Minggu, 06 September 2026

DI MUHAMMADIYAH, NASAB BUKAN TIKET KEILMUAN

 *DI MUHAMMADIYAH, NASAB BUKAN TIKET KEILMUAN*





Oleh: Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat


Ada satu hal yang harus dipahami sejak awal:


Muhammadiyah tidak dibangun di atas kebanggaan nasab. Muhammadiyah dibangun di atas ilmu, amal, tajdid, dan pengabdian.


Di Muhammadiyah, seseorang tidak menjadi mulia hanya karena memiliki garis keturunan tertentu. Tidak ada gelar yang otomatis menjadikan seseorang ulama.


Kalau pertanyaannya, “Di mana habib di Muhammadiyah?”


Jawabannya sederhana:


Muhammadiyah tidak menjadikan gelar habib sebagai ukuran kepemimpinan keilmuan.


Bukan berarti Muhammadiyah memusuhi keturunan Rasulullah ﷺ. Sama sekali bukan.


Justru kita wajib menghormati Ahlul Bait dan mencintai Rasulullah ﷺ.


Tetapi cinta kepada Rasulullah tidak boleh membuat kita mematikan akal sehat dalam menilai ilmu.


Nasab adalah kemuliaan yang harus dihormati.


Tetapi ilmu harus tetap dipelajari.

Akhlak harus tetap dibuktikan.

Dalil harus tetap diperiksa.

Pendapat harus tetap diuji.


Di Muhammadiyah, pertanyaan utamanya bukan:


«“Keturunan siapa Anda?”»


Tetapi:


«“Apa ilmu Anda?”

“Apa dalil Anda?”

“Apa kontribusi Anda?”»


Inilah salah satu karakter penting tradisi Muhammadiyah.


Ulama tidak lahir karena gelar. Ulama lahir karena proses.


Ia belajar bertahun-tahun.

Membaca kitab.

Menguasai bahasa Arab.

Memahami Al-Qur'an dan Sunnah.

Menguasai ushul fikih.

Memahami maqashid syariah.

Mengenal khazanah turats.

Berani berdiskusi.

Dan yang paling penting: memiliki integritas moral.


Karena itu, jangan berharap seseorang dihormati sebagai ulama hanya karena masyarakat memanggilnya dengan gelar tertentu.


Gelar boleh diberikan manusia.

Tetapi kapasitas keilmuan harus dibuktikan.


Muhammadiyah tidak membutuhkan kultus terhadap tokoh.


Muhammadiyah membutuhkan ulama yang berilmu, kader yang kritis, dan pemimpin yang bekerja.


Kita harus berani mengatakan:


Nasab tidak boleh menggantikan ilmu.


Sebagaimana jabatan tidak boleh menggantikan kerja.


Sebagaimana popularitas tidak boleh menggantikan integritas.


Sebagaimana gelar tidak boleh menggantikan kapasitas.


Maka kalau ada yang bertanya mengapa di Muhammadiyah tidak menjadikan gelar habib sebagai ukuran utama?


Karena Muhammadiyah memiliki prinsip yang sederhana:


Yang dihormati adalah ilmunya.

Yang dinilai adalah amalnya.

Yang diikuti adalah kebenarannya.

Bukan sekadar siapa leluhurnya.


Dan justru di sinilah tantangan kader Muhammadiyah hari ini.


Jangan hanya mencetak kader yang pandai berorganisasi. Cetaklah kader yang mampu menjadi ulama.


Ulama yang kuat nasab keilmuannya.

Kuat tradisi belajarnya.

Kuat metodologinya.

Kuat akhlaknya.

Dan kuat keberaniannya dalam mempertahankan kebenaran.


Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan umat bukan gelar yang melekat di depan nama.


Tetapi ilmu yang diamalkan dan kebenaran yang diperjuangkan.


Muhammadiyah tidak anti-nasab.

Muhammadiyah anti-kultus.

Muhammadiyah tidak merendahkan keturunan.

Muhammadiyah menolak menjadikan keturunan sebagai pengganti ilmu.


Karena dalam tradisi keilmuan, kemuliaan nasab harus berjalan bersama kemuliaan ilmu dan akhlak.


— Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar