Rabu, 09 September 2026

KETIKA RETORIKA LEBIH BESAR DARIPADA ILMU

 KETIKA RETORIKA LEBIH BESAR DARIPADA ILMU



Oleh:

Angga Fernando Gustian,Lc.,M.A

Anggota Komisi Fatwa Metodologi MUI Sumatera Barat

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Sekretaris PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Ketika suara di mimbar semakin lantang, tetapi kedalaman ilmu justru semakin dipertanyakan


Ada fenomena yang layak direnungkan dalam dunia dakwah hari ini: semakin mudah seseorang berbicara tentang agama, tetapi tidak selalu semakin mudah menemukan orang yang benar-benar memiliki kapasitas keilmuan untuk berbicara atas nama agama.


Mimbar semakin ramai. Konten semakin banyak. Kamera semakin mudah. Algoritma semakin menentukan siapa yang didengar.


Seseorang yang pandai berbicara dapat dengan mudah memperoleh perhatian. Ia mampu membuat jamaah tertawa, menangis, kagum, bahkan terdiam.


Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar:


“Seberapa menarik ceramahnya?”


Pertanyaannya adalah:


“Seberapa kuat ilmu yang berada di balik ceramah tersebut?”


Sebab dalam agama, retorika adalah alat untuk menyampaikan ilmu, bukan pengganti ilmu.


Suara yang lantang bukan sanad keilmuan.


Popularitas bukan ijazah.


Jumlah pengikut bukan ukuran kefaqihan.


Dan kemampuan memenangkan perdebatan tidak otomatis menunjukkan seseorang memahami agama.


---


1. AL-QURAN MEMERINTAHKAN BERTANYA KEPADA AHLI ILMU


Allah Ta'ala berfirman:


«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.”


QS. an-Nahl: 43.


Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting: ketidaktahuan bukan aib, tetapi berbicara tanpa ilmu adalah persoalan yang serius.


Islam tidak mengajarkan seseorang untuk menjawab semua pertanyaan hanya karena ia memiliki mikrofon.


Jika tidak mengetahui, maka bertanya.


Jika belum memahami, maka belajar.


Jika belum memiliki kapasitas, maka merujuk kepada ahlinya.


Masalahnya muncul ketika seseorang belum selesai belajar tetapi sudah merasa selesai memahami agama.


Lebih berbahaya lagi ketika ketidaktahuan tersebut ditutupi dengan retorika.


---


2. RASULULLAH ﷺ MEMPERINGATKAN TENTANG “PEMIMPIN-PENGAJAR” YANG JAHIL


Rasulullah ﷺ bersabda:


«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»


“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu memberikan fatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan.”


HR. al-Bukhari no. 100.


Perhatikan dua kalimat terakhir:


«فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»


“Mereka sesat dan menyesatkan.”


Inilah titik bahayanya.


Ketidaktahuan seseorang mungkin hanya merusak dirinya.


Tetapi ketika orang yang tidak berilmu mulai berbicara sebagai rujukan agama, kesalahannya dapat berpindah kepada jamaah.


Satu kesalahan disampaikan dari mimbar.


Kemudian direkam.


Diposting.


Dipendekkan menjadi reels.


Dibagikan ribuan orang.


Lalu dianggap sebagai “pendapat agama”.


Kesalahan pribadi berubah menjadi kesalahan publik.


---


3. “ILMU INI ADALAH AGAMA”—MUHAMMAD BIN SIRIN


Salah satu perkataan salaf yang sangat terkenal datang dari Muhammad bin Sirin رحمه الله:


«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»


“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”


Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, dan secara jelas dinisbatkan kepada Muhammad bin Sirin, bukan kepada Nabi ﷺ.


Kalimat ini sangat relevan dengan zaman kita.


Hari ini orang sering bertanya:


“Followers-nya berapa?”


“Videonya viral?”


“Subscriber-nya jutaan?”


“Banyak yang datang kajiannya?”


Tetapi ulama salaf mengajarkan pertanyaan yang berbeda:


«عَمَّنْ تَأْخُذُ دِينَكَ؟»


“Dari siapa engkau mengambil agamamu?”


Siapa gurunya?


Di mana ia belajar?


Apa yang ia pelajari?


Bagaimana metode istinbath-nya?


Bagaimana ia memahami Al-Qur'an?


Bagaimana ia memverifikasi hadis?


Apakah ia memahami bahasa Arab?


Apakah ia mengetahui kaidah ushul fikih?


Apakah ia memahami perbedaan antara perkara yang disepakati dan perkara yang diperselisihkan?


Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang seharusnya lebih penting daripada sekadar jumlah penonton.


---


4. BAHAYA BERBICARA TENTANG AL-QURAN TANPA ILMU


Allah Ta'ala berfirman:


«قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ»


“Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, permusuhan tanpa hak, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak Dia turunkan keterangannya, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.”


QS. al-A'raf: 33.


Perhatikan bagaimana berbicara tentang Allah tanpa ilmu disebutkan dalam rangkaian perkara yang sangat berat.


Karena itu, seorang muballigh harus memiliki rasa takut ketika mengutip ayat, menjelaskan hukum, menafsirkan dalil, atau menyampaikan hadis.


Bukan hanya takut salah di depan jamaah.


Tetapi takut salah atas nama Allah dan Rasul-Nya.


---


5. SALAF TAKUT BERBICARA TANPA ILMU


Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه pernah berkata ketika ditanya mengenai suatu ayat:


«أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي، وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي، إِذَا قُلْتُ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا لَا أَعْلَمُ»


“Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan membawaku jika aku mengatakan tentang Kitab Allah sesuatu yang tidak aku ketahui?”


Atsar ini diriwayatkan dalam sejumlah karya ulama dalam pembahasan tentang kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur'an.


Renungkan.


Ini adalah Abu Bakar رضي الله عنه.


Sahabat Nabi ﷺ.


Orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ.


Orang yang memiliki kedudukan luar biasa dalam ilmu dan iman.


Namun ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak diketahuinya, ia takut berbicara.


Hari ini?


Kadang baru membaca beberapa buku, menonton beberapa video, kemudian merasa siap menjawab hampir seluruh persoalan umat.


Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.


---


6. “LA ADRI” BUKAN KELEMAHAN—IA ADALAH KEJUJURAN ILMIAH


Di antara kebiasaan para ulama adalah keberanian mengatakan:


«لَا أَدْرِي»


“Saya tidak tahu.”


Imam Malik رحمه الله dikenal dengan sikap tersebut. Bahkan Ibn Wahb meriwayatkan:


«لَوْ كَتَبْنَا عَنْ مَالِكٍ: لَا أَدْرِي، لَمَلَأْنَا الْأَلْوَاحَ»


“Seandainya kami menulis dari Malik hanya perkataan ‘Aku tidak tahu’, niscaya kami akan memenuhi lembaran-lembaran.”


Kisah tentang kehati-hatian Imam Malik dalam menjawab pertanyaan juga disebutkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlih.


Bahkan disebutkan bahwa Imam Malik pernah ditanya sejumlah persoalan dan berkali-kali menjawab:


«لَا أَدْرِي»


Bukan karena beliau tidak berilmu.


Justru karena beliau tahu batas ilmunya.


Orang yang benar-benar berilmu memahami bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab.


---


7. MASALAHNYA BUKAN DA'I YANG TIDAK SEMPURNA


Perlu ditegaskan: artikel ini bukan seruan untuk merendahkan para da'i, muballigh, ustaz, atau penceramah.


Tidak semua muballigh harus menjadi mujtahid.


Tidak semua penceramah harus menguasai seluruh cabang ilmu Islam.


Dan tidak semua kesalahan dalam ceramah berarti seseorang tidak berilmu.


Manusia tetap bisa salah.


Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang:


- tidak memiliki bekal ilmu yang memadai,

- berbicara tentang hukum agama dengan penuh kepastian,

- tidak mau merujuk kepada ahli,

- menyampaikan hadis tanpa verifikasi,

- menafsirkan ayat berdasarkan selera pribadi,

- kemudian menjadikan popularitas sebagai legitimasi keilmuan.


Itulah yang harus dikritik.


Sebab dakwah membutuhkan amanah ilmiah, bukan sekadar keberanian tampil.


---


8. RETORIKA ADALAH SENJATA—TETAPI TANPA ILMU IA BISA MENJADI BENCANA


Kemampuan retorika sebenarnya adalah sesuatu yang baik.


Seorang da'i perlu mampu menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang mudah.


Ia perlu mampu menyentuh hati.


Ia perlu memahami kondisi masyarakat.


Ia perlu mampu menyampaikan pesan dengan menarik.


Namun retorika seharusnya menjadi kendaraan bagi ilmu, bukan kendaraan untuk menutupi ketiadaan ilmu.


Jika ilmu kuat dan retorika kuat, dakwah menjadi indah.


Jika ilmu kuat tetapi retorika lemah, pesan masih dapat diperbaiki.


Tetapi jika retorika kuat sementara ilmu kosong, maka masyarakat berpotensi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya:


kesalahan yang terdengar seperti kebenaran.


Dan inilah yang harus kita waspadai.


---


9. JANGAN JADIKAN VIRALITAS SEBAGAI SANAD


Di zaman digital, ada satu kekeliruan baru yang semakin sering terjadi:


orang mengira sesuatu benar karena banyak yang menontonnya.


Padahal:


viral ≠ benar.


banyak followers ≠ alim.


pandai berbicara ≠ faqih.


sering tampil di televisi ≠ ahli hadis.


fasih berbahasa Arab ≠ otomatis menguasai seluruh ilmu syariat.


Dan memiliki gelar akademik ≠ otomatis memahami seluruh persoalan agama.


Sebaliknya, seseorang yang jarang tampil di media juga belum tentu tidak berilmu.


Maka ukuran keilmuan harus kembali kepada ilmu, amanah, metodologi, guru, karya, dan kapasitasnya dalam disiplin yang ia bicarakan.


---


10. UMAT JUGA HARUS BELAJAR MEMILIH RUJUKAN


Tanggung jawab tidak hanya berada pada pundak da'i.


Jamaah juga memiliki tanggung jawab.


Jangan hanya bertanya:


“Siapa yang paling menarik?”


Tetapi bertanyalah:


“Siapa yang paling layak menjadi rujukan dalam bidang ini?”


Untuk persoalan hadis, lihat kemampuan hadisnya.


Untuk fikih, lihat kapasitas fikihnya.


Untuk tafsir, lihat kompetensinya dalam tafsir dan ulum Al-Qur'an.


Untuk bahasa Arab, lihat kemampuan kebahasaannya.


Untuk persoalan kontemporer, lihat penguasaan terhadap persoalan sekaligus metodologi syariatnya.


Jangan meminta jawaban dari orang yang memang tidak memiliki kompetensi pada persoalan tersebut.


---


PENUTUP


DAKWAH TIDAK MEMBUTUHKAN ORANG YANG SEKADAR BERANI BERBICARA


Umat tidak kekurangan orang yang mampu berbicara.


Yang lebih dibutuhkan adalah orang yang takut berbicara tanpa ilmu.


Orang yang ketika tahu, ia menjelaskan.


Ketika tidak tahu, ia mengatakan:


«لَا أَدْرِي»


Ketika keliru, ia mengoreksi.


Ketika menemukan dalil yang lebih kuat, ia tunduk.


Ketika menghadapi persoalan yang berada di luar kapasitasnya, ia berkata:


«سَلُوا أَهْلَ الْعِلْمِ»


“Tanyakan kepada orang-orang yang berilmu.”


Karena dakwah bukan sekadar seni memengaruhi manusia.


Dakwah adalah amanah menyampaikan agama Allah.


Dan amanah sebesar itu tidak cukup dipikul dengan mikrofon, kamera, kepercayaan diri, dan retorika.


Ia membutuhkan ilmu, sanad keilmuan, adab, ketelitian, dan rasa takut kepada Allah.


Sebab Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat jelas:


«فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»


“Mereka sesat dan menyesatkan.”

(HR. al-Bukhari no. 100)


Maka sebelum kita bertanya:


“Seberapa viral dakwahnya?”


Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:


«مَنْ شُيُوخُهُ؟ وَمِنْ أَيْنَ أَخَذَ عِلْمَهُ؟»


“Siapa guru-gurunya? Dan dari mana ia mengambil ilmunya?”


Sebab sebagaimana Muhammad bin Sirin رحمه الله mengingatkan:


«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»


“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Selasa, 08 September 2026

DARI MA’HAD AZ-ZUBAIR KE MA’HAD IBNU ZUBAIR

 

DARI MA’HAD AZ-ZUBAIR KE MA’HAD IBNU ZUBAIR




Kenangan Belajar Bahasa Arab dan Catatan tentang Sebuah Perubahan

Ada bagian dari perjalanan menuntut ilmu yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bagi saya, salah satunya adalah pengalaman belajar Bahasa Arab di Ma’had Az-Zubair bin Al-Awwam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.

Di tempat itulah saya belajar bahwa Bahasa Arab bukan sekadar mata pelajaran. Bahasa Arab adalah pintu untuk memahami Al-Qur’an, Sunnah, kitab-kitab ulama, dan khazanah keislaman yang sangat luas.

Ma’had Az-Zubair bin Al-Awwam pada masanya merupakan bagian dari perjalanan pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam di lingkungan Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia memiliki sejarah yang berkaitan dengan kerja sama Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) dan Muhammadiyah.

Saya merasakan sendiri bagaimana suasana belajar di Ma’had membentuk kedisiplinan. Bahasa Arab dipelajari secara serius. Kami tidak hanya menghafal kosakata, tetapi juga belajar nahwu, sharaf, qira’ah, kitabah, dan berbagai keterampilan Bahasa Arab.

Sedikit demi sedikit, sesuatu yang awalnya terasa sulit mulai menjadi akrab.

Yang paling berharga bukan hanya kemampuan berbahasa Arab, tetapi cara berpikir yang terbentuk melalui proses belajar tersebut.

Kami belajar membaca teks Arab, memahami struktur kalimat, mencari makna, dan berusaha memahami literatur keislaman dari sumbernya.

Dari sinilah saya semakin memahami bahwa perjalanan keilmuan Islam membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan proses yang panjang.

SEBUAH FASE SEJARAH YANG PERLU DICATAT

Waktu terus berjalan.

Kerja sama AMCF dengan Muhammadiyah kemudian berakhir. Karena itu, menurut saya, penting untuk membedakan antara Ma’had Az-Zubair bin Al-Awwam pada masa kerja sama AMCF–Muhammadiyah dengan Ma’had Ibnu Zubair yang sekarang.

Nama yang memiliki kemiripan tidak otomatis berarti identitas kelembagaannya sama.

Ini bukan sekadar persoalan nama.

Ini adalah persoalan sejarah, status kelembagaan, dan kesinambungan institusi.

Ma’had Az-Zubair bin Al-Awwam memiliki sejarah tersendiri. Ada masa ketika AMCF dan Muhammadiyah bekerja sama dalam pengembangan pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam.

Setelah hubungan kerja sama tersebut berakhir, tentu diperlukan kejelasan dalam menyebut dan menjelaskan lembaga yang hadir setelahnya.

Karena itu, Ma’had Ibnu Zubair yang sekarang tidak serta-merta dapat disebut sebagai Ma’had Az-Zubair AMCF dalam pengertian kelembagaan yang dahulu.

Namun, perbedaan tersebut tidak berarti kita harus memutus hubungan sejarah.

Justru sejarah perlu dicatat dengan jujur agar generasi berikutnya memahami perjalanan lembaga secara utuh.

JANGAN MENGHAPUS JEJAK PARA GURU

Saya menulis ini bukan untuk merendahkan Ma’had Ibnu Zubair yang sekarang.

Saya justru ingin memberikan penghargaan kepada sebuah fase pendidikan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Ada guru-guru yang pernah mengajarkan Bahasa Arab.

Ada teman-teman seperjuangan yang sama-sama belajar.

Ada buku-buku yang dahulu terasa sulit, tetapi perlahan mulai dapat dibaca.

Dan ada pengalaman yang kemudian membentuk cara saya memandang ilmu.

Ma’had Az-Zubair adalah bagian dari perjalanan intelektual saya.

Di sana saya belajar Bahasa Arab.

Di sana saya belajar membaca kitab.

Di sana saya belajar tentang kedisiplinan dalam menuntut ilmu.

Dan dari sana pula saya semakin memahami bahwa orang yang berbicara tentang agama harus memiliki tanggung jawab ilmiah.

Tidak cukup hanya pandai berbicara.

Tidak cukup hanya memiliki gelar.

Tidak cukup hanya dikenal masyarakat.

Seorang pembelajar agama harus terus belajar membaca, memahami, meneliti, dan menguji argumentasi berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, serta khazanah keilmuan Islam.

SEJARAH BUKAN UNTUK DIPEREBUTKAN

Setiap lembaga memiliki sejarah.

Setiap generasi memiliki perjuangan.

Dan setiap perubahan kelembagaan seharusnya dicatat dengan jernih.

Sejarah bukan untuk diperebutkan.

Sejarah bukan pula untuk menghapus jasa generasi sebelumnya.

Sejarah adalah amanah.

Karena itu, kita boleh melanjutkan perjuangan sebuah lembaga, tetapi jangan sampai karena ingin membangun masa depan kita kemudian menghilangkan jejak masa lalu.

Ma’had Az-Zubair bin Al-Awwam adalah bagian dari sejarah pendidikan Bahasa Arab di lingkungan Muhammadiyah Sumatera Barat.

Sedangkan Ma’had Ibnu Zubair adalah fase dan identitas kelembagaan yang perlu dilihat sesuai dengan kondisi dan pengelolaannya sekarang.

Keduanya perlu ditempatkan secara proporsional dalam catatan sejarah.

Bagi saya pribadi, nama Ma’had Az-Zubair akan selalu memiliki tempat khusus.

Sebab di sanalah saya pernah duduk sebagai seorang penuntut ilmu.

Dari Ma’had, saya belajar Bahasa Arab.

Dari Bahasa Arab, saya belajar membuka khazanah Islam.

Dan dari perjalanan itu saya belajar satu prinsip sederhana:

Ilmu tidak selesai ketika kita meninggalkan tempat belajar. Justru setelah keluar dari Ma’had, tanggung jawab terhadap ilmu itu semakin besar.

Semoga Allah membalas kebaikan para guru yang pernah mengajarkan ilmu kepada kami dan menjadikan ilmu yang mereka ajarkan sebagai amal jariyah.

Aya Syophia Miza, M.A.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat

Ketua
Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

SYAIKH AL-ALBANI DAN TARJIH MUHAMMADIYAH: ANTARA RUJUKAN DAN OTORITAS

 

SYAIKH AL-ALBANI DAN TARJIH MUHAMMADIYAH: ANTARA RUJUKAN DAN OTORITAS




Oleh: Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Dalam sejumlah kajian hadis dan produk pemikiran Tarjih Muhammadiyah, nama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani cukup sering ditemukan. Hal ini tentu menarik untuk dilihat dari perspektif metodologi keilmuan.

Pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah al-Albani layak dijadikan rujukan. Tentu saja karya-karya beliau memiliki kontribusi penting dalam kajian hadis, khususnya dalam bidang takhrij dan tahqiq. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: di mana posisi pendapat al-Albani dalam metodologi Tarjih Muhammadiyah?

Pertanyaan ini penting agar masyarakat tidak keliru memahami hubungan antara mengutip seorang ulama dan mengikuti seorang ulama.

Mengutip Tidak Selalu Berarti Mengikuti

Dalam penelitian hadis, pendapat seorang muhaddits merupakan salah satu data ilmiah yang perlu dipertimbangkan.

Ketika al-Albani menilai sebuah hadis sahih atau dha'if, seorang peneliti tentu dapat menjadikan penilaian tersebut sebagai bahan kajian. Namun penelitian tidak semestinya berhenti pada nama.

Pertanyaan berikutnya adalah: apa alasan penilaian tersebut?

Bagaimana kondisi sanadnya? Bagaimana status para perawinya? Apakah terdapat jalur lain yang menguatkan? Bagaimana ulama hadis lainnya memberikan penilaian?

Dengan demikian, sebuah keputusan tidak dibangun hanya berdasarkan "siapa yang berkata", tetapi berdasarkan kekuatan argumentasi yang dikemukakan.

Jangan Sampai Nama Mengalahkan Dalil

Muhammadiyah memiliki tradisi tajdid yang kuat dalam mengajak umat kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Karena itu, ada satu prinsip yang perlu terus dijaga: nama ulama tidak boleh menggantikan kedudukan dalil.

Pernyataan "al-Albani mengatakan hadis ini dha'if" adalah informasi ilmiah. Tetapi kalimat tersebut belum cukup menjadi argumentasi sampai dijelaskan dasar penilaiannya.

Hal yang sama berlaku terhadap ulama mana pun.

Imam Syafi'i, Imam Malik, Ibn Hajar, al-Albani, maupun ulama lainnya adalah manusia yang memiliki kapasitas keilmuan, tetapi tetap berada dalam ruang ijtihad.

Menghormati ulama tidak berarti menjadikan seluruh pendapatnya sebagai sesuatu yang tidak boleh dikaji kembali.

Tarjih Harus Tetap Menjadi Tarjih

Di sinilah pentingnya menjaga karakter metodologis Majelis Tarjih.

Tarjih bukan sekadar memilih pendapat berdasarkan siapa yang paling terkenal, tetapi melakukan penilaian terhadap berbagai dalil dan pendapat berdasarkan metodologi keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika pendapat al-Albani digunakan, maka sangat baik apabila kader dan pembaca juga diperkenalkan dengan argumentasi al-Albani, kemudian dibandingkan dengan penelitian ulama lainnya.

Dengan demikian, kader tidak hanya belajar "apa hasilnya", tetapi juga belajar "bagaimana hasil itu diperoleh."

Tantangan Kaderisasi Ulama

Kaderisasi ulama Muhammadiyah membutuhkan generasi yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga kuat dalam penelitian.

Seorang kader idealnya mampu membaca:

hadis → sanad → perawi → kritik ulama → perbedaan penilaian → metodologi Tarjih → kesimpulan.

Bukan sekadar:

hadis → Al-Albani berkata → selesai.

Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting.

Yang pertama melahirkan peneliti.

Yang kedua berpotensi melahirkan pengikut kesimpulan.

Penutup

Al-Albani layak dipelajari. Karya-karyanya layak dijadikan referensi. Tetapi pendapat beliau, sebagaimana pendapat ulama lainnya, tetap perlu ditempatkan dalam ruang dialog dan penelitian ilmiah.

Sebab tradisi ilmu Islam tidak dibangun hanya dengan banyaknya nama yang dikutip, tetapi dengan kekuatan hujah yang dapat diuji.

Maka, semakin sering sebuah nama ulama dijadikan rujukan, semakin penting pula bagi kita untuk memahami argumentasinya secara utuh.

Menghormati ulama adalah adab.
Mengkaji argumentasi mereka adalah tradisi ilmiah.
Mengikuti dalil dengan metodologi adalah semangat tarjih.

Dan mungkin inilah salah satu bentuk tajdid yang paling penting untuk terus diwariskan kepada kader ulama Muhammadiyah: bukan sekadar mewarisi kesimpulan para ulama, tetapi juga mewarisi tradisi penelitian yang melahirkan kesimpulan tersebut.

Senin, 07 September 2026

حين يحتاج الإيمان إلى مأوى

 حين يحتاج الإيمان إلى مأوى



بقلم:

أنجا فرناندو غستيان، Lc., M.A


- عضو لجنة منهجية الفتوى بمجلس العلماء الإندونيسي في سومطرة الغربية

- عضو هيئة الترجيح والتجديد في قيادة منطقة المحمدية بسومطرة الغربية

- أمين مركز إعداد علماء المحمدية (PPUM) بمسجد تقوى المحمدية في سومطرة الغربية


تفسير سورة الكهف، الآية العاشرة، ودروس في حفظ الإيمان


في عالم يزداد ضجيجا يوما بعد يوم، بسبب كثرة المؤثرات وتنوعها، قد يحتاج الإنسان في سبيل المحافظة على إيمانه إلى شجاعة الاختلاف.


فليست كل بيئة صالحة لمبادئ الدين، وليس كل طريق يكثر سالكوه هو الطريق الصحيح.


وقد خلد القرآن الكريم قصة فتية مؤمنين اختاروا المحافظة على عقيدتهم حين واجهوا ضغوط المجتمع من حولهم. فلم يجعلوا الشهرة، ولا الراحة، ولا السلامة الدنيوية غايتهم الأولى، وإنما اختاروا الله سبحانه وتعالى.


قال الله سبحانه وتعالى:


«﴿إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾

(الكهف: 10)»


هذه الآية قصيرة في ألفاظها، عميقة في معانيها، وتحمل رسالة عظيمة: حين يختار الإنسان المحافظة على إيمانه، فإنه يحتاج إلى الجمع بين الأخذ بالأسباب، والدعاء، والتوكل، والشجاعة في اتخاذ القرار.


---


فتية اختاروا الإيمان على الراحة


استعمل الله تعالى في الآية كلمة ﴿الْفِتْيَةُ﴾، وهي جمع فتى، أي الشباب.


كان هؤلاء الفتية جماعة من الشباب الذين آمنوا بالله، في حين كان المجتمع المحيط بهم واقعا في الشرك. وقد واجهوا ضغوطا تدفعهم إلى ترك التوحيد واتباع معتقد قومهم.


وقد ذكر الإمام ابن كثير رحمه الله أنهم فتية فروا بدينهم من قومهم؛ خوفا من أن يفتنوهم عن دينهم.


قال ابن كثير رحمه الله:


««يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ أُولَئِكَ الْفِتْيَةِ، الَّذِينَ فَرُّوا بِدِينِهِمْ مِنْ قَوْمِهِمْ لِئَلَّا يَفْتِنُوهُمْ عَنْهُ»»


أي: يخبر الله تعالى عن أولئك الفتية الذين فروا بدينهم من قومهم؛ حتى لا يفتنوهم عنه ويصرفوهم عن إيمانهم.


وهذه رسالة مهمة إلى جيل الشباب.


فليست قيمة الشاب تقاس بذكائه، ولا بشجاعته، ولا بإنجازاته، ولا بشهرته فحسب، وإنما تقاس كذلك بما يستطيع أن يحافظ عليه حين تختبر مبادئه، وتوضع عقيدته أمام امتحان حقيقي.


---


حين يكون الكهف أكرم من القصر


قال الله تعالى:


«﴿أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ﴾»


أي: لجأ أولئك الفتية إلى الكهف طلبا للحماية.


ولم يكن الكهف مكانا مريحا؛ فهو مظلم وضيق، بعيد عن حياة المدن، ولا يحمل لهم شيئا من مظاهر الرفاهية.


لكنه بالنسبة إليهم أصبح ملاذا لحفظ الإيمان.


وهنا نتعلم أن قيمة المكان لا تتحدد دائما بما فيه من مظاهر الرفاهية والفخامة، وإنما بما يستطيع الإنسان أن يحفظ فيه صلته بالله.


فقد يكون المكان البسيط أكرم وأشرف من المكان الفخم إذا استطاع الإنسان فيه أن يحافظ على إيمانه وعلاقته بربه.


وفي سياق الحياة المعاصرة، يمكن أن يكون «الكهف» رمزا إلى قدرة الإنسان على الابتعاد عن البيئة التي تفسد إيمانه، وعن الصحبة التي تهدم أخلاقه، وعن المحتوى الذي يجعل المعصية أمرا عاديا، وعن الضغوط الاجتماعية التي تجعل الإنسان يستحيي من ممارسة دينه.


ليس كل ما يفعله الناس ينبغي أن نتبعه.


وليس كل اتجاه شائع جديرا بالاتباع.


وليس كل رأي تتفق عليه الأغلبية حقا يجب قبوله.


وأحيانا، يحتاج إنقاذ الإيمان إلى شجاعة أن يقول الإنسان:


«أختار أن أكون مختلفا؛ لأنني أريد أن أبقى مع الله.»


---


دعاء يعلمنا كيف نواجه الأزمات


ومن اللافت أن هؤلاء الفتية، بعد أن اتخذوا خطوة عملية باللجوء إلى الكهف، لم يعتمدوا على أسبابهم وحدها.


بل رفعوا أيديهم بالدعاء فقالوا:


«﴿رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً﴾»


أي: يا ربنا، امنحنا رحمة من عندك.


ثم قالوا:


«﴿وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾»


أي: أصلح لنا شأننا، ويسر لنا من أمرنا ما فيه الرشد والصواب.


وهذا الدعاء يكشف عن توازن عظيم.


فقد بذلوا الأسباب لإنقاذ أنفسهم، لكنهم لم يعتمدوا على أسبابهم وحدها.


واتخذوا قرارا عمليا، لكنهم ظلوا يسألون الله العون والتوفيق.


وبحثوا عن مكان يحتمون فيه، لكنهم كانوا على يقين بأن الحماية الحقيقية لا تكون إلا من الله سبحانه وتعالى.


---


معنى «الرحمة» عند العلماء


قال ابن كثير رحمه الله في تفسير قوله تعالى:


«﴿رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً﴾»


أي:


««أَيْ هَبْ لَنَا مِنْ عِنْدِكَ رَحْمَةً تَرْحَمُنَا بِهَا وَتَسْتُرَنَا عَنْ قَوْمِنَا»»


فالرحمة التي طلبوها لم تكن مجرد راحة في الحياة أو متاع دنيوي.


لقد طلبوا رحمة تحفظهم من الفتنة، وتصون دينهم، وتقودهم إلى النجاة.


وهذا يدل على أن رحمة الله قد تأتي أحيانا في صورة أمر لا نحبه أو لا نرغب فيه.


فقد تكون الرحمة في إبعاد الإنسان عن بيئة معينة.


وقد تكون في فشل خطة كان يظن أنها خير له.


وقد تكون في إغلاق فرصة كان يتمنى الحصول عليها.


بل قد تكون أحيانا في اضطرار الإنسان إلى ترك شيء يحبه كثيرا، من أجل المحافظة على دينه.


فليست كل خسارة مصيبة.


فقد يأخذ الله منا شيئا؛ حتى يبقى إيماننا سليما محفوظا.


---


«الرشد»: أن تسأل الله أن يهديك إلى حسن العاقبة


ومن أجمل ما في دعائهم قولهم:


«﴿وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾»


وقد ذكر الإمام الطبري رحمه الله أنهم سألوا الله أن ييسر لهم ما يطلبونه من رضاه، والفرار من الكفر به.


قال رحمه الله:


««يَسِّرْ لَنَا بِمَا نَبْتَغِي وَمَا نَلْتَمِسُ مِنْ رِضَاكَ وَالْهَرَبِ مِنَ الْكُفْرِ بِكَ ... رَشَدًا، يَعْنِي سَدَادًا إِلَى الْعَمَلِ بِالَّذِي تُحِبُّ»»


فالرشد ليس مجرد الحظ السعيد، ولا مجرد الوصول إلى ما يريده الإنسان.


إنما الرشد هو صواب الاتجاه وحسن العاقبة.


قد تكون أمام الإنسان خيارات كثيرة، لكنه لا يحصل بالضرورة على الرشد.


وقد يمتلك علما واسعا، لكنه لا يكون بالضرورة راشدا.


وقد يمتلك منصبا، وثروة، ونفوذا، وشهرة، لكنه لا يكون بالضرورة قد أوتي الرشد.


ولهذا، فإن من أعظم الأدعية التي ينبغي للإنسان أن يكثر منها ألا يقول فقط:


«اللهم أعطني ما أريد.»


بل يقول:


«اللهم اهدني إلى ما ترضاه.»


فقد لا يكون ما نريده خيرا لنا، بينما يكون ما اختاره الله لنا خيرا بكثير مما خططنا له لأنفسنا.


---


الأخذ بالأسباب أولا، ثم التوكل على الله


تعلمنا هذه الآية كذلك مبدأ عظيما في الحياة.


فلم يكتف أصحاب الكهف بالدعاء.


بل تحركوا.


وتركوا البيئة التي كانت تهدد إيمانهم، وبحثوا عن مكان يحفظون فيه دينهم، ثم توجهوا إلى الله بالدعاء.


وهذا هو التوازن الصحيح بين الأخذ بالأسباب والتوكل على الله.


قال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله:


««فَجَمَعُوا بَيْنَ السَّعْيِ وَالْفِرَارِ مِنَ الْفِتْنَةِ ... وَبَيْنَ تَضَرُّعِهِمْ وَسُؤَالِ اللَّهِ تَيْسِيرَ أُمُورِهِمْ»»


فجمعوا بين بذل الأسباب والفرار من الفتنة، وبين التضرع إلى الله وسؤاله أن ييسر لهم أمورهم.


وهذه هي عقلية المؤمن.


يبذل الأسباب وكأن عليه أن يفعل كل ما يستطيع، ويتوكل على الله وكأن الأمر كله بيده سبحانه.


---


دروس دعوية من سورة الكهف، الآية العاشرة


يمكن أن نستخلص من هذه الآية جملة من الدروس المهمة:


1. الشباب ليس عذرا لتأجيل الخير


خلد الله تعالى قصة أصحاب الكهف في كتابه الكريم.


ولم يكونوا مجرد شباب يمتلكون الحماس، بل كانوا شبابا يمتلكون الإيمان والشجاعة في المحافظة على مبادئهم.


ولهذا ينبغي ألا تنقضي مرحلة الشباب في مطاردة الشهرة والمظاهر، بل ينبغي أن تكون مرحلة لبناء العلم، والعبادة، والشخصية، والأخلاق، والعطاء، وخدمة الناس.


2. المحافظة على الإيمان قد تحتاج إلى شجاعة الابتعاد


ليست كل بيئة صالحة للإيمان.


وقد يحتاج المسلم أحيانا إلى الابتعاد عن بعض الصحبة، أو العادات، أو المشاهد، أو المحتويات، أو البيئات التي تجره باستمرار إلى المعصية.


فالابتعاد ليس دائما هزيمة.


بل قد يكون الابتعاد أحيانا وسيلة لإنقاذ النفس، حتى يعود الإنسان يوما أقوى وأثبت.


3. لا تعتمد على قدراتك وحدها


لقد بذل أصحاب الكهف الأسباب، ومع ذلك قالوا:


«﴿رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً﴾»


لقد أدركوا محدودية الإنسان.


فمهما بلغ علمنا، فإننا بحاجة إلى الهداية.


ومهما عظم سعينا، فإننا بحاجة إلى عون الله وتوفيقه.


4. لا تطلب التيسير فقط، بل اطلب الرشد


لم يسأل أصحاب الكهف أن تنتهي مشكلتهم فحسب، وإنما سألوا الله:


«﴿رَشَدًا﴾»


أي: الهداية إلى الطريق الصحيح.


فالحياة ليست مجرد الخروج من المشكلة، وإنما الخروج منها مع البقاء على الطريق الذي يرضاه الله.


5. رحمة الله أعظم ما يحتاج إليه الإنسان


يحتاج الإنسان إلى الصحة، والرزق، والأسرة، والعلم، والعمل، والأمن.


ولكن فوق كل ذلك يحتاج إلى رحمة الله.


فمن دون رحمته، لا تضمن كثرة النعم للإنسان النجاة.


---


راهنية الآية في العصر الرقمي


قد لا يواجه الإنسان اليوم حاكما يجبره على عبادة الأصنام كما كان الحال في القصة التي ذكرها المفسرون.


لكن صور الفتن قد تغيرت.


فهناك فتنة الشهوات.


وهناك فتنة الشبهات.


وهناك ضغوط اجتماعية متواصلة.


وهناك ثقافة تجعل المعصية نوعا من الترفيه.


وهناك خوارزميات تستمر في عرض ما نحبه، حتى ننسى أن نسأل أنفسنا: هل ما أحببناه حقا صحيح ومشروع؟


وفي مثل هذه البيئة، يحتاج المسلم إلى «كهف» من نوع آخر: مساحة يحفظ فيها قلبه، ويضبط فيها نفسه، ويكثر فيها من العلم، ويحسن فيها اختيار صحبته، ويعود فيها إلى الله.


ولا يعني ذلك أن يعتزل المسلم المجتمع أو ينسحب من الحياة.


بل المسلم مطالب بأن يكون حاضرا في المجتمع، حاملا للخير، داعيا إليه، ومشاركا في إصلاحه.


لكنه في الوقت نفسه يحتاج إلى القدرة على أن يقول:


«ليس كل ما ينتشر في وسائل التواصل الاجتماعي جديرا بالاتباع.»


«وليس كل ما يحظى بالشعبية جديرا بأن يكون حقا.»


«وليس كل ما يفعله الناس يلزمني أن أفعله.»


فمعيار الحق ليس عدد المتابعين، ولا حجم الانتشار، وإنما موافقته للوحي والشرع.


---


حين يجبرنا العالم على الاختيار


تحمل قصة أصحاب الكهف رسالة شديدة الصلة بواقعنا:


قد يأتي وقت تضطر فيه الحياة الإنسان إلى الاختيار بين الراحة والمبدأ.


وعندما يحدث ذلك، ينبغي للمؤمن أن يسأل نفسه:


ما الشيء الذي أريد أن أنقذه أكثر من غيره؟


أهو المال؟


أم الشهرة؟


أم المنصب؟


أم العلاقات؟


أم الإيمان؟


لقد قدم أصحاب الكهف جوابهم بوضوح.


فقد رضوا بفقدان الراحة من أجل المحافظة على الإيمان.


وعوضهم الله عن اختيارهم بما هو أعظم بكثير مما تركوه.


قال الله تعالى بعد ذلك:


«﴿فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا﴾

(الكهف: 11)»


فحفظهم الله حين اختاروا المحافظة على دينهم.


وليس معنى ذلك أن كل إنسان يترك شيئا من أجل دينه سيحصل على معجزة كالتي حصلت لأصحاب الكهف.


لكن قصتهم تعلمنا مبدأ عظيما:


أن الله لا يضيع من صدق في المحافظة على إيمانه، وأخذ بالأسباب، واستعان بالله، وطلب منه العون والهداية.


---


خاتمة: دعاء لرحلة ليست دائما سهلة


تعلمنا سورة الكهف، في آيتها العاشرة، أن طريق المحافظة على الإيمان ليس دائما سهلا.


فقد نضطر أحيانا إلى ترك شيء.


وقد نضطر إلى مخالفة البيئة المحيطة بنا.


وقد نجد أنفسنا نسير وحدنا.


وقد نضطر إلى اختيار طريق لا يحظى بشعبية.


لكن المؤمن لا يكون وحيدا حقا ما دام الله معه.


ولهذا، فإن دعاء أصحاب الكهف جدير بأن يكون من الأدعية التي نتأملها ونرددها:


«﴿رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾»


فقد نكون اليوم في مرحلة من الحياة مليئة بالضغوط.


وقد نواجه قرارا صعبا.


وقد نقف على مفترق طريق بين ما نريده نحن وما يحبه الله ويرضاه.


فلا نطلب من الله فقط أن يرفع عنا المشقة.


بل لنسأله أن يمنحنا رحمة وسط المشقة، ورشدا في كل قرار.


فغاية المؤمن ليست مجرد الوصول إلى مكان معين.


وإنما غايته أن يصل إلى الله، وقد بقي إيمانه محفوظا سليما.


«اللهم آتنا من لدنك رحمة، وهيئ لنا من أمرنا رشدا.»


اللهم امنحنا رحمة من عندك، واهدنا في جميع أمورنا إلى ما فيه رضاك وخيرنا وصلاحنا.


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Bagaimana Memahami QS. Al-Ahzab Ayat 56?

 Bagaimana Memahami QS. Al-Ahzab Ayat 56?



Oleh:

Angga Fernando Gustian,Lc.,M.A

Anggota Komisi Fatwa Metodologi MUI Sumatera Barat

Anggota Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat

Sekretaris PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Makna Shalawat kepada Nabi ﷺ Menurut Para Ulama Mu'tabar


Ada ayat Al-Qur'an yang begitu akrab di telinga kaum Muslimin, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh maknanya. Salah satunya adalah firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:


«إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا»


«"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

(QS. Al-Ahzab: 56)»


Ayat ini bukan sekadar anjuran agar umat Islam memperbanyak ucapan shalawat. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah, kemuliaan beliau di alam malaikat, kewajiban atau tuntunan umat untuk memuliakan beliau, serta hubungan antara cinta kepada Rasulullah ﷺ dengan kesempurnaan iman.


Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini memiliki kedalaman makna yang sangat besar. Bahkan susunan ayatnya sendiri menunjukkan kemuliaan yang luar biasa: Allah terlebih dahulu menyebut bahwa Dia dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, kemudian barulah orang-orang beriman diperintahkan untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau.


---


1. Memahami Makna "Shalat" dalam Ayat


Kata يُصَلُّونَ (yushalluna) berasal dari kata الصلاة (ash-shalah). Namun, para ulama menjelaskan bahwa maknanya tidak selalu sama ketika disandarkan kepada Allah, malaikat, dan manusia.


Di sinilah pentingnya memahami ayat berdasarkan penjelasan para ulama tafsir, bukan sekadar menerjemahkan kata shalat secara literal.


Shalawat Allah kepada Nabi ﷺ


Imam al-Bukhari meriwayatkan penjelasan Abu al-'Aliyah bahwa shalat Allah kepada Nabi adalah pujian-Nya terhadap Nabi di hadapan para malaikat. Sementara itu, Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan maknanya sebagai barakah, yaitu keberkahan yang Allah limpahkan kepada Nabi ﷺ. Ibn Katsir juga mengutip sejumlah penjelasan ulama bahwa shalawat Allah berkaitan dengan pujian, rahmat, dan pemuliaan-Nya kepada Nabi ﷺ.


Dengan demikian, ketika Allah berfirman:


«إِنَّ اللَّهَ ... يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ»


maknanya bukan bahwa Allah "bershalat" sebagaimana manusia melakukan ibadah shalat. Maha Suci Allah dari segala sifat makhluk.


Maknanya adalah bahwa Allah memuji, memuliakan, merahmati dan meninggikan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di hadapan makhluk-Nya, khususnya di kalangan malaikat yang berada di al-Mala' al-A'la.


Ini merupakan salah satu bentuk penghormatan tertinggi kepada Rasulullah ﷺ.


---


2. Bagaimana dengan Shalawat Para Malaikat?


Berbeda dengan shalawat Allah, shalawat para malaikat kepada Nabi ﷺ bermakna doa, pujian, penghormatan dan permohonan kepada Allah untuk Nabi ﷺ.


Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa shalawat para malaikat mengandung makna doa. Beliau juga menukil penjelasan Ibn Abbas bahwa yushalluna dapat bermakna yubarikuna, yaitu memberikan keberkahan.


Imam al-Qurthubi juga menjelaskan perbedaan makna tersebut: shalawat dari Allah berkaitan dengan rahmat dan keridhaan-Nya, sedangkan shalawat dari malaikat berupa doa dan istighfar.


Dengan kata lain, ayat ini menggambarkan sebuah kemuliaan yang sangat agung:


Allah memuliakan Nabi ﷺ, para malaikat memuliakan Nabi ﷺ, kemudian kaum Mukminin diperintahkan untuk ikut memuliakan Nabi ﷺ.


---


3. Mengapa Allah Mengawali dengan Diri-Nya dan Para Malaikat?


Perhatikan struktur ayat:


«إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ»


"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi."


Barulah kemudian Allah berfirman:


«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا»


"Wahai orang-orang yang beriman."


Susunan ini memiliki pesan yang sangat kuat.


Allah seakan menunjukkan terlebih dahulu betapa tinggi kedudukan Nabi ﷺ, sebelum memberikan perintah kepada orang-orang beriman.


Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa tujuan ayat ini adalah memberitahukan kepada manusia tentang kedudukan Nabi ﷺ di sisi Allah di kalangan makhluk yang berada di alam atas. Allah memuji beliau di hadapan para malaikat, sementara para malaikat juga bershalawat kepada beliau. Setelah itu, penduduk bumi yang beriman diperintahkan untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau.


Dengan demikian, shalawat bukan hanya persoalan lafaz.


Ia merupakan ekspresi penghormatan terhadap Rasulullah ﷺ dan pengakuan terhadap kedudukan beliau sebagai utusan Allah.


---


4. "Wahai Orang-Orang yang Beriman" — Mengapa Perintah Ini Ditujukan kepada Orang Beriman?


Allah tidak mengatakan:


«"Wahai manusia..."»


tetapi:


«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا»


"Wahai orang-orang yang beriman."


Ini mengandung isyarat bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ memiliki hubungan erat dengan iman.


Orang yang benar-benar beriman kepada Allah tidak mungkin memisahkan keimanannya dari penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.


Sebab, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang membawa wahyu, menyampaikan risalah, mengajarkan Al-Qur'an, menjelaskan syariat, dan menjadi teladan bagi umat.


Allah sendiri berfirman:


«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ»


"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian."

(QS. Al-Ahzab: 21)


Karena itu, shalawat seharusnya tidak berhenti pada ucapan. Ia semestinya melahirkan cinta, penghormatan, ketaatan, keteladanan dan komitmen untuk mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.


---


5. Makna "صَلُّوا عَلَيْهِ" — Bershalawatlah Kalian kepada Nabi


Allah kemudian berfirman:


«صَلُّوا عَلَيْهِ»


"Bershalawatlah kalian untuknya."


Para ulama menjelaskan bahwa bentuk shalawat yang paling utama adalah shalawat yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.


Ketika para sahabat bertanya bagaimana cara bershalawat kepada beliau, Rasulullah ﷺ mengajarkan shalawat Ibrahimiyah, antara lain:


«اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد»


"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."


Riwayat mengenai hal ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dari Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu.


Ini menunjukkan bahwa ketika berbicara mengenai shalawat, seorang Muslim hendaknya mengutamakan lafaz yang memiliki landasan kuat dari sunnah.


---


6. Apa Makna "وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا"?


Setelah memerintahkan shalawat, Allah melanjutkan:


«وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا»


"Dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya penghormatan."


Menurut penjelasan Imam ath-Thabari, taslim dalam ayat ini berkaitan dengan memberikan salam kepada Rasulullah ﷺ dengan salam Islam.


Para ulama juga menjelaskan bahwa perintah tersebut mengandung penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.


Jadi, ayat ini menggabungkan dua hal:


الصلاة — الصلاة عليه


yaitu memohonkan shalawat dan keberkahan bagi Nabi ﷺ,


dan


السلام — السلام عليه


yaitu mendoakan keselamatan serta memberikan penghormatan kepada beliau.


Keduanya tidak semestinya dipisahkan.


Karena itu, ketika seorang Muslim menyebut nama Rasulullah ﷺ, merupakan bagian dari adab dan kecintaan kepada beliau untuk mengucapkan:


صلى الله عليه وسلم


"Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya."


---


7. Mengapa Allah Menggunakan Penegasan "تَسْلِيمًا"?


Secara bahasa, Allah tidak sekadar mengatakan:


«وسلموا»


tetapi:


«وسلموا تسليما»


Penggunaan mashdar تسليما setelah kata kerja سلموا berfungsi sebagai bentuk penegasan.


Artinya, salam kepada Rasulullah ﷺ hendaknya dilakukan dengan penghormatan yang sungguh-sungguh dan sempurna, bukan sekadar formalitas lisan.


Ini memberikan pelajaran penting.


Islam tidak mengajarkan kecintaan kepada Nabi ﷺ dalam bentuk slogan semata. Kecintaan harus memiliki konsekuensi dalam kehidupan.


Seseorang yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ akan berusaha mengenal ajarannya, mempelajari sunnahnya, mengikuti akhlaknya dan menjadikan petunjuknya sebagai pedoman.


---


8. Shalawat Bukan untuk "Menguntungkan" Nabi ﷺ


Satu hal yang perlu diluruskan: ketika kita bershalawat kepada Nabi ﷺ, kita bukan sedang memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh Rasulullah ﷺ.


Beliau telah mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.


Sebaliknya, kitalah yang membutuhkan shalawat tersebut.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا»


"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."


Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.


Ini menunjukkan betapa besar keuntungan spiritual yang kembali kepada orang yang bershalawat.


Kita mengucapkan satu shalawat kepada Nabi ﷺ, sementara Allah memberikan balasan yang jauh lebih besar kepada kita.


Maka shalawat pada hakikatnya adalah ibadah yang manfaatnya kembali kepada pelakunya.


---


9. Hubungan QS. Al-Ahzab Ayat 56 dengan Ayat 43


Menariknya, beberapa belas ayat sebelumnya, Allah juga menggunakan kata yang sama dalam konteks orang-orang beriman:


«هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ»


"Dialah yang memberi shalawat kepada kalian dan para malaikat-Nya..."

(QS. Al-Ahzab: 43)


Para ulama menjelaskan bahwa shalawat Allah kepada orang-orang beriman merupakan bentuk rahmat, pujian dan perhatian Allah, sedangkan shalawat malaikat berupa doa dan istighfar.


Hal ini memberikan sebuah gambaran yang sangat indah.


Dalam ayat 43, Allah dan malaikat bershalawat kepada orang-orang beriman.


Dalam ayat 56, Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu orang-orang beriman diperintahkan bershalawat kepada Nabi ﷺ.


Seolah-olah terdapat hubungan spiritual yang sangat erat antara Allah, para malaikat, Rasulullah ﷺ dan kaum Mukminin.


---


10. Shalawat Sebagai Tanda Cinta, Bukan Sekadar Rutinitas


Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang shalawat hanya menjadi ucapan otomatis.


Nama Nabi ﷺ disebut, kemudian kita mengucapkan "shallallahu 'alaihi wa sallam" tanpa menghadirkan makna apa pun dalam hati.


Padahal, jika direnungkan, setiap kali kita bershalawat, sebenarnya kita sedang mengingat seorang manusia yang telah menjadi sebab sampainya risalah Islam kepada kita.


Kita mengenal tauhid melalui dakwah beliau.


Kita mengetahui cara shalat melalui sunnah beliau.


Kita mengetahui bagaimana berakhlak melalui teladan beliau.


Kita mengenal jalan menuju keselamatan melalui risalah yang beliau sampaikan.


Karena itu, shalawat seharusnya melahirkan rasa syukur dan cinta.


Bukan sekadar repetisi lisan.


---


11. Tetapi Cinta kepada Nabi ﷺ Harus Tetap Berada dalam Koridor Syariat


Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian penting dari iman. Namun kecintaan itu tidak berarti menempatkan beliau pada kedudukan yang menjadi hak Allah.


Rasulullah ﷺ adalah hamba Allah dan utusan-Nya.


Karena itu, penghormatan kepada beliau harus berjalan bersama tauhid.


Kita mencintai Nabi ﷺ tanpa menuhankan beliau.


Kita memuliakan beliau tanpa memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau.


Kita bershalawat kepada beliau dengan tetap meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak.


Justru inilah keindahan ajaran Rasulullah ﷺ: memuliakan beliau setinggi-tingginya sebagai Rasul Allah, tanpa melampaui batas.


---


12. Apa Pelajaran Besar dari QS. Al-Ahzab: 56?


Dari penjelasan para mufassir mu'tabar, setidaknya terdapat beberapa pelajaran penting.


Pertama, Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan yang sangat mulia


Allah sendiri yang menyebut bahwa Dia dan para malaikat bershalawat kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan tingginya kedudukan beliau di sisi Allah. Imam Ibn Katsir secara eksplisit menjadikan hal tersebut sebagai inti penjelasan ayat ini.


Kedua, shalawat merupakan ibadah yang diperintahkan Allah


Perintah:


«صَلُّوا عَلَيْهِ»


ditujukan langsung kepada orang-orang beriman.


Karena itu, shalawat bukan sekadar tradisi budaya umat Islam, tetapi memiliki dasar yang sangat jelas dalam Al-Qur'an.


Ketiga, shalawat merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah ﷺ


Ia menjadi tanda bahwa seorang Muslim mengakui kedudukan Nabi ﷺ sebagai Rasul Allah.


Keempat, shalawat membawa keuntungan bagi orang yang mengamalkannya


Hadis Shahih Muslim menjelaskan bahwa satu shalawat kepada Nabi ﷺ dibalas dengan sepuluh shalawat dari Allah.


Kelima, shalawat harus melahirkan ittiba'


Shalawat yang benar tidak berhenti di bibir.


Ia semestinya mendorong seseorang untuk bertanya:


"Jika aku benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, sudah sejauh mana aku mengikuti sunnah dan akhlaknya?"


Sebab cinta yang hanya diucapkan tetapi tidak melahirkan ketaatan akan kehilangan ruhnya.


---


13. Bagaimana Seharusnya Kita Mengamalkan Ayat Ini?


Ada beberapa bentuk sederhana yang dapat dilakukan.


Pertama, memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ.


Kedua, menggunakan lafaz shalawat yang memiliki landasan dari hadis sahih, terutama shalawat Ibrahimiyah.


Ketiga, membiasakan mengucapkan shallallahu 'alaihi wa sallam ketika nama Rasulullah ﷺ disebut.


Keempat, mempelajari sirah dan sunnah beliau agar kecintaan kepada beliau tidak bersifat emosional semata.


Kelima, berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan: kejujuran, kelembutan, kesabaran, keberanian, keadilan dan kasih sayang.


Keenam, menjadikan shalawat sebagai pintu untuk memperkuat hubungan dengan Rasulullah ﷺ melalui ilmu dan ittiba'.


Dengan demikian, shalawat bukan hanya "banyak menyebut nama Nabi", tetapi juga semakin mengenal, mencintai dan mengikuti Nabi ﷺ.


---


Penutup: Shalawat adalah Bahasa Cinta yang Diperintahkan Langit


QS. Al-Ahzab ayat 56 menghadirkan sebuah gambaran yang sangat indah.


Allah bershalawat kepada Nabi ﷺ.


Para malaikat bershalawat kepada Nabi ﷺ.


Kemudian orang-orang beriman diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi ﷺ.


Ada sebuah pesan besar di balik susunan ayat tersebut: Rasulullah ﷺ bukan sekadar tokoh sejarah dalam kehidupan umat Islam. Beliau adalah Rasul yang kedudukannya dimuliakan oleh Allah dan yang risalahnya menjadi jalan keselamatan bagi manusia.


Karena itu, ketika seorang Muslim mengucapkan:


اللهم صل وسلم على نبينا محمد


hendaknya bukan hanya lisannya yang bergerak.


Hatinya juga mengingat.


Akalnya memahami.


Cintanya tumbuh.


Dan kehidupannya perlahan mengikuti.


Sebab shalawat yang sejati bukan hanya membuat kita sering menyebut Nabi ﷺ, tetapi semestinya membuat kita semakin dekat dengan ajaran Nabi ﷺ.


Inilah salah satu pesan terdalam QS. Al-Ahzab ayat 56: memuliakan Rasulullah ﷺ dengan shalawat, menghidupkan kecintaan kepadanya, dan membuktikan kecintaan itu dengan mengikuti petunjuk yang beliau bawa.


Wallahu a'lam bish-shawab.

MUHAMMADIYAH DAN POLITIK: JANGAN JADI ALAT KEKUASAAAN

 MUHAMMADIYAH DAN POLITIK: JANGAN JADI ALAT KEKUASAAAN




Oleh: Tomi Afrizal, S.Psi

Wakil Sekretaris Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat 


Muhammadiyah tidak boleh alergi terhadap politik. Tetapi Muhammadiyah juga tidak boleh tergantung kepada politik.


Di sinilah persoalannya.


Politik adalah bagian dari kehidupan berbangsa. Kekuasaan menentukan banyak kebijakan yang bersentuhan dengan pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, dan kehidupan umat. Karena itu, ulama dan kader Muhammadiyah tidak boleh buta politik.


Tetapi memahami politik berbeda dengan menjadi alat politik.


Muhammadiyah harus mampu berkomunikasi dengan siapa pun yang memegang kekuasaan, tanpa kehilangan independensinya. Hari ini bisa bertemu pemerintah, besok bisa mengkritik pemerintah. Hari ini bisa berdialog dengan politisi, besok bisa menolak kebijakannya.


Jangan sampai kedekatan berubah menjadi ketergantungan.


Muhammadiyah memiliki amal usaha, kader, intelektual, ulama, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, masjid, dan kekuatan masyarakat yang jauh lebih besar daripada sekadar dukungan politik sesaat.


Karena itu, kader Muhammadiyah harus masuk ke ruang-ruang politik dengan membawa nilai, bukan membawa kepentingan pribadi.


Jangan ketika dekat dengan kekuasaan kita diam terhadap kesalahan. Jangan pula ketika berada di luar kekuasaan kita baru pandai berbicara tentang keadilan.


Kebenaran tidak boleh berubah hanya karena siapa yang sedang berkuasa.


Muhammadiyah harus tetap menjadi kekuatan moral.


Jika pemerintah benar, dukung.


Jika pemerintah keliru, ingatkan.


Jika kebijakan berpihak kepada rakyat, apresiasi.


Jika kebijakan merugikan umat, kritik dengan ilmu dan adab.


Inilah politik kebangsaan yang sehat.


Yang lebih berbahaya bukan kader Muhammadiyah yang masuk politik.


Yang berbahaya adalah ketika Muhammadiyah kehilangan sikap kritis karena terlalu dekat dengan kekuasaan.


Muhammadiyah boleh dekat dengan istana, tetapi jangan sampai hati dan pikirannya berada di bawah istana.


Sebab Muhammadiyah lahir bukan untuk menjadi kendaraan kekuasaan.


Muhammadiyah hadir untuk membangun masyarakat utama, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.


Kekuasaan boleh berganti.


Partai boleh berganti.


Presiden boleh berganti.


Tetapi prinsip tidak boleh berganti hanya karena kepentingan politik.


Jangan jual independensi organisasi demi kursi. Jangan tukar idealisme dengan akses kekuasaan. Dan jangan jadikan nama besar Muhammadiyah sebagai alat untuk memburu kepentingan pribadi.


Muhammadiyah harus memiliki kader yang melek politik, tetapi tidak mabuk kekuasaan.


Itulah kedewasaan politik kader Muhammadiyah.

Minggu, 06 September 2026

JANGAN JADIKAN GELAR SEBAGAI DALIL

 JANGAN JADIKAN GELAR SEBAGAI DALIL



Oleh: Aya Syophia Miza, M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Gelar bukan jaminan keilmuan. Jabatan bukan bukti kebenaran. Popularitas bukan ukuran ketakwaan.


Di zaman ketika gelar akademik semakin mudah dipajang di belakang nama, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai umat lebih mudah tunduk kepada gelar daripada kepada dalil.


Seseorang bergelar doktor belum tentu memahami seluruh persoalan agama. Seseorang yang bergelar profesor tidak otomatis benar dalam setiap pendapatnya. Demikian pula seseorang yang populer di media sosial tidak otomatis lebih alim daripada mereka yang hidupnya jauh dari sorotan kamera.


Islam tidak mengajarkan kita mengukur kebenaran dari siapa yang berbicara, tetapi dari apa yang dibicarakan.


Allah berfirman:


«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»


“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)


Perhatikan: Al-Qur’an menyebut ahludz-dzikr, orang yang memiliki ilmu dan kapasitas, bukan sekadar orang yang memiliki gelar.


Karena itu, jangan bertanya hanya, “Siapa yang mengatakan?”


Tetapi tanyakan juga:


“Apa dalilnya?”

“Dari mana sumbernya?”

“Bagaimana pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah?”

“Bagaimana para ulama memahami dalil tersebut?”


Gelar adalah identitas akademik. Ia penting dan patut dihargai. Tetapi gelar bukan sertifikat bahwa pemiliknya selalu benar.


Begitu pula jubah, sorban, keturunan, jabatan, organisasi, jumlah pengikut, dan popularitas—semuanya bukan standar mutlak kebenaran.


Kebenaran tetap harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman ilmu yang benar.


Nabi ﷺ bersabda:


«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»


“Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”


Maka umat harus dididik menjadi cerdas dalam menerima pendapat.


Jangan karena seseorang bergelar tinggi, semua ucapannya langsung dianggap benar.


Jangan karena seseorang tidak memiliki gelar akademik, semua perkataannya langsung dianggap tidak bernilai.


Hormati ulama, tetapi jangan mengultuskan manusia. Hargai gelar, tetapi jangan menyembah gelar. Dengarkan pendapat, tetapi timbang dengan dalil.


Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan panjangnya gelar di belakang nama, tetapi benarnya iman, luasnya ilmu, baiknya amal, dan ketundukan kepada kebenaran.


Mari kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.


Bukan kembali kepada fanatisme terhadap tokoh.


Bukan kembali kepada kebanggaan terhadap gelar.


Bukan pula kembali kepada popularitas.


Kembali kepada dalil. Kembali kepada ilmu. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.


Karena gelar bisa dicantumkan di kartu nama, tetapi ilmu harus dibuktikan dengan hujjah dan amal.


Ketika Iman Membutuhkan Tempat Berlindung

 Ketika Iman Membutuhkan Tempat Berlindung



"



Oleh: 

Angga Fernando Gustian,Lc.,M.A

-Anggota Komisi Fatwa Metodologi MUI Sumatera Barat

-Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

-Sekretaris PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat


Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 10 dan Pelajaran tentang Menjaga Iman


Di tengah dunia yang semakin bising oleh berbagai pengaruh, mempertahankan iman terkadang membutuhkan keberanian untuk berbeda. Tidak semua lingkungan selalu ramah terhadap prinsip agama, dan tidak setiap jalan yang ramai merupakan jalan yang benar.


Al-Qur'an mengabadikan kisah sekelompok pemuda beriman yang memilih mempertahankan keyakinan mereka ketika berhadapan dengan tekanan masyarakat. Mereka tidak memilih popularitas, kenyamanan, atau keselamatan dunia sebagai prioritas utama. Mereka memilih Allah.


Allah سبحانه وتعالى berfirman:


«إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


«“(Ingatlah) ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.’”

(QS. Al-Kahfi: 10)»


Ayat ini singkat, tetapi menyimpan pesan yang sangat dalam: ketika seseorang memilih mempertahankan iman, ia harus menggabungkan ikhtiar, doa, tawakal, dan keberanian mengambil keputusan.


---


Pemuda yang Memilih Iman daripada Kenyamanan


Allah menggunakan kata الْفِتْيَةُ (al-fityah) yang berarti para pemuda.


Mereka adalah sekelompok anak muda yang beriman kepada Allah, sementara masyarakat di sekitar mereka berada dalam kesyirikan. Mereka menghadapi tekanan untuk meninggalkan tauhid dan mengikuti keyakinan masyarakatnya.


Menurut penjelasan Ibnu Katsir, mereka adalah para pemuda yang melarikan diri demi mempertahankan agama mereka agar tidak dipalingkan oleh kaumnya.


Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:


«يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ أُولَئِكَ الْفِتْيَةِ، الَّذِينَ فَرُّوا بِدِينِهِمْ مِنْ قَوْمِهِمْ لِئَلَّا يَفْتِنُوهُمْ عَنْهُ»


Artinya:


«“Allah Ta'ala mengabarkan tentang para pemuda tersebut, yaitu mereka yang melarikan diri dengan membawa agama mereka dari kaumnya agar mereka tidak memalingkan mereka dari agama tersebut.”»


Ini adalah pelajaran penting bagi generasi muda.


Kualitas seorang pemuda tidak hanya diukur dari kecerdasan, keberanian, prestasi, atau popularitasnya, tetapi juga dari apa yang sanggup ia pertahankan ketika prinsipnya diuji.


---


Ketika Gua Menjadi Lebih Mulia daripada Istana


Ayat tersebut menggunakan kata:


«أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ»


“Para pemuda itu berlindung ke dalam gua.”


Gua bukan tempat yang nyaman. Gelap, sempit, jauh dari kehidupan kota dan tidak menjanjikan kemewahan.


Namun bagi mereka, gua menjadi tempat untuk menyelamatkan iman.


Di sinilah kita belajar bahwa nilai sebuah tempat tidak selalu ditentukan oleh kemewahan yang ada di dalamnya, tetapi oleh keselamatan iman yang dapat dijaga di sana.


Sebuah tempat yang sederhana dapat menjadi lebih mulia daripada tempat yang megah apabila di sana seseorang dapat menjaga hubungannya dengan Allah.


Dalam konteks kehidupan modern, “gua” bisa bermakna simbolis: kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari lingkungan yang merusak iman, pergaulan yang menghancurkan akhlak, konten yang menormalisasi kemaksiatan, atau tekanan sosial yang membuat seseorang malu menjalankan agamanya.


Tidak semua lingkungan harus diikuti.


Tidak semua tren harus diikuti.


Tidak semua suara mayoritas harus dipercaya.


Terkadang, menyelamatkan iman membutuhkan keberanian untuk mengatakan: “Aku memilih berbeda karena aku ingin tetap bersama Allah.”


---


Doa yang Mengajarkan Cara Menghadapi Krisis


Menariknya, setelah mereka mengambil langkah nyata dengan berlindung di dalam gua, mereka tidak hanya mengandalkan usaha.


Mereka berdoa:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً»


“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.”


Kemudian mereka melanjutkan:


«وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


“Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”


Doa tersebut memperlihatkan keseimbangan yang luar biasa.


Mereka berusaha menyelamatkan diri, tetapi tidak mengandalkan usaha mereka.


Mereka mengambil keputusan, tetapi tetap memohon pertolongan Allah.


Mereka mencari tempat perlindungan, tetapi meyakini bahwa perlindungan sejati hanya berasal dari Allah.


---


Makna “Rahmah” Menurut Para Ulama


Ibnu Katsir menjelaskan:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً أَيْ هَبْ لَنَا مِنْ عِنْدِكَ رَحْمَةً تَرْحَمُنَا بِهَا وَتَسْتُرَنَا عَنْ قَوْمِنَا»


Artinya:


«“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, yaitu anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau merahmati kami dan menutupi kami dari kaum kami.”»


Rahmat yang mereka minta bukan sekadar kenyamanan hidup.


Mereka meminta rahmat yang dapat menjaga mereka dari fitnah, melindungi agama mereka, dan mengantarkan mereka kepada keselamatan.


Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah terkadang hadir dalam bentuk sesuatu yang tidak kita sukai.


Bisa berupa dijauhkan dari sebuah lingkungan.


Bisa berupa gagalnya sebuah rencana.


Bisa berupa tertutupnya sebuah kesempatan.


Bahkan bisa berupa seseorang harus meninggalkan sesuatu yang sangat ia cintai demi mempertahankan agamanya.


Tidak semua kehilangan adalah musibah.


Kadang-kadang, Allah mengambil sesuatu dari kita agar iman kita tetap utuh.


---


“Rasyada”: Memohon Agar Allah Mengarahkan Akhir Perjalanan


Bagian kedua dari doa mereka sangat menarik:


«وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa mereka memohon kepada Allah agar dimudahkan menuju apa yang mereka cari, yaitu keridaan Allah dan menjauh dari kekufuran.


Beliau menjelaskan:


«يَسِّرْ لَنَا بِمَا نَبْتَغِي وَمَا نَلْتَمِسُ مِنْ رِضَاكَ وَالْهَرَبِ مِنَ الْكُفْرِ بِكَ ... رَشَدًا، يَعْنِي سَدَادًا إِلَى الْعَمَلِ بِالَّذِي تُحِبُّ»


Artinya:


«“Mudahkanlah bagi kami apa yang kami cari dan kami harapkan berupa keridaan-Mu serta menjauh dari kekufuran kepada-Mu... yaitu petunjuk dan ketepatan untuk melakukan apa yang Engkau cintai.”»


Jadi, rasyad bukan sekadar “keberuntungan”.


Rasyad adalah ketepatan arah.


Seseorang bisa memiliki banyak pilihan, tetapi belum tentu mendapatkan rasyad.


Seseorang bisa memiliki ilmu yang luas, tetapi belum tentu mendapatkan rasyad.


Seseorang bisa memiliki jabatan, kekayaan, pengaruh, dan popularitas, tetapi belum tentu mendapatkan rasyad.


Karena itu, doa yang sangat penting bukan hanya:


“Ya Allah, berikan aku apa yang aku inginkan.”


Tetapi:


“Ya Allah, arahkan aku kepada apa yang Engkau ridai.”


Sebab terkadang yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita, sedangkan apa yang Allah pilihkan bisa jadi jauh lebih baik daripada apa yang kita rencanakan.


---


Ikhtiar Dahulu, Kemudian Tawakal


Ayat ini juga memberikan prinsip penting dalam kehidupan.


Para pemuda Ashabul Kahfi tidak hanya berdoa.


Mereka bergerak.


Mereka meninggalkan lingkungan yang membahayakan iman dan mencari tempat perlindungan.


Setelah itu mereka berdoa kepada Allah.


Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.


Syaikh Abdurrahman As-Sa'di رحمه الله menjelaskan:


«فَجَمَعُوا بَيْنَ السَّعْيِ وَالْفِرَارِ مِنَ الْفِتْنَةِ ... وَبَيْنَ تَضَرُّعِهِمْ وَسُؤَالِ اللَّهِ تَيْسِيرَ أُمُورِهِمْ»


Artinya:


«“Mereka menggabungkan antara usaha untuk menjauh dari fitnah... dengan merendahkan diri dan memohon kepada Allah agar Dia memudahkan urusan mereka.”»


Inilah mentalitas seorang mukmin.


Berusaha seolah-olah semuanya bergantung kepada ikhtiar, tetapi berdoa dan bertawakal seolah-olah semuanya berada di tangan Allah.


---


Pelajaran Dakwah dari Surat Al-Kahfi Ayat 10


Dari ayat ini setidaknya terdapat beberapa pelajaran penting.


1. Masa muda bukan alasan untuk menunda kebaikan


Allah mengabadikan para pemuda Ashabul Kahfi dalam Al-Qur'an.


Mereka bukan sekadar anak muda yang memiliki semangat, tetapi pemuda yang memiliki iman dan keberanian mempertahankan prinsip.


Karena itu, masa muda seharusnya tidak hanya dihabiskan untuk mengejar popularitas, tetapi juga membangun ilmu, ibadah, karakter, dan kontribusi.


2. Menjaga iman terkadang membutuhkan keberanian mengambil jarak


Tidak semua lingkungan baik bagi iman.


Ada kalanya seorang muslim perlu meninggalkan pergaulan, kebiasaan, tontonan, atau lingkungan yang terus-menerus menyeretnya kepada kemaksiatan.


Menjauh bukan berarti kalah.


Kadang-kadang menjauh adalah cara untuk menyelamatkan diri agar suatu hari dapat kembali dengan keadaan yang lebih kuat.


3. Jangan hanya mengandalkan kemampuan diri


Ashabul Kahfi telah melakukan ikhtiar, tetapi mereka tetap berkata:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً»


Mereka menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan.


Sebanyak apa pun ilmu kita, tetap membutuhkan hidayah.


Sebesar apa pun usaha kita, tetap membutuhkan pertolongan Allah.


4. Mintalah bukan sekadar kemudahan, tetapi petunjuk


Mereka tidak hanya meminta agar masalah mereka selesai.


Mereka meminta:


«رَشَدًا»


Petunjuk yang benar.


Sebab hidup bukan sekadar tentang keluar dari masalah, tetapi tentang keluar dari masalah dengan tetap berada di jalan yang Allah ridai.


5. Rahmat Allah adalah kebutuhan terbesar manusia


Manusia membutuhkan kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu, pekerjaan, dan keamanan.


Namun di atas semuanya, manusia membutuhkan rahmat Allah.


Sebab tanpa rahmat-Nya, nikmat yang banyak pun tidak menjamin keselamatan.


---


Relevansi Ayat di Zaman Digital


Hari ini manusia mungkin tidak menghadapi penguasa yang memaksa mereka menyembah berhala sebagaimana kisah yang disebutkan dalam penjelasan para mufasir.


Namun bentuk fitnah berubah.


Ada fitnah syahwat.


Ada fitnah syubhat.


Ada tekanan sosial.


Ada budaya yang menjadikan maksiat sebagai hiburan.


Ada algoritma yang terus menyajikan apa yang kita sukai sampai kita lupa mempertanyakan apakah yang kita sukai itu benar.


Dalam kondisi seperti ini, seorang muslim membutuhkan “gua” dalam bentuk yang berbeda: ruang untuk menjaga hati, membatasi diri, memperbanyak ilmu, memperbaiki pergaulan, dan kembali kepada Allah.


Bukan berarti seorang muslim harus mengasingkan diri dari masyarakat.


Justru seorang muslim harus tetap hadir di tengah masyarakat dengan membawa kebaikan.


Namun ia harus memiliki kemampuan untuk berkata:


“Tidak semua yang viral layak diikuti.”


“Tidak semua yang populer layak dibenarkan.”


“Tidak semua yang dilakukan banyak orang harus saya lakukan.”


Sebab ukuran kebenaran bukan jumlah pengikut, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.


---


Ketika Dunia Memaksa Kita Memilih


Kisah Ashabul Kahfi memberikan sebuah pesan yang sangat relevan:


Ada saatnya kehidupan memaksa manusia memilih antara kenyamanan dan prinsip.


Ketika itu terjadi, seorang mukmin harus bertanya:


«Apa yang paling ingin saya selamatkan?»


Harta?


Popularitas?


Jabatan?


Relasi?


Atau iman?


Para pemuda Ashabul Kahfi telah memberikan jawabannya.


Mereka rela kehilangan kenyamanan demi mempertahankan iman.


Dan Allah membalas pilihan mereka dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang mereka tinggalkan.


Allah berfirman setelah ayat tersebut:


«فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا»


«“Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun.”

(QS. Al-Kahfi: 11)»


Allah menjaga mereka ketika mereka memilih menjaga agama.


Ini bukan berarti setiap orang yang meninggalkan sesuatu akan mendapatkan mukjizat sebagaimana Ashabul Kahfi. Namun kisah mereka menunjukkan sebuah prinsip besar: Allah tidak menyia-nyiakan orang yang bersungguh-sungguh menjaga iman dan mencari pertolongan-Nya.


---


Penutup: Doa untuk Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah


Surat Al-Kahfi ayat 10 mengajarkan bahwa perjalanan mempertahankan iman tidak selalu mudah.


Kadang kita harus meninggalkan sesuatu.


Kadang kita harus berbeda dengan lingkungan.


Kadang kita harus berjalan sendirian.


Kadang kita harus memilih jalan yang tidak populer.


Namun seorang mukmin tidak pernah benar-benar sendirian selama ia memiliki Allah.


Karena itu, doa Ashabul Kahfi layak menjadi doa yang selalu kita renungkan:


«رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا»


«“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”»


Boleh jadi hari ini kita sedang berada dalam fase kehidupan yang penuh tekanan.


Boleh jadi kita sedang menghadapi pilihan yang sulit.


Boleh jadi kita sedang berada di persimpangan antara apa yang kita inginkan dan apa yang Allah cintai.


Maka jangan hanya meminta agar Allah menghilangkan kesulitan.


Mintalah agar Allah memberikan rahmat di tengah kesulitan dan memberikan rasyad dalam setiap keputusan.


Sebab tujuan seorang mukmin bukan sekadar sampai di suatu tempat.


Tujuannya adalah sampai kepada Allah dengan iman yang tetap terjaga.


«اللهم آتنا من لدنك رحمة وهيئ لنا من أمرنا رشدا.»


«“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan arahkanlah seluruh urusan kami menuju petunjuk dan kebaikan.”»

DI MUHAMMADIYAH, NASAB BUKAN TIKET KEILMUAN

 *DI MUHAMMADIYAH, NASAB BUKAN TIKET KEILMUAN*





Oleh: Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat


Ada satu hal yang harus dipahami sejak awal:


Muhammadiyah tidak dibangun di atas kebanggaan nasab. Muhammadiyah dibangun di atas ilmu, amal, tajdid, dan pengabdian.


Di Muhammadiyah, seseorang tidak menjadi mulia hanya karena memiliki garis keturunan tertentu. Tidak ada gelar yang otomatis menjadikan seseorang ulama.


Kalau pertanyaannya, “Di mana habib di Muhammadiyah?”


Jawabannya sederhana:


Muhammadiyah tidak menjadikan gelar habib sebagai ukuran kepemimpinan keilmuan.


Bukan berarti Muhammadiyah memusuhi keturunan Rasulullah ﷺ. Sama sekali bukan.


Justru kita wajib menghormati Ahlul Bait dan mencintai Rasulullah ﷺ.


Tetapi cinta kepada Rasulullah tidak boleh membuat kita mematikan akal sehat dalam menilai ilmu.


Nasab adalah kemuliaan yang harus dihormati.


Tetapi ilmu harus tetap dipelajari.

Akhlak harus tetap dibuktikan.

Dalil harus tetap diperiksa.

Pendapat harus tetap diuji.


Di Muhammadiyah, pertanyaan utamanya bukan:


«“Keturunan siapa Anda?”»


Tetapi:


«“Apa ilmu Anda?”

“Apa dalil Anda?”

“Apa kontribusi Anda?”»


Inilah salah satu karakter penting tradisi Muhammadiyah.


Ulama tidak lahir karena gelar. Ulama lahir karena proses.


Ia belajar bertahun-tahun.

Membaca kitab.

Menguasai bahasa Arab.

Memahami Al-Qur'an dan Sunnah.

Menguasai ushul fikih.

Memahami maqashid syariah.

Mengenal khazanah turats.

Berani berdiskusi.

Dan yang paling penting: memiliki integritas moral.


Karena itu, jangan berharap seseorang dihormati sebagai ulama hanya karena masyarakat memanggilnya dengan gelar tertentu.


Gelar boleh diberikan manusia.

Tetapi kapasitas keilmuan harus dibuktikan.


Muhammadiyah tidak membutuhkan kultus terhadap tokoh.


Muhammadiyah membutuhkan ulama yang berilmu, kader yang kritis, dan pemimpin yang bekerja.


Kita harus berani mengatakan:


Nasab tidak boleh menggantikan ilmu.


Sebagaimana jabatan tidak boleh menggantikan kerja.


Sebagaimana popularitas tidak boleh menggantikan integritas.


Sebagaimana gelar tidak boleh menggantikan kapasitas.


Maka kalau ada yang bertanya mengapa di Muhammadiyah tidak menjadikan gelar habib sebagai ukuran utama?


Karena Muhammadiyah memiliki prinsip yang sederhana:


Yang dihormati adalah ilmunya.

Yang dinilai adalah amalnya.

Yang diikuti adalah kebenarannya.

Bukan sekadar siapa leluhurnya.


Dan justru di sinilah tantangan kader Muhammadiyah hari ini.


Jangan hanya mencetak kader yang pandai berorganisasi. Cetaklah kader yang mampu menjadi ulama.


Ulama yang kuat nasab keilmuannya.

Kuat tradisi belajarnya.

Kuat metodologinya.

Kuat akhlaknya.

Dan kuat keberaniannya dalam mempertahankan kebenaran.


Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan umat bukan gelar yang melekat di depan nama.


Tetapi ilmu yang diamalkan dan kebenaran yang diperjuangkan.


Muhammadiyah tidak anti-nasab.

Muhammadiyah anti-kultus.

Muhammadiyah tidak merendahkan keturunan.

Muhammadiyah menolak menjadikan keturunan sebagai pengganti ilmu.


Karena dalam tradisi keilmuan, kemuliaan nasab harus berjalan bersama kemuliaan ilmu dan akhlak.


— Aya Syophia Miza, S.H., M.A.

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat

Jumat, 04 September 2026

Korelasi Bahasa Arab dan Muballigh dalam Dakwah

 Korelasi Bahasa Arab dan Muballigh dalam Dakwah



Bahasa Arab bukan sekadar bahasa komunikasi, tetapi salah satu kunci untuk memahami sumber utama ajaran Islam. Bagi seorang muballigh, kemampuan berbahasa Arab memiliki korelasi yang erat dengan kualitas dakwah: semakin baik penguasaan bahasa Arab, semakin luas pula peluang untuk memahami Al-Qur’an, Sunnah, serta khazanah keilmuan Islam secara langsung dan mendalam.


Allah ﷻ berfirman:


«إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون


“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya.”

(QS. Yusuf: 2)»


Ayat ini menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki posisi penting dalam proses memahami wahyu. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, demikian pula sebagian besar hadis dan karya-karya ulama Islam ditulis dalam bahasa tersebut.


Karena itu, seorang muballigh tidak cukup hanya mampu menyampaikan pesan agama, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, menelaah, dan menyampaikan ajaran Islam berdasarkan sumbernya.


Imam Asy-Syafi’i رحمه الله memberikan perhatian besar terhadap bahasa Arab. Beliau menegaskan bahwa mempelajari bahasa Arab merupakan bagian penting dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, beliau menyatakan:


«فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده


“Setiap Muslim hendaknya mempelajari bahasa Arab sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.”»


Sementara itu, Umar bin Khattab رضي الله عنه dikenal memberikan dorongan kepada kaum Muslimin untuk mempelajari bahasa Arab karena ia berkaitan erat dengan pemahaman agama.


Bahasa Arab juga membantu muballigh menghindari kesalahan dalam memahami teks-teks syariat. Perbedaan harakat, struktur kalimat, bentuk kata, atau kedudukan gramatikal terkadang dapat memengaruhi makna sebuah teks. Di sinilah ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan penguasaan mufradat menjadi instrumen penting bagi seorang dai.


Namun demikian, bahasa Arab bukanlah tujuan akhir. Ia adalah wasilah menuju pemahaman agama yang lebih benar dan mendalam. Seorang muballigh yang menguasai bahasa Arab diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca kitab, tetapi mampu menghadirkan pesan Islam dengan bahasa yang relevan, argumentasi yang kuat, dan pendekatan yang bijaksana.


Dakwah membutuhkan ilmu, dan ilmu membutuhkan pemahaman terhadap sumbernya. Maka, membekali muballigh dengan kemampuan bahasa Arab sejatinya adalah membangun fondasi intelektual dakwah.


Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, muballigh tidak hanya dituntut pandai berbicara, tetapi juga mampu membaca khazanah keislaman secara kritis dan bertanggung jawab. Karena itu, menguatkan bahasa Arab berarti menguatkan kualitas kader dakwah dan memperluas akses terhadap warisan keilmuan Islam.


«اللغة العربية مفتاح لفهم الكتاب والسنة


“Bahasa Arab adalah kunci untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah.”»


Dengan demikian, hubungan antara bahasa Arab dan muballigh bukan sekadar hubungan antara bahasa dan profesi, melainkan hubungan antara alat, ilmu, dan amanah dakwah. Semakin kokoh alatnya, semakin kuat pula bekal seorang muballigh dalam membawa risalah Islam kepada umat.


Kamis, 03 September 2026

TIDAK SEMUA YANG PANDAI CERAMAH LAYAK DISEBUT ULAMA

 TIDAK SEMUA YANG CERAMAH LAYAK DISEBUT ULAMA



Mengukur Keulamaan dengan Syurūṭ ‘Ilmiyyah dan Syurūṭ Syakhṣiyyah


Oleh: Aya Syophia Miza, M.A

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat


Di zaman media sosial, seseorang bisa menjadi terkenal hanya karena pandai berbicara. Ribuan pengikut dapat diperoleh dalam waktu singkat. Video ceramah dapat ditonton jutaan kali. Nama seseorang dapat viral dan kemudian dianggap sebagai tokoh agama.


Tetapi ada satu pertanyaan penting yang sering kita lupakan:


Apakah popularitas otomatis menjadikan seseorang ulama?


Jawabannya: tidak.


Pandai berbicara agama tidak otomatis berarti mendalam dalam ilmu agama. Banyak pengikut tidak otomatis menunjukkan kapasitas keilmuan. Gelar akademik tidak otomatis menjadikan seseorang faqih. Bahkan sering tampil di mimbar tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki kapasitas untuk memberikan fatwa.


Keulamaan memiliki standar.


Setidaknya ada dua syarat besar yang harus diperhatikan: syurūṭ ‘ilmiyyah dan syurūṭ syakhṣiyyah.


---


1. SYURŪṬ ‘ILMIYYAH: JANGAN BERBICARA SEBELUM BERILMU


Ulama bukan sekadar orang yang mempunyai keberanian berbicara tentang agama.


Ulama harus memiliki perangkat ilmu.


Ia harus memahami Al-Qur'an, hadis, bahasa Arab, fikih, ushul fikih, qawa'id fiqhiyyah, maqashid al-syari'ah, turats, serta metodologi istinbath hukum.


Lebih dari itu, ia harus mampu memahami realitas persoalan yang sedang dihadapi umat.


Sebab persoalan kontemporer tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mencari satu ayat atau satu hadis.


Ada proses panjang:


Tasawwur → Takyif Fiqhi → Dalil → Istinbath → Maqashid → Analisis Dampak → Kesimpulan Hukum.


Di sinilah letak perbedaan antara orang yang menyampaikan agama dengan orang yang memiliki otoritas keilmuan untuk melakukan kajian hukum agama.


Tidak semua penceramah adalah mufti.


Tidak semua ustadz adalah faqih.


Tidak semua lulusan perguruan tinggi agama adalah ahli fatwa.


Dan tidak semua orang yang menggunakan istilah Arab dalam ceramahnya memahami metodologi istinbath.


Agama terlalu besar untuk dijadikan wilayah coba-coba.


---


2. SYURŪṬ SYAKHṢIYYAH: ILMU TANPA AKHLAK BISA MENJADI FITNAH


Ada orang yang ilmunya tinggi, tetapi rendah akhlaknya.


Ada yang pandai berargumentasi, tetapi tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya.


Ada yang menguasai kitab, tetapi mudah merendahkan orang lain.


Ada yang berbicara tentang sunnah, tetapi lisannya tidak mencerminkan akhlak sunnah.


Padahal ulama bukan hanya dinilai dari apa yang keluar dari mulutnya, tetapi juga dari bagaimana ia menjalani kehidupannya.


Ilmu seharusnya melahirkan khasyyah kepada Allah:


«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»


"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."

(QS. Fathir: 28)


Karena itu, seorang ulama harus memiliki:


Ikhlas.

Tidak menjadikan agama sebagai kendaraan popularitas.


Tawadhu'.

Tidak merasa dirinya paling benar dan paling tahu.


Wara'.

Berhati-hati dalam berbicara tentang halal dan haram.


Amanah.

Tidak menggunakan dalil untuk membenarkan kepentingan pribadi atau kelompok.


Sabar.

Tidak mudah terpancing oleh kritik dan perbedaan.


Akhlak.

Karena umat membutuhkan teladan, bukan hanya retorika.


---


JANGAN MENUKAR KEILMUAN DENGAN POPULARITAS


Inilah tantangan besar kaderisasi ulama hari ini.


Kita hidup dalam zaman ketika algoritma media sosial dapat menentukan siapa yang terkenal, tetapi algoritma tidak dapat menentukan siapa yang paling alim.


Viral bukan berarti benar.


Banyak penonton bukan berarti banyak ilmu.


Banyak undangan ceramah bukan berarti memiliki kapasitas untuk berijtihad.


Jumlah pengikut bukan ukuran keulamaan.


Keulamaan dibangun melalui proses panjang yang tidak selalu terlihat kamera.


Duduk bertahun-tahun di hadapan guru.


Membaca kitab.


Menghafal.


Meneliti.


Berdiskusi.


Mengoreksi kesalahan.


Belajar bahasa Arab.


Memahami ushul fikih.


Mengenal khilaf ulama.


Memahami realitas umat.


Dan yang paling penting: mengamalkan ilmu serta menjaga ketakwaan.


---


ULAMA BUKAN STATUS, TETAPI AMANAH


Menjadi ulama bukan sekadar mendapatkan pengakuan sosial.


Ia adalah amanah.


Ketika seseorang berbicara atas nama agama, ada konsekuensi besar di balik perkataannya.


Karena itu, seorang calon ulama harus memiliki keberanian untuk mengatakan:


«لَا أَعْلَمُ»


"Saya tidak tahu."


Kalimat tersebut bukan tanda kebodohan.


Justru terkadang itulah tanda kedewasaan ilmiah.


Orang yang belum matang secara keilmuan sering merasa harus menjawab semua pertanyaan.


Sedangkan orang yang benar-benar berilmu mengetahui batas pengetahuannya.


Tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan segera.


Terkadang jawaban paling ilmiah adalah:


"Saya perlu meneliti terlebih dahulu."


---


KADER ULAMA HARUS DIBENTUK, BUKAN DICETAK INSTAN


Jika umat ingin memiliki ulama yang berkualitas, maka proses kaderisasi tidak boleh instan.


Kita membutuhkan lembaga yang serius membangun:


العِلْمُ + المَنْهَجُ + الأَخْلَاقُ + العَمَلُ


Ilmu + metodologi + akhlak + pengamalan.


Kader ulama harus memiliki kemampuan membaca turāts, tetapi juga memahami persoalan zaman.


Menguasai khazanah klasik, tetapi mampu membaca perkembangan teknologi.


Menguasai fikih, tetapi memahami realitas masyarakat.


Menguasai dalil, tetapi memahami maqashid.


Mampu berijtihad, tetapi tetap rendah hati.


Inilah ulama yang dibutuhkan umat.


---


PENUTUP: SIAPA YANG LAYAK DISEBUT ULAMA?


Maka jangan terlalu mudah memberikan gelar ulama kepada seseorang hanya karena ia sering berada di atas mimbar.


Jangan ukur keulamaan dari jumlah pengikut.


Jangan ukur keulamaan dari popularitas.


Jangan ukur keulamaan dari banyaknya undangan.


Jangan ukur keulamaan hanya dari gelar akademik.


Ukur dengan dua hal:


SYURŪṬ ‘ILMIYYAH


Apakah ia memiliki ilmu dan metodologi yang memadai?


SYURŪṬ SYAKHṢIYYAH


Apakah ilmu tersebut melahirkan ketakwaan, integritas, amanah, dan akhlak?


Karena umat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang Islam.


Umat membutuhkan orang yang benar-benar berilmu, memahami metodologi, mengamalkan ilmunya, menjaga amanah, dan mampu menjadi teladan.


Sebab menjadi ulama bukan tentang seberapa banyak orang mengenal nama kita.


Menjadi ulama adalah tentang seberapa besar kita mampu menjaga amanah ilmu di hadapan Allah.


«العَالِمُ لَيْسَ مَنْ يَعْرِفُ كَثِيرًا فَقَطْ، بَلْ مَنْ يَعْرِفُ الْحَقَّ وَيَعْمَلُ بِهِ وَيَدْعُو إِلَيْهِ بِالْحِكْمَةِ.»


Ulama bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal, tetapi orang yang mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajak kepadanya dengan hikmah.