Sabtu, 28 Maret 2020

MANA DULU, ILMU ATAU ADAB ?


PESAN UNTUK MUHAMMADIYAH


MAKLUMAT MTT PWM SUMBAR MENYIKAPI COVID 19



LIHATLAH UCAPANNYA JANGAN LIHAT ORANGNYA

Disandarkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, bahwa beliau berkata :

أنظر ما قال ولا تنظر من قال

Lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan

Senada dengan ucapan di atas, Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullahu juga mengatakan :

أنظر إلى القول ولا تنظر إلى القائل
Perhatikanlah ucapannya jangan memperhatikan yang mengucapkan
  ?? Apakah ucapan di atas mutlak benar?
Saya katakan :

ولكن هذا ليس على الإطلاق…

Namun hal ini tidaklah mutlak…

هذا خاص لمن يعرف الحق والخير

Ini hanya khusus berlaku bagi orang yang mengetahui kebenaran dan kebaikan

أما عوام الناس لا يعرفون الحق ولا يعرفون الخير، فلا…

Adapun kebanyakan orang awam yang belum tahu kebenaran dan kebaikan, maka tidak berlaku…
Karena itu yang jadi parameter dan standar adalah mengetahui dan mengenal al-Haq!!!

Koridor yang tepat dalam hal ini adalah sebagaimana yang diucapkan oleh Ubay bin Ka’ab :

اقْبَلِ الْحَقَّ مِمَّنْ جَاءَكَ بِهِ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا بَغِيضًا ، وَارْدُدِ الْبَاطِلَ عَلَى مِنْ جَاءَكَ بِهِ ، وَإِنْ كَانَ حَبِيبًا قَرِيبًا
 
Terimalah kebenaran yang datang padamu walaupun berasal dari orang jauh yang kau benci, dan tolaklah kebatilan yang sampai padamu walaupun berasal dari orang dekat yang kau cintai.

Maka dari itu, Kaidah Yang Tepat dalam hal ini adalah :

WAJIB MENERIMA KEBENARAN DARIMANAPUN DATANGNYA
➖NAMUN TETAP WAJIB SELEKTIF DALAM MENCARI KEBENARAN.

Inilah obyektivitas dan sikap wasathiyyah (pertengahan) ahlus sunnah. Tetap menerima kebenaran meskipun dari lisan setan, namun tetap berhati-hati dalam mencari kebenaran, karena tidak boleh belajar dan mencari kebenaran dari setan.

Alangkah benarnya yang dipaparkan oleh Syaikh Rabi’ al-Makdkholi
استفد من الإنسان ولا تعتمد في كل شيء و خذ من الحق وخذ من الخير  إذا كان أهلا لذلك ولا تقلده
Ambillah Faidah dari orang lain namun jangan bersandar padanya dalam segala hal. Ambillah yang benar dan baik saja, Apabila ia memang dikenal dalam hal ini, namun janganlah taqlid padanya.
Ini sebagaimana perkataan Imam Malik :

كل قول يؤخذ ويترك إلا قول النبي
 
Setiap ucapan boleh diterima dan ditolak, kecuali ucapan Nabi

Karena itu :
 
➖Wajib bagi kita belajar dan menuntut ilmu untuk mengenal kebenaran, karena ilmu lah yang akan menjadi parameter dan standar.
➖Selektif dalam belajar dan menuntut ilmu. Karena ilmu itu agama, maka perhatikanlah darimana kamu mengambil agamamu.
➖Apabila sampai suatu perkataan yang haq dan baik (tentunya ditimbang dengan ilmu), maka wajib diterima meskipun berasal dari musuh yang sangat dibenci.
➖Sebaliknya, jika sampai suatu ucapan yang bathil walaupun berasal dari orang yang dicintai dan dihormati, maka wajib ditolak.
➖Jangan lihat orang yang mengatakan, namun lihatlah apa yang dikatakan. Ini berlaku bagi orang yang telah mengetahui kebenaran itu sendiri. Jika tidak tahu, lantas bagaimana dia bisa menilai ucapkan tersebut di atas kebenaran atau tidak.
➖Ucapan ini juga sebagai dorongan bagi kita untuk menjauhi bersikap fanatik terhadap person, individu atau figur tertentu. Karena tidak ada yang ma’shum kecuali hanya Nabi yang mulia ﷺ.
والله أعلم
Depok, 29 Shofar 1438 H.
Akhukum Abu Salma
@abinyasalma

Sumber: https://abusalma.net/2016/12/09/lihatlah-ucapannya-jangan-lihat-orangnya/

Kamis, 26 Maret 2020

Tips Baca Buku Efisien untuk Pemula dari Syekh Saed Fodeh

Tips Baca Buku Efisien untuk Pemula dari Syekh Saed Fode
 
Buat (adek2-pen) yang masih pemula (tahap belajar matan ilmu syar`i) memang sebaiknya fokus saja di matan, bahkan tidak usah melirik ke hasyiah kecuali kalau memang butuh. Terutama ketika membaca sebuah buku untuk kali pertama. Lirak-lirik matan-hasyiyah ini malah menjadikan yang bingung tambah bingung, maunya nyambung antara matan-hasyiyah malah jadi tidak nyambung. Nanti saja ketika memang benar-benar butuh penjelasan dari hasyiah atau setelah mengkhatamkan dan paham buku yang dibaca.

Membaca buku untuk kedua bahkan ketiga kalinya itu sangat bermanfaat sebagaimana nasehat para ulama. Mereka mengulang-ngulang khatam baca buku sebelum pindah ke buku lain. al-Sayyid al-Syarif Jurjani misalnya, beliau membaca Syarhu'l Mathali` fi `Ilmi'l Mantiq lebih dari 14 kali sebelum ngaji dengan penulisnya langsung al-`Allamah al-Quthb al-Razi. Cerita-cerita lain tentang baca bukunya para fuqaha lebih banyak dan lebih heboh lagi. Sebagian fuqaha malah sampai mendapat gelar al-Minhaji karena sedemikian fokus dan intensnya dengan al-Minhaj (Minhaj al-Thalibin-pen), kitab fikih karya al-Imam al-Nawawi. Ada juga yang membaca al-Risalah-nya al-Imam al-Syafii lebih dari 30 kali, hebatnya setiap bacaan selalu memunculkan inspirasi yang belum muncul pada bacaan sebelumnya.

So !!!, mengulang-ulang bacaan itu sangat dibutuhkan mereka yang masih berada di tahap ini. Banyak orang yang diparingi taufiq oleh Allah Swt. kemudian jadi punya gairah untuk belajar tapi belum tahu metode belajar. Sehingga sekedar pindah-pindah buku padahal belum benar-benar mencapai target pemahaman buku itu dan belum juga paham persoalan-persoalannya. Hasilnya adalah pemahaman buku yang tidak komplit dan tidak mantap. Belum lagi bicara soal efektifitas waktu dan usaha, konsentrasi malah buyar kemana-mana.

Makanya para ulama selalu menganjurkan untuk fokus dan intens dengan satu kitab terlebih dahulu ketika masih tahap pemula. Kemudian setelah mantap baru pindah ke kitab lainnya. Pindah ke kitab lain (sekali lagi setelah mantap-pen) dalam sebuah disiplin ilmu bahkan menjadi tuntutan kalau ingin benar-benar mantap keilmuannya.

Akhir kalam, taufiq hanya datang dari Allah 

Matan lengkap: 



NASEHAT ULAMA TENTANG KADERISASI (I)

NASEHAT ULAMA TENTANG KADERISASI (I)


Termasuk didalam hal kewajiban adalah melahirkan generasi baru yang berkaliber dalam mengembangkan amanah yang besar ini (memelihara islam dengan hujjah),dan mereka akan menjadi batu loncatan bagi anak anak kita dan generasi yang seterusnya pada perkara yang tidak mampu kami bangunkan , agar mereka kelak tidak perlu memulai dari hal yang kosong ..

Dr. Sa'idd Fuadah 

Minggu, 22 Maret 2020

ULAMA TARJIH MENYIKAPI VIRUS CORONA

ULAMA TARJIH MENYIKAPI VIRUS CORONA 

Oleh: Aya S. Miza



Jika para ahli sudah menilai bahwa kondisi terkini Indonesia benar-benar darurat virus Corona, maka keperluan untuk menghindari kemungkinan terpapar virus itu harus lebih diutamakan daripada shalat berjama’ah di masjid. Para ulama mengatakan keperluan untuk melakukan sesuatu dalam situasi tidak normal dikualifikasikan sebagai kedaruratan. Al-hajah tanzilu manzilat ad-darurah;

الحاجة تنزل منزلة الضرورة

(Wawan Gunawan Abdul Wahid, Anggota Divisi Fatwa dan Pengembangan Tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)



 Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, langkah antisipatif (syadz al-dzari’ah) terhadap meluasnya epidemi Covid-19, tidak bisa dilakukan secara parsial dan sektoral; menggaungkan rukhsah (keringanan) meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid bagi umat Islam dan berbagai ritual agama lain, namun pada sisi lain pemerintah seolah abai bahkan terkesan membiarkan Tenaga Kerja Asing (TKA) dari negara epidemi Covid-19 tetap masuk ke Indonesia bahkan dengan cara yang ilegal. Ditambah membiarkan acara, tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya yang memungkinkan berkumpulnya banyak orang tetap beroperasi. Padahal dari sinilah potensi penyebaran itu dapat terjadi. Mari tinggalkan cara berfikir parsial dan sektoral demi kemaslahatan bersama. - Ruslan Fariadi



Seorang pasien didiagnosa oleh dokter bahwa aliran darah ke otak nya telah tertutup 80 %. Tinggal menunggu waktu terjadi stroke. Dokter telah memperingati pasien agar menjaga diri tapi sayang pasien tidak peduli dan tidak menjaga diri. Seperti itulah fenomena wabah Covid-19 yang kita hadapi sekarang; para dokter sudah khawatir terjadinya ledakan pasien, sementara masyarakat tidak peduli dan tidak mau menjaga diri.

- dr. Agus Taufiqurrahman (Ketua PP Muhammadiyah)


 Apakah Covid-19 Azab Allah?

Allah Maha Rahman dan Maha Rahim menjadi Rabb Pemelihara Alam Semesta berdasarkan rahma. Ganjaran-Nya yang disebut azab (Arab: ‘adzb berarti segar) dimaksudkan untuk menyegarkan kehidupan.

Jadi Covid-19 ada sekarang untuk menyegarkan kehidupan manusia.

Penyegaran kehidupan dapat dilakukan dengan: kerja untuk memperbaiki karya, konsumsi makanan yang halal dan thayyib, perilaku hidup sehat dan bersih, dan bersyukur atas limpahan anugerah-Nya.

(Hamim Ilyas, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)



Jauhilah teologi Neo-Jabariyah yang menyerukan “Takutlah kepada Allah, bukan takut kepada virus corona”. Pernyataan yang sekilas benar, namun ditujukan untuk suatu kebathilan (qawlu haqqin urida bihi al-bathil). Sebab teologi ini sesat dalam meletakkan dalil dan keliru memahami maknanya secara komprehensif, di samping fragmentatif, dan miskin wawasan realitas serta buta maqashid al-syari’ah. Dalam suasana seperti ini umat hanya punya dua pegangan: Allah dan Rasul-Nya melalui fatwa ulama kredibel, kemudian otoritas negara/pemerintah melalui Gugus Tugas Covid-19, para ahli kebencanaan, para dokter dan ahli kesehatan yang profesional. Saatnya kita mengakui otoritas ilmu wahyu dan sains. - Fathurrahman Kamal 




"Kita Bukanlah Serba Tahu"

Sudah saatnya kita memahami kemarahan Ibnu Mas'ud ra yang tersirat dalam peringatan beliau:
من علم فليقل ، ومن لم يعلم فليقل: الله أعلم فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم لا أعلم
"siapa yang berilmu maka silahkan berbicara dan siapa yang tak punya ilmu, katakanlah : Allahu a'lam (Allah Yang Maha Tahu).
Sesungguhnya bagian dari ilmu adalah seseorang mengatakan tentang sesuatu yang tidak diketahuinya dengan ungkapan "saya tidak tahu".

Belajarlah dari firman Allah swt kepada Nabinya Muhammad saw:
{قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ} [ص : 86]
"Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan". (QS. Shaad 38:86)
(terambil dari riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud ra)




Di tengah wabah Covid-19 ini, mari kita tetap renungi bersama perjalanan Isra Mikraj Nabi. Perjalanan yang membuahkan perintah shalat 5 waktu bagi umat Islam. Perintah shalat yg esensinya sesungguhnya tidak hanya untuk beribadah kepada Allah, tapi juga menebar kedamaian/salam (shalat diakhiri dengan salam yg dalam bahasa Arab berarti kedamaian). Persis pada titik inilah kita harus merefleksikan ibadah shalat kita di tengah wabah Covid-19 ini; sudahkan shalat kita menebar kedamaian bagi yang lain?