IMAN, TAQWA, DAN PINTU-PINTU KEBERKAHAN
Tadabbur QS. Al-A‘rof: 96 dalam Cahaya Tafsir dan Sunnah
Oleh:
Angga Fernando Gustian, Lc., M.A
Anggota Komisi Fatwa & Metodologi MUI Sumatera Barat
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Sekretaris PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat
---
Pembukaan: Sebuah Ayat tentang Negeri yang Diberkahi
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh.
Ada sebuah pertanyaan yang sering bersembunyi di balik perjalanan hidup manusia:
Mengapa ada kehidupan yang tampak sederhana, tetapi terasa lapang?
Dan mengapa ada kehidupan yang dipenuhi berbagai kenikmatan, tetapi hati tetap merasa sempit?
Al-Qur'an tidak selalu mengajarkan kita untuk mengejar banyak.
Al-Qur'an mengajarkan kita untuk mencari berkah.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
> ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”
QS. Al-A‘rāf: 96.
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang individu.
Ia berbicara tentang penduduk negeri.
Tentang masyarakat.
Tentang sebuah komunitas yang kehidupannya dapat menjadi pintu bagi turunnya rahmat Allah—atau sebaliknya, menjadi sebab datangnya berbagai akibat dari perbuatan manusia.
---
Pertama — Bagaimana Ulama Mu‘tabar Menjelaskan Ayat Ini?
Al-Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa maksud “āmanū wattaqaw” adalah mereka membenarkan para rasul dan mengikuti ajaran mereka, serta menjauhi apa yang Allah larang. Jika demikian, Allah akan membuka bagi mereka berbagai pintu kebaikan.
Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan lebih spesifik: iman adalah pembenaran hati terhadap apa yang dibawa para rasul, sedangkan takwa diwujudkan dengan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Adapun keberkahan dari langit dan bumi ditafsirkan dengan hujan dari langit dan tumbuh-tumbuhan dari bumi.
Sedangkan Al-Qurthubi juga menjelaskan barakāt min as-samā’i wal-ardh dengan hujan dan tumbuh-tumbuhan. Beliau sekaligus memberikan catatan penting: ayat tersebut berbicara mengenai kaum yang disebut dalam rangkaian kisah itu; adapun orang beriman tetap mungkin mengalami kesempitan hidup karena ujian atau sebagai penghapus dosa.
Ini sebuah pelajaran yang sangat penting.
Jangan memahami ayat ini secara mekanis:
> “Kalau seseorang kaya berarti dia pasti paling bertakwa.”
Tidak demikian.
Dan jangan pula mengatakan:
> “Kalau seseorang miskin berarti imannya kurang.”
Juga tidak demikian.
Al-Qurthubi mengingatkan bahwa orang beriman pun dapat diuji dengan kesempitan hidup.
Maka keberkahan tidak identik dengan kemewahan.
---
Kedua — Apa Sesungguhnya Makna “Barakah”?
Perhatikan ayat itu.
Allah tidak mengatakan:
> لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَمْوَالًا
“Pasti Kami limpahkan kepada mereka harta.”
Allah mengatakan:
> لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ
“Pasti Kami bukakan kepada mereka berbagai keberkahan.”
Para mufasir menjelaskan bentuk konkretnya: hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh dari bumi. Tafsir Al-Baghawi juga menjelaskan keberkahan tersebut sebagai hujan dan tumbuhnya tanaman serta terangkatnya kekeringan.
Maka keberkahan adalah sesuatu yang membuat karunia Allah menghasilkan kebaikan dan manfaat.
Bukan hanya bertambah.
Tetapi bermanfaat.
Bukan hanya banyak.
Tetapi membawa kebaikan.
---
Ketiga — Sunnah Nabi: Rezeki Datang Bersama Tawakal dan Ikhtiar
Rasulullah ﷺ bersabda:
> لو أنكم توكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan sejumlah imam hadis; penjelasan ulama terhadapnya menegaskan bahwa burung tidak tinggal diam di sarangnya. Ia keluar mencari rezeki.
Di sini kita menemukan sebuah keseimbangan:
Tawakal ada di hati.
Ikhtiar ada pada anggota badan.
Jangan menjadikan tawakal sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Burung tidak berkata:
> “Aku bertawakal kepada Allah, maka aku tidak perlu terbang.”
Ia terbang.
Ia bergerak.
Ia mencari.
Kemudian Allah memberinya rezeki.
Maka keberkahan hidup tidak berarti meninggalkan usaha. Justru seorang Muslim berusaha dengan sungguh-sungguh, sementara hatinya tidak menggantungkan hasil kepada usahanya, tetapi kepada Allah.
---
Keempat — Kejujuran Adalah Salah Satu Pintu Keberkahan
Ada sebuah hadis yang sangat indah dalam konteks muamalah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما
“Jika keduanya jujur dan menjelaskan keadaan barangnya, keduanya akan diberkahi dalam transaksi mereka. Tetapi jika keduanya berdusta dan menyembunyikan sesuatu, keberkahan transaksi mereka akan dihapus.”
Hadis ini terdapat dalam Sahih Muslim dan juga diriwayatkan dalam Sunan An-Nasa'i.
Perhatikan kalimat Nabi:
> مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Keberkahan jual beli keduanya dihapus.”
Barangnya mungkin tetap terjual.
Uangnya mungkin tetap masuk.
Keuntungannya mungkin tetap tercatat.
Tetapi barakahnya hilang.
Inilah perbedaan antara keuntungan dan keberkahan.
Keuntungan dapat dihitung dengan kalkulator.
Tetapi keberkahan hanya Allah yang mampu meletakkannya.
---
Kelima — Makanan Halal dan Hubungannya dengan Keberkahan
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
Kemudian Nabi ﷺ menyebut seseorang yang bepergian jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu, lalu mengangkat tangannya berdoa:
> يا رب، يا رب
Namun makanan yang ia konsumsi haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia tumbuh dari sesuatu yang haram.
Lalu Nabi ﷺ bertanya:
> فأنى يستجاب لذلك؟
“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
HR. Muslim no. 1015.
Jamaah rahimakumullah,
Ini memberikan pelajaran yang sangat tajam:
Tidak cukup hanya mencari rezeki. Kita harus memperhatikan dari mana rezeki itu datang.
Sebab keberkahan tidak hanya berkaitan dengan berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga bagaimana cara kita mendapatkannya.
---
Keenam — Istighfar dan Terbukanya Pintu Langit
Al-Qur'an juga menghubungkan istighfar dengan turunnya karunia Allah.
Allah mengabadikan perkataan Nabi Nuh:
> فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا يرسل السماء عليكم مدرارا ويمددكم بأموال وبنين
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu...”
QS. Nuh: 10–12.
Maka ketika Al-A‘rāf ayat 96 berbicara tentang keberkahan dari langit dan bumi, ayat-ayat lain menunjukkan bahwa iman, takwa, taubat dan istighfar merupakan bagian dari jalan menuju karunia Allah.
Tetapi sekali lagi, ini bukan rumus duniawi yang berarti:
> “Saya banyak istighfar, maka otomatis saya harus menjadi kaya.”
Tidak.
Allah tetap menentukan rezeki dan bentuk ujian sesuai hikmah-Nya.
Yang dijanjikan adalah kebaikan dan karunia Allah, bukan jaminan bahwa setiap orang beriman akan memiliki tingkat kekayaan yang sama.
---
Ketujuh — Kaidah Fikih: Menolak Kerusakan dan Mencari Maslahat
Di sinilah pembahasan ayat dapat kita hubungkan dengan kaidah fikih:
> الضرر يزال
“Setiap kemudaratan harus dihilangkan.”
Dan:
> درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
“Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”
Maka jika seseorang ingin mencari keberkahan dalam kehidupan, ia tidak cukup hanya bertanya:
“Apa yang menguntungkan saya?”
Ia juga harus bertanya:
“Apakah cara yang saya tempuh menimbulkan kezaliman atau kemudaratan bagi orang lain?”
Sebab keberkahan tidak tumbuh subur di atas kezaliman.
---
Kedelapan — Pelajaran Besar untuk Masyarakat
Ayat ini menggunakan istilah:
> أهل القرى
“Penduduk negeri.”
Maka pesan ayat ini tidak berhenti pada kesalehan individual.
Ada kesalehan sosial.
Sebuah masyarakat akan merasakan manfaat ketika kejujuran menjadi budaya, amanah dijaga, perdagangan berlangsung secara adil, ilmu dihormati, hak manusia dilindungi dan kemaksiatan tidak dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Sebaliknya, ketika kebohongan menjadi kebiasaan, kecurangan menjadi budaya, amanah dipermainkan dan kezaliman dianggap wajar, masyarakat harus melakukan muhasabah kolektif.
Bukan untuk mudah menuduh orang lain.
Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang sudah kita lakukan sehingga Allah memberikan keberkahan kepada kehidupan kita?”
---
Penutup: Jangan Hanya Mencari Banyak
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pada akhirnya, ayat ini mengubah cara kita memandang kehidupan.
Kita mungkin selama ini bertanya:
“Bagaimana agar hartaku bertambah?”
Al-Qur'an mengajarkan kita bertanya:
“Bagaimana agar hartaku berkah?”
Kita bertanya:
“Bagaimana agar ilmuku semakin banyak?”
Maka tambahkan:
“Bagaimana agar ilmuku bermanfaat?”
Kita berdoa:
“Ya Allah, panjangkan umurku.”
Tambahkan:
“Dan berkahilah umurku dengan ketaatan.”
Karena kehidupan yang paling indah bukan selalu kehidupan yang paling banyak memiliki sesuatu.
Tetapi kehidupan yang paling banyak menghadirkan kebaikan dari apa yang Allah titipkan.
Allah telah memberikan kuncinya:
> آمَنُوا وَاتَّقَوْا
Beriman dan bertakwa.
Semoga Allah menjadikan iman kita iman yang hidup, takwa kita takwa yang nyata, rezeki kita rezeki yang halal dan berkah, ilmu kita ilmu yang bermanfaat, keluarga kita keluarga yang sakinah, dan masyarakat kita masyarakat yang dipenuhi keadilan, ilmu, amanah dan kemaslahatan.
> اللهم بارك لنا في أعمارنا، وبارك لنا في أعمالنا، وبارك لنا في أموالنا، وبارك لنا في أهلينا، واجعلنا من عبادك المتقين.
> ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
**والحمد لله رب العالمين.**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar