Jumat, 22 September 2017

MENJAGA KEDUDUKAN ULAMA DI TENGAH UMAT





MENJAGA KEDUDUKAN ULAMA DI TENGAH UMAT
Oleh: Aya S Miza
(Alumni Pendidikan Kader Ulama Muhammadiyah Sumatera Barat)

            Akhir-akhir ini banyak terjadi pelecehan terhadap Ulama. Pelakunya adalah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari pejabat, politikus, tukang lawak dan orang-orang awam. Mereka semua menunjukan sikap tidak menghormati dan terkesan meremehkan kedudukan mereka. Padahal Ulama adalah pewaris para Nabi dan pelindung Agama dari keburukan. Mereka memiliki kedudukan yang agung dalam Agama Islam. Memuliakan mereka adalah kewajiban dan merupakan bagian dari agama. Sementara memusuhi mereka adalah bentuk pengumuman perang terhadap Allah ta’ala. Sebagaimana dalam sebuah hadits Qudsi, "Barangsiapa yang memusuhi waliku, maka Aku umumkan perang kepadanya" (HR. Bukhari)

Pentingnya Menghormati Ulama

Dewasa ini di era globalisasi adalah hari-hari yang paling menyesakan dada. Bagaimana tidak, keributan, kekisruhan, kekacauan, ketidaknyaman, ketakutan, kekhawatiran, dan kenestapaan ada dimana-mana. Tidak ada lagi rasa aman, nyaman, damai, tenang, dan sentosa. Hidup ini benar-benar terasa berat dan susah jadinya. Tidak ada lagi canda tawa, tak ada pula senyum sapa, dan tak muncul juga muka cerah seindah mentari. Yang ada adalah wajah cemberut dan muram, pikiran stress serta debat dan keluh kesah. Sungguh, kekhawatiran dan kecemasan pun benar-benar menggelayut di setiap jiwa. Bahkan, agama pun kena imbasnya. Ia menjadi terpinggirkan, tersudutkan, dan terbengkalai di pojok hati yang entah kapan akan dilestarikan serta dipraktekan dalam kehidupan nyata.

Kita sudah membuang dan menjauh dari tuntunan dari tuntunan Nabi kita yang mulia. Kita lebih mengedepankan emosi dan perasaan dalam menimbang sebuah perkara daripada petuah Nabi kita tercinta itu. Kita lebih mendahulukan akal dan logika dalam menyelesaikan problematika kehidupan daripada petunjuk Nabi yang agung. Kita lebih senang mempertentangkan ajaran Nabi antara satu dan yang lainya daripada menerima seutuhnya dengan hati yang lapang. Pantaslah jika janji-janjinya itu kemudian tidak terwujudkan sama sekali.
Itulah kesalahan kita. Ternyata kita gemar mempermainkan dan menjauhi agama. Memang Islam itu agama yang membawa kebahagiaan dan kedamainan. Namun, tingkah laku kita yang rusak menjadikan agama tak berguna bagi kehidupan kita. Benar bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah rahmatan lil’alamin. Namun, perilaku kita yang suka menyelisihi ajaranya itu menyebabkan kesusahan dan kesempitan hidup. Semua kerusakan yang terjadi ternyata kita sendirilah penyebabnya.

Jadi, ringkasnya jika kita ingin bahagia dan selamat dalam hidup ini, kita harus menghargai dan menjunjung tinggi Nabi kita dan ajaran-ajaranya. Bukan Cuma itu, sepeninggalnyapun kita juga mesti menghormati dan menghargai orang yang mewarisi dan meneruskan perjuanganya, yang tidak lain adalah para ulama.

Meletakan Ulama Pada Tempatnya.

Sama halnya jika melecehkan para Nabi adalah dosa besar, melecehkan para ulamapun juga berdosa. Jika Nabi adalah orang yang harus dimuliakan di tengah-tengah umat, ulamapun harus diperlakukan sama. Jika menghina Nabi adalah awal sebuah kehancuran, menghina ulamapun demikian. Sebab, ulama adalah pewaris para Nabi. Maka, secara otomatis pun dia juga mewarisi kedudukan dan kemuliaan yang dimiliki Nabi. Hanya saja Ulama tidaklah maksum seperti Nabi.

Karenanya, kita berkewajiban untuk mencintai ulama sebagaimana mencintai Nabi, menaatinya dalam hal ketaatan kepada Allah sebagaimana ketaatan kepada Nabi, dan menjaga harga dirinya sebagaimana menjaga harga diri Nabi. Itulah ajaran Islam yang telah dipraktekan sejak dahulu Salafushaleh. Mereka mendudukan ulamanya di tempat yang terpandang sebagaimana mestinya serta menjadikan rujukan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan urusan umat.

Kemudian, seiring dengan berjalanya waktu berkuranglah ilmu dan para ahli ilmu dari muka bumi ini. Para ulama panutan pun semakin hari semakin sedikit jumlahnya. Bersamaan dengan itu, ternayata manusia juga semakin jauh dari petunjuk salafushaleh. Kini ulama tak lagi dihormati dan dihargai. Seolah-olah dia bukanlah orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama ini. Perkataanya dicerca, pendapatnya dicela, dan fatwanya diabaikan. Bahkan, harga dirinya diinjak-injak dan dihina. Atau jika dihargai, dia ditempatkan tidak sewajarnya. Dia dipuja dan disanjung setinggi-tingginya. Sampai-sampai tidak sedikit yang kemudian berkeyakinan bahwa dia adalah mahkluk yang suci dari salah dan dosa, alias maksum. Bahkan, kemudian dia diyakini mampu mencapai sebuah derajat yang tak mungkin dicapai sekalipun oleh para Nabi dan Rasul serta malaikat. Dia pun akhirnya dijadikan tujuan untuk bertaqlid secara mutlak dan tanpa batas. Allahu Musta’an

Itulah wajah dunia Islam saat ini. Itulah dua potret kehidupan beragama yang berkembang di tengah-tengah umat dewasa ini. Tentunya tak perlu diragukan lagi bahwa bahwa dua hal di atas jelas salah. Sebab, yang pertama adalah perilaku golongan khawarij sesat yang tidak menghormati Ulama sama sekali ; yang kedua adalah tingkah laku sekte Rafidhah kafir yang mengkultuskan Ulama. Jalan pertengahan adalah selalu yang terbaik, sebagaimana para Salafushaleh memperlakukan Ulamanya. Allahu Musta’an.


Selasa, 19 September 2017

MENJAGA KEDUDUKAN ULAMA DI TENGAH UMAT



MENJAGA KEDUDUKAN ULAMA DI TENGAH UMAT
Oleh: Aya S Miza
(Alumni Pendidikan Kader Ulama Muhammadiyah Sumatera Barat)

            Akhir-akhir ini banyak terjadi pelecehan terhadap Ulama. Pelakunya adalah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari pejabat, politikus, tukang lawak dan orang-orang awam. Mereka semua menunjukan sikap tidak menghormati dan terkesan meremehkan kedudukan mereka. Padahal Ulama adalah pewaris para Nabi dan pelindung Agama dari keburukan. Mereka memiliki kedudukan yang agung dalam Agama Islam. Memuliakan mereka adalah kewajiban dan merupakan bagian dari agama. Sementara memusuhi mereka adalah bentuk pengumuman perang terhadap Allah ta’ala. Sebagaimana dalam sebuah hadits Qudsi, "Barangsiapa yang memusuhi waliku, maka Aku umumkan perang kepadanya" (HR. Bukhari)

Pentingnya Menghormati Ulama

Dewasa ini di era globalisasi adalah hari-hari yang paling menyesakan dada. Bagaimana tidak, keributan, kekisruhan, kekecauan, ketidaknyaman, ketakutan, kekhawatiran, dan kenestapaan ada dimana-mana. Tidak ada lagi rasa aman, nyaman, damai, tenang, dan sentosa. Hidup ini benar-benar terasa berat dan susah jadinya. Tidak ada lagi canda tawa, tak ada pula senyum sapa, dan tak muncul juga muka cerah seindah mentari. Yang ada adalah wajah cemberut dan muram, pikiran stress serta debat dan keluh kesah. Sungguh, kekhawatiran dan kecemasan pun benar-benar menggelayut di setiap jiwa. Bahkan, agama pun kena imbasnya. Ia menjadi terpinggirkan, tersudutkan, dan terbengkalai di pojok hati yang entah kapan akan dilestarikan serta dipraktekan dalam kehidupan nyata.

Kita sudah membuang dan menjauh dari tuntunan dari tuntunan Nabi kita yang mulia. Kita lebih mengedepankan emosi dan perasaan dalam menimbang sebuah perkara daripada petuah Nabi kita tercinta itu. Kita lebih mendahulukan akal dan logika dalam menyelesaikan problematika kehidupan daripada petunjuk Nabi yang agung. Kita lebih senang mempertentangkan ajaran Nabi antara satu dan yang lainya daripada menerima seutuhnya dengan hati yang lapang. Pantaslah jika janji-janjinya itu kemudian tidak terwujudkan sama sekali.
Itulah kesalahan kita. Ternyata kita gemar mempermainkan dan menjauhi agama. Memang Islam itu agama yang membawa kebahagiaan dan kedamainan. Namun, tingkah laku kita yang rusak menjadikan agama tak berguna bagi kehidupan kita. Benar bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah rahmatan lil’alamin. Namun, perilaku kita yang suka menyelisihi ajaranya itu menyebabkan kesusahan dan kesempitan hidup. Semua kerusakan yang terjadi ternyata kita sendirilah penyebabnya.

Jadi, ringkasnya jika kita ingin bahagia dan selamat dalam hidup ini, kita harus menghargai dan menjunjung tinggi Nabi kita dan ajaran-ajaranya. Bukan Cuma itu, sepeninggalnyapun kita juga mesti menghormati dan menghargai orang yang mewarisi dan meneruskan perjuanganya, yang tidak lain adalah para ulama.

Sama halnya jika melecehkan para Nabi adalah dosa besar, melecehkan para ulamapun juga berdosa. Jika Nabi adalah orang yang harus dimuliakan di tengah-tengah umat, ulamapun harus diperlakukan sama. Jika menghina Nabi adalah awal sebuah kehancuran, menghina ulamapun demikian. Sebab, ulama adalah pewaris para Nabi. Maka, secara otomatis pun dia juga mewarisi kedudukan dan kemuliaan yang dimiliki Nabi. Hanya saja Ulama tidaklah maksum seperti Nabi.

Karenanya, kita berkewajiban untuk mencintai ulama sebagaimana mencintai Nabi, menaatinya dalam hal ketaatan kepada Allah sebagaimana ketaatan kepada Nabi, dan menjaga harga dirinya sebagaimana menjaga harga diri Nabi. Itulah ajaran Islam yang telah dipraktekan sejak dahulu Salafushaleh. Mereka mendudukan ulamanya di tempat yang terpandang sebagaimana mestinya serta menjadikan rujukan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan urusan umat.

Kemudian, seiring dengan berjalanya waktu berkuranglah ilmu dan para ahli ilmu dari muka bumi ini. Para ulama panutan pun semakin hari semakin sedikit jumlahnya. Bersamaan dengan itu, ternayata manusia juga semakin jauh dari petunjuk salafushaleh. Kini ulama tak lagi dihormati dan dihargai. Seolah-olah dia bukanlah orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama ini. Perkataanya dicerca, pendapatnya dicela, dan fatwanya diabaikan. Bahkan, harga dirinya diinjak-injak dan dihina. Atau jika dihargai, dia ditempatkan tidak sewajarnya. Dia dipuja dan disanjung setinggi-tingginya. Sampai-sampai tidak sedikit yang kemudian berkeyakinan bahwa dia adalah mahkluk yang suci dari salah dan dosa, alias maksum. Bahkan, kemudian dia diyakini mampu mencapai sebuah derajat yang tak mungkin dicapai sekalipun oleh para Nabi dan Rasul serta malaikat. Dia pun akhirnya dijadikan tujuan untuk bertaqlid secara mutlak dan tanpa batas. Allahu Musta’an

Itulah wajah dunia Islam saat ini. Itulah dua potret kehidupan beragama yang berkembang di tengah-tengah umat dewasa ini. Tentunya tak perlu diragukan lagi bahwa bahwa dua hal di atas jelas salah. Sebab, yang pertama adalah perilaku golongan khawarij sesat yang tidak menghormati Ulama sama seklai ; yang kedua adalah tingkah laku sekte Rafidhah kafir yang mengkultuskan Ulama. Halan pertengahan adlah selalu yang terbaik, sebagaimana para Salafushaleh memperlakukan Ualamanya.

ISLAM MENJAGA DAN MERAWAT PERSATUAN BANGSA DAN NEGARA



ISLAM MENJAGA DAN MERAWAT PERSATUAN BANGSA DAN NEGARA
Oleh: Aya S Miza
(Alumni Pendidikan Kader Ulama Muhammadiyah Sumatera Barat)


Islam adalah Agama yang Sempurna

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." (Al Maidah : 3)

Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya : "Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.) sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada penyuluhan." (Tafsir Al Quranul Adzim 3/14. Dar Al Ma'rifat).

Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab Radhiyallahu 'anhu lalu ia berkata : “ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian."... turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya. Maka Umar menjawab : "Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut, ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum'at." (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat ini telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna. Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat melainkan beliau telah menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.

 Islam Adalah Agama Kedamaian

Secara etimologis atau secara lughawi kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh kepada Allah azza wa jalla.  Secara terminologis atau secara istilah, maknawi dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama wahyu yang mengandung ajaran pokok yaitu bementauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wa salam sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh umat manusia, di mana pun dan kapan pun mereka berada, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.  

Ajaran kedamaian islam terdapat dalam Al-Quran sebagai pokok ajaran Islam. Dalam sejarah, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam tidak selalu melaksanakan perang jika masih ada pilihan lain untuk menyebarkan agama Islam. Kedamaian, keadilan dan toleransi adalah hal yang ditekankan dalam Islam agar manusia semakin baik di dunia. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan atau perang untuk memaksakan suatu keyakinan. Perang/Qital baru dilaksanakan apabila tidak ada pilihan lain dalam berdakwah dan hal itu semata-mata dilakukan untuk menjaga Agama Allah Subhanahu wa ta’ala tegak di muka bumi ini. Namun bukan berarti islam membenarkan seluruh agama. Sebab hanya Islam agama yang diridhai Allah di muka bumi ini. Allah berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi“ (QS. Al Imran: 85 )

Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار
Tidaklah seseorang dari umat ini baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim)
Namun dalam hal ini islam menyerahkan seluruh keyakinan dan pilihan pada manusia itu sendiri-sendiri. Dan Allah tidak pernah memaksa hamba-Nya. Masing-masing hamba tersebut akan mendapatkan balasan sesuai dengan pilihan dan keyakinan yang dianutnya secara sendiri-sendiri. Oleh karena itulah para Ulama telah menyusun dalam banyak karanganya mana aqidah yang shahih/benar dan mana aqidah yang fasid/rusak/

Menjaga dan Merawat Persatuan Bangsa Adalah Kewajiban  Setiap Muslim

Diantara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat kemerdekaan. Setelah berabad-abad masanya bangsa kita dijajah oleh bangsa asing. Setelah bersusah payah leluhur/nenek moyang kita untuk berjuang memperoleh kemerdekaan maka menjaga dan merawatnya merupakan sebuah kewajiban bagi kita bersama. Karena tidak mungkin kita bisa menjalankan agama ini dengan secara kaafah/sempurna apabila kita masih terkukung oleh penjajahan. Imam Syathibi menjelaskan dalam kitabnya Al-Muwafaqath bahwa agama ini turun untuk menjaga lima hal yang meliputi (1) Hifdz ad-din, menjaga agama; (2) Hifdz an-nafs, memelihara jiwa; (3) Hifdz al-'aql, memelihara akal; (4) Hifdz an-nasab, memelihara keturunan; dan (5) Hifdz al-maal, memelihara harta. Maka menjaga dan merawat persatuan bangsa juga termasuk dari maqashid syari’ah.

Semuanya tidak akan bisa terjaga dengan baik apabila kita tidak timbul kesadaran dalam diri kita masing-masing untuk menjaga dan merawat bangsa ini. Satu hal yang telah kita maklumi bersama bahwa Islam datang untuk mewujudkan segala kemaslahatan dan merawatnya. Menghilangkan segala kemudharatan dan mengantisipasi kemunculanya. Hal ini merupakan karakteristik Agama Islam yang penuh dengan kesempurnaan. Hal ini terdapat di dalam banyak ayat diantaranya QS. Al-Baqarah: 103:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara. dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi juga telah ditekankan dalam banyak tempat dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah firman-Nya,

  وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Selasa, 05 September 2017

Untuk Sebuah Kebangkitan

Sekarang aku sudah mulai merasa terbantu karena sudah mulai dipercaya oleh Buya Prof. Dr. Yunahar Ilyas,Lc,M.Ag dan Dr. Buya Risman Muchtar,M.A. Ibarat sayap saya bagaikan sudah mempunyai dua sayap untuk terbang tinggi di angkasa. Saya sangat tersanjung dan  merasa beruntung sekali meskipun saya belum tahu apa yang akan saya kerjakan nanti. Yang jelas saya akan berjuang dengan ikhlash dan sungguh-sungguh untuk memajukan persyarikatan. Berjuang untuk sebuah perbaikan. Perbaikan untuk diri sendiri, persyarikatan dan umat pada umumnya. Semoga Allah meridhoi. Amin.

Sabtu, 02 September 2017

CITA-CITA SEORANG KADER MUHAMMADIYAH

Saya ingin sekali menjadi pakar ketarjihan di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, saya ingin sekali mensosialisasikan fatwa-fatwa tarjih ke cabang-cabang,daerah-daerah Muhammadiyah Sumatera Barat. Saya ingin sekali mengadakan pengajian-pengajian/halaqah-halaqah tarjih di Muhammadiyah Sumatera Barat. Akan tetapi untuk mewujudkan cita-cita saya ini tidaklah gampang. Banyak tantangan yang harus saya hadapi baik internal maupun eksternal. Bagaimana cara untuk menguasai Manhaj Tarjih Muhammadiyah itu?  Apa yang harus saya lakukan ? Sementara Majelis Tarjih dan Tajdid Wilayah tidak bergerak.  Apakah saya harus belajar otodidak sambil terus berdo’a saja ? Saya sangat ingin pergi ke PP untuk belajar dan mengikuti mudzakarah tarjih tingkat nasional. Saya memohon kepada Allah agar memudahkan langkah saya dan menjadikan saya ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sumbar agar saya bisa memajukan Muhammadiyah di Sumbar. Amin