Perhatikan dua kalimat terakhir:
«فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Mereka sesat dan menyesatkan.”
Inilah titik bahayanya.
Ketidaktahuan seseorang mungkin hanya merusak dirinya.
Tetapi ketika orang yang tidak berilmu mulai berbicara sebagai rujukan agama, kesalahannya dapat berpindah kepada jamaah.
Satu kesalahan disampaikan dari mimbar.
Kemudian direkam.
Diposting.
Dipendekkan menjadi reels.
Dibagikan ribuan orang.
Lalu dianggap sebagai “pendapat agama”.
Kesalahan pribadi berubah menjadi kesalahan publik.
---
3. “ILMU INI ADALAH AGAMA”—MUHAMMAD BIN SIRIN
Salah satu perkataan salaf yang sangat terkenal datang dari Muhammad bin Sirin رحمه الله:
«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, dan secara jelas dinisbatkan kepada Muhammad bin Sirin, bukan kepada Nabi ﷺ.
Kalimat ini sangat relevan dengan zaman kita.
Hari ini orang sering bertanya:
“Followers-nya berapa?”
“Videonya viral?”
“Subscriber-nya jutaan?”
“Banyak yang datang kajiannya?”
Tetapi ulama salaf mengajarkan pertanyaan yang berbeda:
«عَمَّنْ تَأْخُذُ دِينَكَ؟»
“Dari siapa engkau mengambil agamamu?”
Siapa gurunya?
Di mana ia belajar?
Apa yang ia pelajari?
Bagaimana metode istinbath-nya?
Bagaimana ia memahami Al-Qur'an?
Bagaimana ia memverifikasi hadis?
Apakah ia memahami bahasa Arab?
Apakah ia mengetahui kaidah ushul fikih?
Apakah ia memahami perbedaan antara perkara yang disepakati dan perkara yang diperselisihkan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang seharusnya lebih penting daripada sekadar jumlah penonton.
---
4. BAHAYA BERBICARA TENTANG AL-QURAN TANPA ILMU
Allah Ta'ala berfirman:
«قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ»
“Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, permusuhan tanpa hak, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak Dia turunkan keterangannya, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.”
QS. al-A'raf: 33.
Perhatikan bagaimana berbicara tentang Allah tanpa ilmu disebutkan dalam rangkaian perkara yang sangat berat.
Karena itu, seorang muballigh harus memiliki rasa takut ketika mengutip ayat, menjelaskan hukum, menafsirkan dalil, atau menyampaikan hadis.
Bukan hanya takut salah di depan jamaah.
Tetapi takut salah atas nama Allah dan Rasul-Nya.
---
5. SALAF TAKUT BERBICARA TANPA ILMU
Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه pernah berkata ketika ditanya mengenai suatu ayat:
«أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي، وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي، إِذَا قُلْتُ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا لَا أَعْلَمُ»
“Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan membawaku jika aku mengatakan tentang Kitab Allah sesuatu yang tidak aku ketahui?”
Atsar ini diriwayatkan dalam sejumlah karya ulama dalam pembahasan tentang kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur'an.
Renungkan.
Ini adalah Abu Bakar رضي الله عنه.
Sahabat Nabi ﷺ.
Orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ.
Orang yang memiliki kedudukan luar biasa dalam ilmu dan iman.
Namun ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak diketahuinya, ia takut berbicara.
Hari ini?
Kadang baru membaca beberapa buku, menonton beberapa video, kemudian merasa siap menjawab hampir seluruh persoalan umat.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.
---
6. “LA ADRI” BUKAN KELEMAHAN—IA ADALAH KEJUJURAN ILMIAH
Di antara kebiasaan para ulama adalah keberanian mengatakan:
«لَا أَدْرِي»
“Saya tidak tahu.”
Imam Malik رحمه الله dikenal dengan sikap tersebut. Bahkan Ibn Wahb meriwayatkan:
«لَوْ كَتَبْنَا عَنْ مَالِكٍ: لَا أَدْرِي، لَمَلَأْنَا الْأَلْوَاحَ»
“Seandainya kami menulis dari Malik hanya perkataan ‘Aku tidak tahu’, niscaya kami akan memenuhi lembaran-lembaran.”
Kisah tentang kehati-hatian Imam Malik dalam menjawab pertanyaan juga disebutkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlih.
Bahkan disebutkan bahwa Imam Malik pernah ditanya sejumlah persoalan dan berkali-kali menjawab:
«لَا أَدْرِي»
Bukan karena beliau tidak berilmu.
Justru karena beliau tahu batas ilmunya.
Orang yang benar-benar berilmu memahami bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab.
---
7. MASALAHNYA BUKAN DA'I YANG TIDAK SEMPURNA
Perlu ditegaskan: artikel ini bukan seruan untuk merendahkan para da'i, muballigh, ustaz, atau penceramah.
Tidak semua muballigh harus menjadi mujtahid.
Tidak semua penceramah harus menguasai seluruh cabang ilmu Islam.
Dan tidak semua kesalahan dalam ceramah berarti seseorang tidak berilmu.
Manusia tetap bisa salah.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang:
- tidak memiliki bekal ilmu yang memadai,
- berbicara tentang hukum agama dengan penuh kepastian,
- tidak mau merujuk kepada ahli,
- menyampaikan hadis tanpa verifikasi,
- menafsirkan ayat berdasarkan selera pribadi,
- kemudian menjadikan popularitas sebagai legitimasi keilmuan.
Itulah yang harus dikritik.
Sebab dakwah membutuhkan amanah ilmiah, bukan sekadar keberanian tampil.
---
8. RETORIKA ADALAH SENJATA—TETAPI TANPA ILMU IA BISA MENJADI BENCANA
Kemampuan retorika sebenarnya adalah sesuatu yang baik.
Seorang da'i perlu mampu menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang mudah.
Ia perlu mampu menyentuh hati.
Ia perlu memahami kondisi masyarakat.
Ia perlu mampu menyampaikan pesan dengan menarik.
Namun retorika seharusnya menjadi kendaraan bagi ilmu, bukan kendaraan untuk menutupi ketiadaan ilmu.
Jika ilmu kuat dan retorika kuat, dakwah menjadi indah.
Jika ilmu kuat tetapi retorika lemah, pesan masih dapat diperbaiki.
Tetapi jika retorika kuat sementara ilmu kosong, maka masyarakat berpotensi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya:
kesalahan yang terdengar seperti kebenaran.
Dan inilah yang harus kita waspadai.
---
9. JANGAN JADIKAN VIRALITAS SEBAGAI SANAD
Di zaman digital, ada satu kekeliruan baru yang semakin sering terjadi:
orang mengira sesuatu benar karena banyak yang menontonnya.
Padahal:
viral ≠ benar.
banyak followers ≠ alim.
pandai berbicara ≠ faqih.
sering tampil di televisi ≠ ahli hadis.
fasih berbahasa Arab ≠ otomatis menguasai seluruh ilmu syariat.
Dan memiliki gelar akademik ≠ otomatis memahami seluruh persoalan agama.
Sebaliknya, seseorang yang jarang tampil di media juga belum tentu tidak berilmu.
Maka ukuran keilmuan harus kembali kepada ilmu, amanah, metodologi, guru, karya, dan kapasitasnya dalam disiplin yang ia bicarakan.
---
10. UMAT JUGA HARUS BELAJAR MEMILIH RUJUKAN
Tanggung jawab tidak hanya berada pada pundak da'i.
Jamaah juga memiliki tanggung jawab.
Jangan hanya bertanya:
“Siapa yang paling menarik?”
Tetapi bertanyalah:
“Siapa yang paling layak menjadi rujukan dalam bidang ini?”
Untuk persoalan hadis, lihat kemampuan hadisnya.
Untuk fikih, lihat kapasitas fikihnya.
Untuk tafsir, lihat kompetensinya dalam tafsir dan ulum Al-Qur'an.
Untuk bahasa Arab, lihat kemampuan kebahasaannya.
Untuk persoalan kontemporer, lihat penguasaan terhadap persoalan sekaligus metodologi syariatnya.
Jangan meminta jawaban dari orang yang memang tidak memiliki kompetensi pada persoalan tersebut.
---
PENUTUP
DAKWAH TIDAK MEMBUTUHKAN ORANG YANG SEKADAR BERANI BERBICARA
Umat tidak kekurangan orang yang mampu berbicara.
Yang lebih dibutuhkan adalah orang yang takut berbicara tanpa ilmu.
Orang yang ketika tahu, ia menjelaskan.
Ketika tidak tahu, ia mengatakan:
«لَا أَدْرِي»
Ketika keliru, ia mengoreksi.
Ketika menemukan dalil yang lebih kuat, ia tunduk.
Ketika menghadapi persoalan yang berada di luar kapasitasnya, ia berkata:
«سَلُوا أَهْلَ الْعِلْمِ»
“Tanyakan kepada orang-orang yang berilmu.”
Karena dakwah bukan sekadar seni memengaruhi manusia.
Dakwah adalah amanah menyampaikan agama Allah.
Dan amanah sebesar itu tidak cukup dipikul dengan mikrofon, kamera, kepercayaan diri, dan retorika.
Ia membutuhkan ilmu, sanad keilmuan, adab, ketelitian, dan rasa takut kepada Allah.
Sebab Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat jelas:
«فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. al-Bukhari no. 100)
Maka sebelum kita bertanya:
“Seberapa viral dakwahnya?”
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
«مَنْ شُيُوخُهُ؟ وَمِنْ أَيْنَ أَخَذَ عِلْمَهُ؟»
“Siapa guru-gurunya? Dan dari mana ia mengambil ilmunya?”
Sebab sebagaimana Muhammad bin Sirin رحمه الله mengingatkan:
«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”






