Sabtu, 07 Maret 2020

NEGERIKU DALAM BAHAYA

NEGERIKU DALAM BAHAYA


 Oleh: Buya Dr. Anwar Abbas, M.M, M.Ag

Negeri ini dalam bahaya.
Korupsi di mana-mana.
Yang rugi tidak hanya negara tapi rakyat banyak juga menjadi korbannya.
Untuk itu negara tidak boleh lagi bersantai-santai menghadapinya.

Sikap keras dan tegas harus ditegakkan karena kalau tidak tikus-tikus lapar ini akan terus bergentayangan dan menggerus keuangan negara baik secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama.
Kita selama ini membangun dan berhutang karena kita tahu uang kita kurang dan atau tidak ada.
Tetapi ternyata mereka-mereka yang bermental bejat tersebut malah mencuri dan merampoknya.
Ini adalah sebuah pengkhianatan besar yang telah mereka lakukan kepada bangsa dan negaranya.

Untuk itu tangkap dan arak mereka.
Ikat mereka di monas berhari-hari agar kita bisa melihat mereka secara bersama-sama.
Karena kita ingin tahu mereka-mereka yang selama ini bermuka manis ternyata adalah drakula-drakula yang menghisap darah bangsanya tanpa ada rasa berdosa.

Presiden Jokowi tindak dan tangkap mereka agar negara dan bangsa ini bisa maju dan jaya.

Jakarta. 13 januari 2020.
Dr. Anwar Abbas, M.M, M.Ag

Sumber:  https://www.youtube.com/watch?v=CPgI7GN9f0w

Jumat, 06 Maret 2020

Pokok-Pokok Keyakinan dan Ideologi Syi’ah dalam Pandangan Muhammadiyah


Pokok-Pokok Keyakinan dan Ideologi Syi’ah dalam Pandangan Muhammadiyah


Pengertian Syi’ah

Para ulama pakar perbandingan aliran Islam mencatat bahwa Syi’ah itu ada 3 jenis golongan:
  1. Syi’ah ‘Ghaliyah’ atau ‘Ghulat’ yang berpandangan esktrim seputar Ali bin Abi Thalib sampai pada taraf menuhankan Ali atau menganggapnya nabi. Kelompok ini sangat jelas kesesatan dan kekafirannya.
  2. Syi’ah ‘Rafidhah’ yang mengklaim adanya nash/teks wasiat penunjukan Ali sebagai khalifah dan berlepas diri dari dan bahkan mencaci dan mengkafirkan para khalifah sebelum Ali dan mayoritas para sahabat nabi. Kelompok ini telah meneguhkan dirinya ke dalam sekte Imamiyah Itsna ‘Asyariah dan Isma’iliyah. Golongan ini disepakati kesesatannya oleh para ulama, tapi secara umum tidak mengkafirkan mereka.
  3. Syi’ah ‘Zaidiyah’ yaitu pengikut Zaid bin Ali Zainal Abidin yang mengutamakan Ali atas sahabat lain dan menghormati serta loyal kepada Abu Bakr dan Umar  sebagai khalifah yang sah.
Pokok-Pokok Keyakinan dan Ideologi Syi’ah dalam Pandangan Muhammadiyah Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid menjelaskan pandangan Muhammadiyah sebagai berikut :

1.      ‘Ishmatul A’immah (Kesucian para Imam). Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad  yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-Imam (‘ishmat al-A’immah) dalam ajaran Syi’ah.
2.      Al-Washiyah (Washiat Pengganti Nabi). Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad s.a.w tidak menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah beliau diserahkan kepada musyawarah umat, jadi kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep Rafidhahnya Syi’ah.
3.      Kultus terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib r.a. sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.
4.      Validitas Hadits. Syi’ah hanya menerima hadis dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun diriwayatkan Bukhari Muslim- ditolak oleh Syi’ah. Implikasinya ialah terjadinya banyak sekali perbedaan antara Syi’ah dan Ahlussunnah baik masalah Aqidah, Ibadah, Munakahat, dan lain-lainnya yang tidak dapat dikompromikan.

Faturrahman Kamal, Lc, M.S.i
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah Untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta


Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah Untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta 




Haedar Nashir dalam Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah Untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta menyampaikan ada empat Isu-isu Sentral untuk Kalangan Muda Muhammadiyah:


Isu Sentral Pertama adalah tentang perumusan visi keislaman dan keindonesiaan terkhusus pada relasi Islam dan Negara. Menurut Haedar Nasir, Muhammadiyah beruntung karena dalam persoalan ini telah memiliki dokumen sejarah yang banyak terkait dengan berbagai karya pemikiran tokoh-tokoh terdahulu yang telah dikonsepkan. Konsep tersebut dalam Muhammadiyah kini telah menjadi  peneguh identitas Muhammadiyah dalam memilih wujud relasi Islam dan Indonesia yang disebut sebagai dār al-Ahdi wa as-Syahadah.

Isu Sentral Kedua adalah wacana radikalisme. Kalangan muda Muhammadiyah harus mengelaborasi konsep moderasi dalam Muhammadiyah sebagai solusi fenomena radikalisme ekstrim yang terjadi di Indonesia. tentu dengan memperluas dan memperdalam realitas radikalisme, bahwa faham dan gerakan radikal tidak hanya terjadi pada ranah agama, juga disebabkan oleh fanatik kesukuan, pandangan ekonomisme ekstrim dan bisa pula karena pandangan, sikap, dan etika berpolitik. Dalam pandangan moderasi Muhammadiyah, puritanitas bukanlah sesuatu yang harus ditolak karena ia sendiri adalah sebuah keniscayaan.

Sebagaimana dalam gerakan tajdid Muhammadiyah ada unsur purifikasi. Hanya saja bibit puritanitas yang menjadi faham puritanisme ekstrim bisa ada karena bibit tesebut tidak mengalami pengayaan tajdidsm hingga hanya berada pada titik statis dan menjadilah gerakan kejumudan dan kontra terhadap gerakan pembaharuan. maka dalam aspek ini, kalangan Muhammadiyah harus senantiasa mengayakan persoalan tauhid secara elaboratif. Lahirnya pemikian teologi al-Maun merupakan bukti nyata bagaimana Dahlan Muda mengayakan wacana tauhid dengan mengelaborasinya dengan konteks dan tantangan umat di zamannya.

Isu Sentral Ketiga adalah strategi politik Islam. Haedar Nasir melihat tenaga kita sudah dihabiskan dalam perdebatan mengenai adakah hubungan antara Islam dan politik. Muhammadiyah harus menyudahi itu. Muhammadiyah menerima adanya hubungan itu sehingga seluruh tenaga dan pikiran hendaknya diarahkan kepada kerja yang lebih produktif salah satunya adalah merumuskan seperti apa hubungan Islam dengan politik tersebut. di sini, peran kalangan Muda Muhammadiyah sangat dinantikan. Usaha mewujudkan relasi Islam politik harus didasari realitas akan keniscayaan kebinekaan yang ada di negara tercinta kita ini. wacana Islamisme-sekularisme-nasionalisme setidaknya bisa menjadi wacana yang telah banyak dibicarakan, namun Haedar Nashir berharap, Kalangan Muda Muhammadiyah bisa berfikir strategis melampaui dari ketiga wacana tersebut.

Isu Sentral Keempat sekaligus terakhir adalah diskusi positif atas eksistensi gerak juang Muhammadiyah sendiri di pentas nasional dan internasional. Haedar mengungkapkan bahwa pada hakikatnya jati diri Muhammadiyah sudah sangatlah jelas apabila hendak melihat dari berbagai dokumen resmi yang menjadi rambu-rambu dalam Muhammadiyah, sebut saja Matan Keyakinan dan Cita-cita Muhammadiyah, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Ideologi Muhammadiyah hingga Manhaj Tarjih Muhammadiyah adalah berbagai macam karya yang telah menstrukturiasasi wujud dan eksistensi Muhammadiyah secara menyeluruh.

Persoalannya adalah belum adanya pembiasaan untuk membaca dan memahami secara menyeluruh dokumen-dokumen penting tersebut, hatta sekalipun tokoh-tokoh Muhammadiyah bisa jadi ada yang belum membaca secara lengkap karya tersebut. Oleh karenanya tugas Kalangan Muda Muhammadiyah adalah tidak melepaskan pemikiran dan gerak juang mereka dari berbagai karya tersebut yang telah menjadi haluan resmi organisasi Muhammadiyah. kalau perlu, kalangan Mudanya melakukan upaya sistematisasi dan menelurkan turunan-turunan dari berbagai karya tersebut untuk diaplikasikan dalam rangkan mewarnai berbagai ranting dan amal usaha Muhammadiyah di kalangan masyarakat.