Minggu, 06 September 2026

JANGAN JADIKAN GELAR SEBAGAI DALIL

 JANGAN JADIKAN GELAR SEBAGAI DALIL



Oleh: Aya Syophia Miza, M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Gelar bukan jaminan keilmuan. Jabatan bukan bukti kebenaran. Popularitas bukan ukuran ketakwaan.


Di zaman ketika gelar akademik semakin mudah dipajang di belakang nama, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai umat lebih mudah tunduk kepada gelar daripada kepada dalil.


Seseorang bergelar doktor belum tentu memahami seluruh persoalan agama. Seseorang yang bergelar profesor tidak otomatis benar dalam setiap pendapatnya. Demikian pula seseorang yang populer di media sosial tidak otomatis lebih alim daripada mereka yang hidupnya jauh dari sorotan kamera.


Islam tidak mengajarkan kita mengukur kebenaran dari siapa yang berbicara, tetapi dari apa yang dibicarakan.


Allah berfirman:


«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»


“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)


Perhatikan: Al-Qur’an menyebut ahludz-dzikr, orang yang memiliki ilmu dan kapasitas, bukan sekadar orang yang memiliki gelar.


Karena itu, jangan bertanya hanya, “Siapa yang mengatakan?”


Tetapi tanyakan juga:


“Apa dalilnya?”

“Dari mana sumbernya?”

“Bagaimana pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah?”

“Bagaimana para ulama memahami dalil tersebut?”


Gelar adalah identitas akademik. Ia penting dan patut dihargai. Tetapi gelar bukan sertifikat bahwa pemiliknya selalu benar.


Begitu pula jubah, sorban, keturunan, jabatan, organisasi, jumlah pengikut, dan popularitas—semuanya bukan standar mutlak kebenaran.


Kebenaran tetap harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman ilmu yang benar.


Nabi ﷺ bersabda:


«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»


“Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”


Maka umat harus dididik menjadi cerdas dalam menerima pendapat.


Jangan karena seseorang bergelar tinggi, semua ucapannya langsung dianggap benar.


Jangan karena seseorang tidak memiliki gelar akademik, semua perkataannya langsung dianggap tidak bernilai.


Hormati ulama, tetapi jangan mengultuskan manusia. Hargai gelar, tetapi jangan menyembah gelar. Dengarkan pendapat, tetapi timbang dengan dalil.


Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan panjangnya gelar di belakang nama, tetapi benarnya iman, luasnya ilmu, baiknya amal, dan ketundukan kepada kebenaran.


Mari kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.


Bukan kembali kepada fanatisme terhadap tokoh.


Bukan kembali kepada kebanggaan terhadap gelar.


Bukan pula kembali kepada popularitas.


Kembali kepada dalil. Kembali kepada ilmu. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.


Karena gelar bisa dicantumkan di kartu nama, tetapi ilmu harus dibuktikan dengan hujjah dan amal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar